Penulis : Redaksi

Jakarta —

Menonton film horor menjadi salah satu hiburan yang digemari banyak orang. Meski menghadirkan adegan menegangkan dan menyeramkan, genre ini tetap memiliki penggemar setia. Bahkan, menjelang Halloween, berbagai film horor kembali bermunculan dan menarik perhatian penonton.

Menariknya, kegemaran menonton film horor ternyata kerap dikaitkan dengan sejumlah karakteristik kepribadian. Mulai dari kecenderungan mencari sensasi hingga kemampuan menghadapi rasa takut dan kecemasan.

Mengutip Verywell Mind dan Your Tango, ada beberapa karakteristik yang dikaitkan dengan orang-orang yang menyukai film horor. Meski demikian, karakteristik tersebut tidak berarti berlaku untuk semua penggemar genre ini.

Berikut lima karakteristik yang kerap dikaitkan dengan orang yang suka menonton film horor.

1. Senang Mencari Sensasi

Orang yang menyukai film horor sering dikaitkan dengan sifat sensation seeking atau kecenderungan mencari sensasi.

Mengutip Verywell Mind, sejumlah penelitian telah menghubungkan kebiasaan menonton film horor dengan karakteristik tersebut. Orang dengan kecenderungan ini biasanya menyukai pengalaman baru, berisiko, dan penuh intensitas.

Mereka juga cenderung merasakan emosi positif ketika menghadapi pengalaman yang memberikan rangsangan kuat. Bahkan, pengalaman yang secara umum dianggap negatif sekalipun dapat memberikan sensasi tersendiri bagi mereka.

Hal inilah yang membuat suasana menegangkan, kejutan, hingga adegan menyeramkan dalam film horor justru terasa menarik bagi sebagian penonton.

2. Memiliki Empati yang Rendah

Karakteristik lainnya yang terkadang dikaitkan dengan penggemar film horor adalah tingkat empati yang lebih rendah.

Orang dengan empati rendah disebut dapat menikmati film horor karena tidak terlalu terpengaruh oleh penderitaan yang dialami karakter dalam cerita.

Namun, hal ini tidak berarti semua orang yang menyukai film horor memiliki empati rendah.

Empati terhadap karakter fiksi tidak selalu sama dengan empati terhadap manusia sungguhan. Seseorang mungkin menikmati adegan menegangkan dalam film tanpa kehilangan kepedulian terhadap penderitaan orang lain di kehidupan nyata.

3. Memiliki Tingkat Stres yang Rendah

Menonton film horor juga dapat menjadi salah satu cara seseorang menghadapi situasi yang memicu ketakutan.

Menurut Your Tango, pengalaman menonton film horor dapat menyerupai bentuk terapi paparan. Melalui adegan-adegan yang menimbulkan rasa tidak nyaman, seseorang berkesempatan mengembangkan strategi emosional dan perilaku untuk menghadapi ketakutan.

Setelah ketegangan dalam film berakhir, penonton dapat merasakan kelegaan. Otak juga dikaitkan dengan pelepasan sejumlah zat kimia, seperti dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin, yang berhubungan dengan perasaan senang dan nyaman.

Pengalaman tersebut dapat membuat sebagian orang menikmati sensasi perubahan emosi selama menonton film horor, mulai dari ketegangan hingga rasa lega setelah cerita berakhir.

4. Mampu Mengatasi Rasa Takut dan Cemas

Kegemaran menonton film horor juga dikaitkan dengan kemampuan menghadapi rasa takut dan kecemasan.

Penelitian Mathias Clasen dari Universitas Aarhus, Denmark, yang diterbitkan dalam Review of General Psychology pada 2012, membahas bagaimana film horor dapat melatih pikiran penonton dalam berbagai cara.

Melalui pengalaman menyaksikan situasi menakutkan dalam lingkungan yang terkendali, penonton dapat mempelajari strategi untuk mengelola rasa takut dan kecemasan.

Strategi tersebut berpotensi diterapkan ketika menghadapi situasi tertentu dalam kehidupan nyata.

Penonton juga memahami bahwa peristiwa menyeramkan yang mereka saksikan merupakan bagian dari cerita fiksi. Kesadaran ini memungkinkan mereka menikmati ketegangan tanpa benar-benar berada dalam bahaya.

Pengalaman tersebut dikaitkan dengan pengembangan ketahanan mental, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan memecahkan masalah ketika menghadapi tantangan.

5. Lebih Mudah Memproses Trauma dan Duka

Karakteristik terakhir yang dikaitkan dengan penggemar film horor adalah kemampuan mengeksplorasi perasaan takut, kecemasan, dan pengalaman emosional yang sulit.

Orang yang menyukai genre ini dapat mengalami proses desensitisasi, yaitu berkurangnya respons emosional terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap menakutkan setelah berulang kali terpapar.

Ketika menyaksikan karakter protagonis yang menghadapi trauma atau kesedihan, sebagian penonton mungkin merasa memiliki pengalaman emosional yang serupa.

Keterhubungan tersebut dapat membantu mereka memahami berbagai cara menghadapi trauma pribadi. Cerita dalam film juga dapat memberikan rasa lega sekaligus menjadi bentuk pelarian sementara dari persoalan sehari-hari.

Meski begitu, pengalaman setiap penonton tentu berbeda. Menyukai film horor tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki trauma atau kemampuan tertentu dalam mengatasi masalah emosional.

Itulah lima karakteristik yang kerap dikaitkan dengan orang yang gemar menonton film horor. Mulai dari senang mencari sensasi, kemampuan menghadapi ketakutan, hingga ketertarikan mengeksplorasi emosi melalui cerita fiksi.

Lantas, apakah kamu termasuk orang yang suka menonton film horor?