Penulis : Redaksi

Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak pemerintah segera memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk melindungi kesehatan anak-anak di wilayah terdampak. Asap karhutla yang mengandung polutan PM2,5 dinilai berbahaya bagi kesehatan anak, termasuk berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan dampak paparan asap karhutla terhadap anak tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, tenaga medis di sejumlah kawasan terdampak masih menghadapi kasus gangguan pernapasan yang berkaitan dengan kondisi tersebut.

Piprim menegaskan bahwa penanganan medis dan penggunaan masker hanya menjadi langkah sementara. Solusi utama yang harus dilakukan adalah menghentikan sumber pencemaran melalui pemadaman karhutla secepat mungkin.

“Dampak penanganan atau pengobatan akibat karhutla terhadap kesehatan atau aspek lain itu luar biasa. Saya kira kalau ditanya apa solusi terbaik ya pemadaman secepat cepatnya,” kata Piprim dalam webinar pada Selasa (3/11).

Ia juga menyarankan pemerintah untuk membuka kerja sama dengan negara-negara tetangga atau mencari bantuan internasional apabila menghadapi keterbatasan dalam menangani kebakaran.

“Penggunaan masker itu bukan solusi utama tapi sementara. Solusinya ya pemadaman sesegera mungkin. Kalau tidak mampu ya cari bantuan dari luar,” imbuhnya.

Sementara itu, dokter spesialis anak subspesialis respirologi-konsultan, Khairiyadi, mengungkapkan adanya peningkatan kasus gangguan pernapasan anak sejak karhutla terjadi.

Berdasarkan data di RSUD Ulin, tempat Khairiyadi bertugas, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan seiring meluasnya kawasan terdampak kebakaran.

Pada Juli 2026, tercatat sebanyak 157 kasus ISPA dengan luas kawasan terdampak karhutla mencapai 459,68 hektare. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 4.926 kasus pada 14 Oktober 2026, ketika luas lahan terdampak mencapai 27.202,97 hektare.

Peningkatan tersebut menjadi perhatian tenaga medis karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan asap. Khairiyadi mengaku kerap menerima keluhan orang tua pasien yang kesulitan melindungi anak dari gangguan pernapasan selama karhutla berlangsung.

Menurutnya, penggunaan masker tidak selalu menjadi solusi yang mudah diterapkan, terutama bagi anak berusia di bawah dua tahun yang sulit mengenakannya secara rutin.

Khairiyadi menggambarkan kebingungan orang tua yang mencari cara agar anak mereka tidak kembali mengalami gangguan pernapasan.

“Dok, gimana supaya anak saya tidak mengi lagi?” kenang Khairiyadi.

“Ya ngungsi. Ngungsi ke mana?”

Ia menjelaskan bahwa berpindah tempat tinggal juga tidak selalu menyelesaikan persoalan karena wilayah lain masih berpotensi terdampak asap karhutla.

Karena itu, Khairiyadi mengusulkan penyediaan rumah aman bagi penderita gangguan pernapasan yang tidak memungkinkan untuk meninggalkan kawasan terdampak.

Rumah aman tersebut diharapkan memiliki ventilasi yang memadai serta fasilitas oksigen bagi pasien yang membutuhkan. Usulan ini juga diharapkan dapat menjadi bahan advokasi kepada pemerintah agar perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, mendapat perhatian selama karhutla berlangsung.