Penulis : Redaksi

JAKARTA – Sutradara Na Hong-jin menandai comeback ke layar lebar dengan pencapaian impresif. Film terbarunya, Hope, berhasil menembus 1 juta penonton hanya dalam waktu tiga hari sejak tayang perdana pada 15 Juli 2026.

Distributor Plus M Entertainment mengonfirmasi bahwa Hope melampaui angka 1 juta penonton pada Jumat (17/7) siang.

Berdasarkan laporan Korea JoongAng Daily, capaian tersebut menjadikan Hope sebagai film Korea rilisan 2026 yang paling cepat mencapai 1 juta penonton.

Rekor itu tercipta satu hari lebih cepat dibandingkan Colony, film zombi garapan sutradara Yeon Sang-ho yang membutuhkan empat hari untuk mencapai angka serupa.

Hope juga mengungguli The King’s Warden yang dibintangi Yoo Hae-jin dan Park Ji-hoon. Film tersebut memerlukan lima hari untuk menembus 1 juta penonton.

Sejak hari pertama penayangan pada Rabu (15/7), film bergenre science fiction thriller itu langsung menarik sekitar 333.000 penonton.

Angka tersebut sekaligus memecahkan rekor pembukaan tertinggi film Korea pada 2026 yang sebelumnya dipegang Colony dengan 199.000 penonton pada hari pertama.

Bagi Na Hong-jin, pencapaian itu juga menjadi rekor opening day tertinggi sepanjang karier penyutradaraannya.

Hope berhasil melampaui tiga film sebelumnya, yakni The Chaser (2008) dengan 110.000 penonton pada hari pertama, The Yellow Sea (2010) dengan 120.000 penonton, serta The Wailing (2016) yang mencatat 310.000 penonton pada hari pembukaannya.

Sinopsis Film Hope

Hope mengisahkan pertempuran menegangkan antara makhluk misterius dengan penduduk sebuah desa terpencil yang berada di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ).

Film berskala besar tersebut mempertemukan sejumlah aktor ternama Korea Selatan, seperti Hwang Jung-min, Zo In-sung, dan Jung Ho-yeon, bersama jajaran bintang Hollywood, yakni Michael Fassbender, Alicia Vikander, dan Taylor Russell.

Ketegangan semakin meningkat ketika seluruh bantuan dialihkan untuk memadamkan kebakaran hutan besar, sementara jalur komunikasi menuju desa terputus total.

Kepala pos polisi Bum-seok (Hwang Jung-min) bersama petugas Sung-ae (Jung Ho-yeon) berusaha melindungi desa yang mayoritas dihuni warga lanjut usia.

Baca Juga: Jakarta — Ruben Onsu dan Sarwendah kini menghadapi sejumlah masalah hukum satu dengan yang lain setelah resmi bercerai. Berawal dari isu hak asuh anak, keduanya juga berhadapan dengan dugaan wanprestasi hingga masalah lainnya. Mantan suami istri tersebut saling lapor dan gugat satu dengan yang lain dalam beberapa bulan terakhir. Pertikaian mantan pasangan suami istri itu meledak pertengahan 2026, bermula dari masalah pelaksanaan perjanjian pascacerai mereka yang dikenal sebagai Akta 39. Berikut update terbaru kasus-kasus Ruben Onsu dan Sarwendah. Kasus hak asuh anak Kasus hak asuh anak ini diajukan Ruben Onsu kepada Sarwendah pada 30 Juni 2026 di PN Jakarta Selatan. Ruben mengajukan gugatan tersebut bermula dari masalah pembagian waktu pengasuhan kedua anak mereka, dugaan bahwa anak-anak berada dalam lingkungan yang tidak aman, hingga dugaan eksploitasi anak. Kini, kasus tersebut memasuki tahap pembuktian awal. Teranyar, Ruben telah menyerahkan total 61 bukti pada persidangan Rabu (21/10). Agenda sidang gugatan hak asuh anak tersebut akan kembali digelar pada 28 Oktober 2026 dengan agenda kubu Sarwendah membawa bukti untuk mempertahankan hak asuh. Kasus dugaan wanprestasi Pada 28 September 2026, Sarwendah menggugat Ruben Onsu ke PN Jakarta Selatan atas dugaan wanprestasi terkait komitmen pascaperceraian yang tertuang dalam Akta Notaris Nomor 39. Jaenudin selaku pengacara Sarwendah mengatakan pokok gugatan berkaitan dengan pembayaran cicilan dua rumah di kawasan BDN dan Rempoa yang masih menjadi agunan bank. Sarwendah menilai pelaksanaan kesepakatan dalam akta tersebut tidak sesuai dengan yang disepakati kedua pihak. Karena itu, gugatan diajukan untuk memperoleh kejelasan mengenai kewajiban pembayaran cicilan kedua aset tersebut. Dalam upaya penyelesaian perkara, Sarwendah juga mengusulkan vila milik Ruben sebagai pengganti pembayaran cicilan kredit rumah yang dipermasalahkan dalam gugatan. Per Selasa (20/10), perkara tersebut masih menjalani agenda mediasi. Hakim mediator memberikan waktu dua pekan kepada kubu Ruben untuk mempelajari resume perdamaian yang diajukan Sarwendah sebelum menentukan sikap dalam sidang mediasi berikutnya. Dugaan pencemaran nama baik Di tengah perkara hukum keduanya yang bergulir di PN Jakarta Selatan. Ruben dan Sarwendah turut membuat laporan kepolisian terkait dugaan pencemaran nama baik. Ruben melaporkan tiga perkara ke Polda Metro Jaya pada 11 Oktober 2026, yang dua di antaranya menyeret nama Sarwendah. Laporan itu dibuat setelah Sarwendah mengunggah rekaman video call dirinya dengan seorang pria di media sosial pada Sabtu (10/10). Pertama, Ruben melaporkan alamat email [email protected] terkait dugaan akses ilegal data pribadi anaknya, Betrand Peto. Kemudian, ia melaporkan dugaan pencemaran nama baik atas penyebaran rekaman video call tersebut. Kemudian pada Kamis (22/10), Pablo Benua selaku pengacara Sarwendah mengonfirmasi kliennya telah melaporkan 46 akun media sosial ke kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah. Deret laporan mantan pasangan suami istri tersebut tengah diproses oleh pihak kepolisian. Hingga kini belum diketahui sosok pasti yang dilaporkan oleh Ruben maupun Sarwendah. (van/chri)

Di sisi lain, Sung-ki (Zo In-sung) dan sekelompok warga yang berniat memburu makhluk misterius justru berubah menjadi pihak yang diburu.

Konflik yang bermula dari kepanikan perlahan berkembang menjadi tragedi yang mengerikan.

Bong Joon-ho dan Lee Chang-dong Beri Pujian

Kualitas sinematik Hope mendapat apresiasi dari sejumlah sineas ternama Korea Selatan.

Sutradara peraih Piala Oscar Bong Joon-ho mengaku terkesan dengan pengalaman menonton film tersebut.

“Pikiran pertama saya adalah, ‘Apa sebenarnya yang baru saja saya tonton?’ Setelah rasa tegang dan syok sinematik ini mereda, saya memiliki begitu banyak pertanyaan. Ini adalah petualangan sinematik yang mencengangkan,” puji Bong Joon-ho.

Ia juga memuji keberanian kreatif Na Hong-jin.

“Di mana lagi kita bisa melihat film seperti ini? Ini adalah film yang meledak dengan keberanian dan kegilaan.”

Apresiasi serupa datang dari sutradara senior Lee Chang-dong yang menilai Hope berhasil mendorong berbagai aspek sinematik melampaui batas.

“Film Hope berhasil mendorong setiap elemen sinematik melampaui batasnya-mulai dari ketegangan, suspense, dampak emosional, hingga temponya. Secara harfiah, ini adalah film yang luar biasa gila,” beber Lee Chang-dong.

Hingga kini, belum ada informasi mengenai jadwal penayangan Hope di bioskop Indonesia.