Penulis : Redaksi

JAKARTA – Keluarga mendiang aktor Matthew Perry menyimpan perasaan haru sekaligus getir ketika menyaksikan karakter Chandler Bing menikah dengan Monica Geller dalam serial populer Friends. Di balik adegan bahagia tersebut, keluarga mengetahui bahwa Perry memiliki keinginan besar untuk membangun keluarga sendiri di tengah perjuangannya melawan kecanduan.

Hal itu diungkapkan oleh adik Perry, Mia Perry Bowick, dalam wawancara dengan majalah People yang terbit pada Rabu (21/10). Menurut Mia, keluarganya menyadari bahwa sang aktor mendambakan kehidupan bersama pasangan dan anak-anak.

“Saat menyaksikan pernikahan itu, kami semua tahu bahwa dia sebenarnya menginginkan hal tersebut dalam hidupnya. Dia mendambakan pasangan dan anak-anak,” ujar Mia.

Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi Perry ketika itu menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga, terutama karena perjuangannya menghadapi kecanduan.

“Kami semua sadar betapa seriusnya gangguan yang ia alami, sehingga muncul kekhawatiran, ‘Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti?’” lanjutnya.

Adegan Pernikahan Chandler dan Monica Penuh Makna

Adegan pernikahan Chandler Bing, karakter yang diperankan Matthew Perry, dengan Monica Geller yang dimainkan Courteney Cox menjadi salah satu momen penting dalam serial Friends. Pernikahan tersebut ditampilkan pada episode terakhir musim ketujuh yang tayang pada Mei 2001.

Bagi penonton, adegan itu merupakan bagian dari kisah romantis kedua karakter. Namun, bagi keluarga Perry, momen tersebut juga mengingatkan mereka pada keinginan pribadi sang aktor untuk memiliki pasangan dan anak.

Dalam memoarnya yang berjudul Friends, Lovers, and the Big Terrible Thing (2022), Perry pernah mengisahkan perjuangannya melawan kecanduan selama menjalani syuting serial tersebut.

Ia menulis bahwa dirinya dibawa ke pusat rehabilitasi setelah menjalani adegan pernikahan Chandler dan Monica.

“Saya dibawa menggunakan mobil pikap yang dikemudikan oleh seorang teknisi pendamping pemulihan,” tulis Perry dalam memoarnya.

Baca Juga: Jakarta — Ruben Onsu dan Sarwendah kini menghadapi sejumlah masalah hukum satu dengan yang lain setelah resmi bercerai. Berawal dari isu hak asuh anak, keduanya juga berhadapan dengan dugaan wanprestasi hingga masalah lainnya. Mantan suami istri tersebut saling lapor dan gugat satu dengan yang lain dalam beberapa bulan terakhir. Pertikaian mantan pasangan suami istri itu meledak pertengahan 2026, bermula dari masalah pelaksanaan perjanjian pascacerai mereka yang dikenal sebagai Akta 39. Berikut update terbaru kasus-kasus Ruben Onsu dan Sarwendah. Kasus hak asuh anak Kasus hak asuh anak ini diajukan Ruben Onsu kepada Sarwendah pada 30 Juni 2026 di PN Jakarta Selatan. Ruben mengajukan gugatan tersebut bermula dari masalah pembagian waktu pengasuhan kedua anak mereka, dugaan bahwa anak-anak berada dalam lingkungan yang tidak aman, hingga dugaan eksploitasi anak. Kini, kasus tersebut memasuki tahap pembuktian awal. Teranyar, Ruben telah menyerahkan total 61 bukti pada persidangan Rabu (21/10). Agenda sidang gugatan hak asuh anak tersebut akan kembali digelar pada 28 Oktober 2026 dengan agenda kubu Sarwendah membawa bukti untuk mempertahankan hak asuh. Kasus dugaan wanprestasi Pada 28 September 2026, Sarwendah menggugat Ruben Onsu ke PN Jakarta Selatan atas dugaan wanprestasi terkait komitmen pascaperceraian yang tertuang dalam Akta Notaris Nomor 39. Jaenudin selaku pengacara Sarwendah mengatakan pokok gugatan berkaitan dengan pembayaran cicilan dua rumah di kawasan BDN dan Rempoa yang masih menjadi agunan bank. Sarwendah menilai pelaksanaan kesepakatan dalam akta tersebut tidak sesuai dengan yang disepakati kedua pihak. Karena itu, gugatan diajukan untuk memperoleh kejelasan mengenai kewajiban pembayaran cicilan kedua aset tersebut. Dalam upaya penyelesaian perkara, Sarwendah juga mengusulkan vila milik Ruben sebagai pengganti pembayaran cicilan kredit rumah yang dipermasalahkan dalam gugatan. Per Selasa (20/10), perkara tersebut masih menjalani agenda mediasi. Hakim mediator memberikan waktu dua pekan kepada kubu Ruben untuk mempelajari resume perdamaian yang diajukan Sarwendah sebelum menentukan sikap dalam sidang mediasi berikutnya. Dugaan pencemaran nama baik Di tengah perkara hukum keduanya yang bergulir di PN Jakarta Selatan. Ruben dan Sarwendah turut membuat laporan kepolisian terkait dugaan pencemaran nama baik. Ruben melaporkan tiga perkara ke Polda Metro Jaya pada 11 Oktober 2026, yang dua di antaranya menyeret nama Sarwendah. Laporan itu dibuat setelah Sarwendah mengunggah rekaman video call dirinya dengan seorang pria di media sosial pada Sabtu (10/10). Pertama, Ruben melaporkan alamat email [email protected] terkait dugaan akses ilegal data pribadi anaknya, Betrand Peto. Kemudian, ia melaporkan dugaan pencemaran nama baik atas penyebaran rekaman video call tersebut. Kemudian pada Kamis (22/10), Pablo Benua selaku pengacara Sarwendah mengonfirmasi kliennya telah melaporkan 46 akun media sosial ke kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah. Deret laporan mantan pasangan suami istri tersebut tengah diproses oleh pihak kepolisian. Hingga kini belum diketahui sosok pasti yang dilaporkan oleh Ruben maupun Sarwendah. (van/chri)

Matthew Perry Ceritakan Perjuangan Melawan Kecanduan

Dalam memoarnya, Perry juga menjelaskan bagaimana perubahan penampilan fisiknya berkaitan dengan kondisi yang dialaminya selama bertahun-tahun.

“Saat berat badan saya bertambah, itu karena alkohol; saat saya sangat kurus, itu karena pil. Jika saya tampil dengan jenggot tipis, berarti saya mengonsumsi banyak pil,” tulisnya.

Perry turut mengungkapkan bahwa menjelang akhir musim ketiga Friends, ia berupaya mendapatkan hingga 55 butir Vicodin setiap hari. Ia mengatakan akan merasa sangat sakit jika tidak mendapatkannya.

Pengakuan tersebut menjadi bagian dari kisah terbuka Perry mengenai kecanduan dan dampaknya terhadap kehidupan pribadi maupun kariernya. Meski dikenal luas melalui peran komedinya, Perry juga pernah membagikan pengalaman sulit yang ia hadapi selama berada di puncak popularitas.

Kisah Matthew Perry Diangkat dalam Dokumenter Netflix

Kisah kehidupan dan perjuangan Matthew Perry kembali menjadi sorotan melalui serial dokumenter The One About Matthew Perry yang dijadwalkan tayang di Netflix pada 27 Oktober 2026.

Dokumenter tersebut terdiri dari tiga episode dan menghadirkan komentar dari Mia Perry Bowick serta sejumlah teman lama Perry. Penayangannya berlangsung menjelang peringatan tiga tahun kematian sang aktor pada 28 Oktober.

Serial ini disutradarai Mary Robertson, yang sebelumnya menggarap Quiet on Set: The Dark Side of Kids TV. Robertson juga menjadi produser eksekutif melalui Maxine Productions, di bawah naungan Sony Pictures Television.

Jajaran produser eksekutif lainnya mencakup Lisa Kalikow, Eli Holzman, dan Aaron Saidman. Sementara itu, Lora Moftah bertugas sebagai ko-produser eksekutif dan Jessica Call sebagai produser.

Robertson menyebut Perry sebagai salah satu sosok penting dalam dunia komedi yang meninggalkan kesan mendalam bagi banyak penonton.

“Matthew Perry adalah salah satu jenius komedi di masa kita,” kata Robertson.

Ia menilai peran Perry dalam film, televisi, panggung, serta karakter Chandler Bing telah membuat banyak orang tertawa dan merasa terhubung.

Menurut Robertson, keterbukaan Perry mengenai kecanduan juga memberikan arti bagi banyak orang. Namun, ia menilai masih ada sisi kehidupan sang aktor yang belum sepenuhnya diketahui publik.

Melalui dokumenter tersebut, tim produksi ingin menghadirkan kisah Matthew Perry dari sudut pandang orang-orang yang mengenal dan menyayanginya, sehingga penonton dapat melihat sosok di balik figur publik yang selama ini mereka kenal.