Jakarta — Rekaman amatir warga memperlihatkan sejumlah ledakan keras mengguncang Pulau Qeshm, Iran, pada Selasa (3/11). Dalam video tersebut, terlihat kilatan cahaya terang di langit yang disertai suara dentuman keras.
Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan sejumlah ledakan terdengar di Pulau Qeshm pada malam hari. Peristiwa tersebut terjadi di tengah laporan operasi militer terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah target di wilayah Iran.
Mengutip laporan Reuters, Rabu (4/11), sejumlah pejabat AS mengonfirmasi bahwa militer Amerika Serikat telah melancarkan serangan terbatas terhadap target di Pulau Qeshm. Operasi tersebut disebut sebagai tindakan defensif untuk melindungi aset militer AS di kawasan Selat Hormuz.
Ledakan Terdengar di Pulau Qeshm
Menurut laporan Al Jazeera, ledakan terdengar secara beruntun di Pulau Qeshm pada Senin malam waktu setempat. Sejumlah saksi mata yang dikutip IRNA juga mengaku melihat dua pesawat melintas di atas pulau tersebut.
Tidak hanya di Qeshm, kantor berita semi-resmi Fars turut melaporkan suara ledakan di kota pelabuhan Bandar Lengeh. Ledakan tersebut disebut berasal dari arah laut.
Pulau Qeshm merupakan wilayah strategis Iran yang berada di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum terdapat keterangan lengkap mengenai jumlah korban maupun kerusakan akibat ledakan.
AS Sebut Operasi Militer sebagai Tindakan Defensif
Di tengah laporan ledakan tersebut, sejumlah pejabat Amerika Serikat menyebut militernya telah melakukan serangan terbatas terhadap target Iran di kawasan Selat Hormuz.
Seorang pejabat AS mengatakan operasi tersebut merupakan tindakan defensif untuk menghadapi ancaman dari pasukan Iran yang menggunakan rudal permukaan-ke-udara terhadap aset Amerika Serikat.
Laporan CNN juga menyebut serangan tersebut berkaitan dengan insiden penembakan terhadap pesawat AS oleh pihak Iran. Namun, operasi itu disebut tidak menandakan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar terhadap Iran.
Pihak Pentagon mengarahkan pertanyaan mengenai operasi tersebut kepada Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Namun, CENTCOM belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dilaporkan sejumlah media.
Perkembangan ini menambah ketegangan di kawasan Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur strategis perdagangan dan pengiriman minyak dunia.
