Penulis : Redaksi

JAKARTA – Pangeran Harry mengungkapkan keinginannya untuk berdamai dengan kakaknya, Pangeran William, setelah hubungan keduanya merenggang selama bertahun-tahun. Harry menilai rekonsiliasi keluarga merupakan hal penting dan berharap konflik yang terjadi dapat diselesaikan.

Keinginan tersebut disampaikan Harry dalam wawancara dengan majalah GQ yang dirilis pada Selasa (20/10/2026). Dalam wawancara itu, ia mengakui bahwa tidak semua pihak mungkin menginginkan hubungan mereka kembali membaik.

Harry memandang perselisihan dalam keluarga sebagai sesuatu yang dapat terjadi pada siapa pun. Menurutnya, cara anggota keluarga menghadapi konflik dan berupaya memperbaiki hubungan bisa menjadi pelajaran bagi orang lain yang mengalami masalah serupa.

“Orang mungkin melihat kami dan bertanya-tanya, ‘Bagaimana kalian akan menyelesaikannya?’ Dan mungkin, dengan melihat bagaimana kami berupaya menyelesaikannya, mereka bisa terbantu dalam mencari jalan keluar untuk masalah mereka sendiri,” kata Harry.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya secara pribadi ingin hubungan keluarga tersebut membaik.

“Tapi ada juga orang yang justru tidak menginginkan masalah itu selesai. Namun, saya pribadi ingin semuanya membaik. Tentu saja saya menginginkannya,” ujarnya.

“Terlepas dari segala hal lain yang sedang terjadi di dunia, yang terpenting adalah melakukan rekonsiliasi. Itulah poin utamanya,” lanjut Harry.

Baca Juga: Jakarta — Ruben Onsu dan Sarwendah kini menghadapi sejumlah masalah hukum satu dengan yang lain setelah resmi bercerai. Berawal dari isu hak asuh anak, keduanya juga berhadapan dengan dugaan wanprestasi hingga masalah lainnya. Mantan suami istri tersebut saling lapor dan gugat satu dengan yang lain dalam beberapa bulan terakhir. Pertikaian mantan pasangan suami istri itu meledak pertengahan 2026, bermula dari masalah pelaksanaan perjanjian pascacerai mereka yang dikenal sebagai Akta 39. Berikut update terbaru kasus-kasus Ruben Onsu dan Sarwendah. Kasus hak asuh anak Kasus hak asuh anak ini diajukan Ruben Onsu kepada Sarwendah pada 30 Juni 2026 di PN Jakarta Selatan. Ruben mengajukan gugatan tersebut bermula dari masalah pembagian waktu pengasuhan kedua anak mereka, dugaan bahwa anak-anak berada dalam lingkungan yang tidak aman, hingga dugaan eksploitasi anak. Kini, kasus tersebut memasuki tahap pembuktian awal. Teranyar, Ruben telah menyerahkan total 61 bukti pada persidangan Rabu (21/10). Agenda sidang gugatan hak asuh anak tersebut akan kembali digelar pada 28 Oktober 2026 dengan agenda kubu Sarwendah membawa bukti untuk mempertahankan hak asuh. Kasus dugaan wanprestasi Pada 28 September 2026, Sarwendah menggugat Ruben Onsu ke PN Jakarta Selatan atas dugaan wanprestasi terkait komitmen pascaperceraian yang tertuang dalam Akta Notaris Nomor 39. Jaenudin selaku pengacara Sarwendah mengatakan pokok gugatan berkaitan dengan pembayaran cicilan dua rumah di kawasan BDN dan Rempoa yang masih menjadi agunan bank. Sarwendah menilai pelaksanaan kesepakatan dalam akta tersebut tidak sesuai dengan yang disepakati kedua pihak. Karena itu, gugatan diajukan untuk memperoleh kejelasan mengenai kewajiban pembayaran cicilan kedua aset tersebut. Dalam upaya penyelesaian perkara, Sarwendah juga mengusulkan vila milik Ruben sebagai pengganti pembayaran cicilan kredit rumah yang dipermasalahkan dalam gugatan. Per Selasa (20/10), perkara tersebut masih menjalani agenda mediasi. Hakim mediator memberikan waktu dua pekan kepada kubu Ruben untuk mempelajari resume perdamaian yang diajukan Sarwendah sebelum menentukan sikap dalam sidang mediasi berikutnya. Dugaan pencemaran nama baik Di tengah perkara hukum keduanya yang bergulir di PN Jakarta Selatan. Ruben dan Sarwendah turut membuat laporan kepolisian terkait dugaan pencemaran nama baik. Ruben melaporkan tiga perkara ke Polda Metro Jaya pada 11 Oktober 2026, yang dua di antaranya menyeret nama Sarwendah. Laporan itu dibuat setelah Sarwendah mengunggah rekaman video call dirinya dengan seorang pria di media sosial pada Sabtu (10/10). Pertama, Ruben melaporkan alamat email [email protected] terkait dugaan akses ilegal data pribadi anaknya, Betrand Peto. Kemudian, ia melaporkan dugaan pencemaran nama baik atas penyebaran rekaman video call tersebut. Kemudian pada Kamis (22/10), Pablo Benua selaku pengacara Sarwendah mengonfirmasi kliennya telah melaporkan 46 akun media sosial ke kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah. Deret laporan mantan pasangan suami istri tersebut tengah diproses oleh pihak kepolisian. Hingga kini belum diketahui sosok pasti yang dilaporkan oleh Ruben maupun Sarwendah. (van/chri)

Pangeran Harry Ajak Keluarga Melepaskan Masa Lalu

Dalam wawancara tersebut, Harry juga berbicara mengenai pentingnya melepaskan masa lalu untuk memperbaiki hubungan yang retak. Ia mengakui bahwa luka akibat konflik bisa bertahan lama, tetapi cara seseorang menyikapi pengalaman tersebut dapat memengaruhi proses pemulihan hubungan.

“Luka mungkin akan membekas selamanya. Namun, bagaimana cara Anda memandang dan menyikapi peristiwa-peristiwa yang telah terjadi—dengan melepaskan masa lalu—adalah sesuatu yang saya sarankan untuk dilakukan oleh siapa pun,” kata Harry.

Ia menyadari bahwa melupakan atau menerima pengalaman menyakitkan tidak selalu mudah, terutama ketika dampaknya masih terasa dalam kehidupan sehari-hari.

“Memang, jika ada hal-hal tertentu dari masa lalu yang masih terus memengaruhi Anda setiap hari, melepaskannya akan terasa jauh lebih sulit,” ujarnya.

Harry menilai konflik yang terus dipelihara hanya akan menambah beban di tengah berbagai persoalan lain yang dihadapi masyarakat.

“Namun, menurut saya, sudah ada cukup banyak drama di dunia ini maupun dalam kehidupan orang-orang, sehingga tidak perlu lagi menambah beban dengan terus memelihara konflik dalam keluarga,” kata Pangeran Harry.

Hubungan Harry dan William Merenggang Sejak Lama

Hubungan Harry dengan William serta kakak iparnya, Catherine, Putri Wales yang dikenal sebagai Kate Middleton, telah menjadi sorotan publik selama bertahun-tahun.

Ketegangan hubungan Harry dengan keluarga kerajaan Inggris semakin terbuka setelah ia menyampaikan berbagai kritik dan pengungkapan dalam memoarnya, Spare, yang diterbitkan pada 2023.

Sebelumnya, Harry juga membahas persoalan internal keluarga kerajaan dalam wawancara bersama Oprah Winfrey pada 2021 dan serial dokumenter Netflix bersama istrinya, Meghan Markle, pada 2022.

Dalam Spare, Harry mengungkap sejumlah perselisihan dengan William. Ia, antara lain, menuduh kakaknya pernah membantingnya ke lantai ketika keduanya bertengkar pada 2019 terkait Meghan. Harry juga menulis tentang ketegangan antara Meghan dan sejumlah anggota keluarga kerajaan.

Harry turut mengungkap persoalan terkait kostum Nazi yang dikenakannya saat menghadiri sebuah pesta pada 2005. Dalam memoarnya, ia menyebut William dan Catherine memberikan dorongan terkait pilihan kostum tersebut.

Pengungkapan-pengungkapan itu memperluas perhatian publik terhadap keretakan hubungan keluarga kerajaan. Namun, keinginan Harry untuk berdamai yang disampaikan dalam wawancara terbaru tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa rekonsiliasi telah tercapai.

Hingga informasi dalam wawancara tersebut, belum ada keterangan yang memastikan bagaimana William menanggapi pernyataan terbaru adiknya.