JAKARTA – Fenomena El Nino yang terjadi pada 2026 menyebabkan sejumlah wilayah di Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan kekeringan. Kondisi tersebut turut berdampak pada penyusutan permukaan air di sejumlah waduk dan bendungan.
Menurunnya permukaan air membuat beberapa kawasan yang sebelumnya tenggelam kembali terlihat. Sisa-sisa permukiman, jalan, bangunan, hingga makam yang selama bertahun-tahun berada di bawah air mulai muncul ke permukaan.
Fenomena ini menjadi perhatian karena memperlihatkan kembali kawasan yang dahulu menjadi tempat tinggal masyarakat sebelum digenangi untuk pembangunan waduk.
Setidaknya terdapat tiga lokasi di Indonesia yang kembali memperlihatkan sisa-sisa kawasan lama akibat penyusutan permukaan air pada 2026.
1. Kampung Somang, Banten
Penyusutan permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, membuat sisa-sisa permukiman yang sebelumnya tergenang kembali terlihat.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Kampung Somang. Wilayah tersebut dulunya merupakan kawasan permukiman warga yang kemudian ditinggalkan untuk pembangunan dan penggenangan waduk.
Warga mulai meninggalkan Kampung Somang sejak 2023 seiring proses penggenangan Bendungan Karian. Meski demikian, sejumlah bangunan di kawasan tersebut tidak dihancurkan secara keseluruhan.
Ketika permukaan air menyusut, sisa bangunan dan kawasan permukiman lama kembali terlihat. Pemandangan tersebut memperlihatkan jejak kehidupan masyarakat sebelum wilayah itu menjadi bagian dari bendungan.
2. Permukiman Lama di Waduk Jatigede, Sumedang
Waduk Jatigede terletak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sebelum pembangunan waduk, kawasan tersebut merupakan wilayah permukiman masyarakat yang tersebar di sejumlah desa.
Pembangunan waduk membuat masyarakat harus meninggalkan tempat tinggalnya. Penggenangan Waduk Jatigede mulai dilakukan pada 31 Agustus 2015.
Sejak saat itu, sejumlah permukiman, jalan, dan lahan yang sebelumnya digunakan masyarakat berada di bawah permukaan air waduk.
Pada 5 September 2026, sisa-sisa kawasan permukiman lama kembali terlihat setelah permukaan air menyusut. Penurunan air membuat garis tepian waduk mundur sekitar 300 meter.
Kondisi tersebut memperlihatkan kembali jalan beraspal, lahan, serta reruntuhan bangunan yang sebelumnya terendam. Kemunculan kawasan lama ini menjadi pengingat akan wilayah yang pernah menjadi tempat tinggal masyarakat sebelum pembangunan waduk.
3. Makam Lama di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri
Waduk Gajah Mungkur berada di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelum dibangun, kawasan tersebut merupakan permukiman yang mencakup 51 desa di tujuh kecamatan.
Pembangunan waduk pada 1976–1980 membuat penduduk harus meninggalkan tempat tinggalnya. Sebagian masyarakat mengikuti program transmigrasi atau bedol desa.
Pada 9 September 2026, puluhan makam lama di Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, kembali terlihat setelah permukaan air waduk menyusut.
Makam-makam tersebut sebenarnya kerap muncul ketika musim kemarau dan kembali terendam saat musim hujan. Namun, pada 2026, kemunculannya baru terlihat pada September, lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kemunculan makam tersebut memperlihatkan kembali jejak permukiman lama yang telah berada di bawah genangan Waduk Gajah Mungkur selama puluhan tahun.
Kekeringan Membuka Kembali Jejak Permukiman Lama
Munculnya kembali kampung, bangunan, jalan, dan makam di sejumlah waduk menunjukkan bagaimana perubahan permukaan air dapat memperlihatkan kawasan yang sebelumnya tersembunyi.
Fenomena tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan bendungan dan waduk membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat di wilayah yang terdampak penggenangan.
Meski demikian, kemunculan kawasan lama tidak selalu berarti seluruh wilayah waduk mengalami kekeringan. Kondisi permukaan air dapat berbeda-beda bergantung pada curah hujan, pasokan air, dan pengelolaan waduk.
Masyarakat di sekitar wilayah terdampak diimbau tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan mengikuti informasi resmi mengenai ketersediaan air serta pengelolaan waduk.
