Oleh: Garuda Sirait
Persoalan perilaku berisiko di kalangan remaja tidak lagi cukup dilihat sebagai sekadar masalah kedisiplinan atau “kenakalan anak”.
Di tengah perubahan sosial dan teknologi yang bergerak cepat, remaja tumbuh dalam lingkungan yang semakin kompleks. Mereka menghadapi pengaruh keluarga, sekolah, teman sebaya, media sosial, serta arus informasi yang nyaris tanpa batas.
Bentuk perilaku berisiko itu beragam, mulai dari membolos, merokok, perundungan, tawuran, perkelahian, penyalahgunaan narkotika hingga berbagai persoalan di ruang digital.
Tidak semuanya berujung pada persoalan hukum. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, sebagian perilaku tersebut dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Remaja memang harus bertanggung jawab atas pilihannya. Tetapi, menurut saya, tanggung jawab itu tidak seharusnya dibebankan kepada mereka seorang diri.
Remaja berada pada fase pencarian identitas. Mereka ingin diterima, didengar, diakui, sekaligus memiliki ruang untuk mencoba berbagai hal. Pada saat yang sama, kemampuan mengendalikan emosi, memperhitungkan risiko, dan mengambil keputusan belum selalu berkembang secara matang.
Karena itu, ketika seorang remaja melakukan kesalahan, pertanyaan yang muncul seharusnya bukan hanya, “Apa yang salah dengan anak ini?”
Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “Apa yang terjadi di lingkungan yang ikut membentuk pilihan dan perilakunya?”
Menurut saya, di sinilah cara pandang kita perlu diperluas.
Kita terlalu mudah memberi label “anak nakal”, seolah-olah masalah berhenti pada diri seorang remaja. Padahal, perilaku seseorang tidak lahir di ruang kosong.
Ada keluarga. Ada sekolah. Ada teman sebaya. Ada masyarakat. Ada budaya. Dan sekarang ada ruang digital yang setiap hari ikut membentuk cara anak melihat dirinya, orang lain, bahkan dunia di sekitarnya.
Jika kita hanya menghukum perilakunya tanpa memahami lingkungan yang membentuknya, kita mungkin berhasil menghentikan satu masalah, tetapi belum tentu menyelesaikan akar persoalannya.
Pergaulan Dapat Membentuk Arah
Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan remaja.
Keinginan untuk diterima kelompok terkadang membuat seorang remaja mengikuti kebiasaan teman, bahkan ketika ia sebenarnya mengetahui bahwa pilihan tersebut memiliki risiko.
Data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan besarnya persoalan kekerasan yang dialami anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memperkirakan sekitar 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Dalam 12 bulan terakhir, angkanya mencapai sekitar 33,64 persen.
Dalam kasus kekerasan emosional, teman sebaya tercatat sebagai kelompok pelaku dengan persentase tertinggi. Pada responden laki-laki angkanya mencapai 83,44 persen, sedangkan pada responden perempuan 85,08 persen.
Angka tersebut tentu tidak berarti bahwa teman sebaya adalah sumber semua persoalan remaja. Tetapi data itu cukup untuk menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil.
Karena itu, menurut saya, membangun lingkungan pertemanan yang sehat jauh lebih penting daripada sekadar melarang seorang remaja berteman dengan kelompok tertentu.
Remaja perlu dibekali kemampuan untuk mengenali tekanan kelompok, mengambil keputusan, dan mengatakan tidak ketika sebuah pergaulan mulai mendorongnya ke arah yang merugikan.
Sebab, pengawasan tidak mungkin dilakukan selama 24 jam. Yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan dalam diri remaja untuk mengambil keputusan ketika tidak ada orang dewasa yang melihat.
Keluarga Tidak Cukup Hanya Mengawasi
Persoalan remaja juga tidak dapat dilepaskan dari keluarga.
Remaja yang merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau terlalu sering dihakimi dapat mencari ruang lain untuk mendapatkan penerimaan.
Di sinilah komunikasi keluarga menjadi penting.
Orang tua memang perlu membuat aturan dan batasan. Namun, menurut saya, rumah seharusnya tidak hanya menjadi tempat seorang anak menerima perintah, tetapi juga tempat ia merasa aman untuk berbicara ketika menghadapi masalah.
Aturan tetap diperlukan. Pengawasan juga penting.
Tetapi jika hubungan hanya dibangun melalui larangan dan hukuman, anak mungkin belajar untuk menyembunyikan masalah, bukan menyelesaikannya.
Orang tua tidak harus selalu memiliki jawaban. Yang lebih penting adalah hadir ketika anak membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Kepercayaan, komunikasi, dan keterlibatan orang tua bukan berarti membiarkan remaja bebas tanpa batas. Justru sebaliknya, pendampingan yang baik membantu remaja memahami alasan di balik sebuah aturan dan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Dunia Digital: Ruang Belajar Sekaligus Ruang Risiko
Generasi hari ini tumbuh bersama internet.
Media sosial bukan lagi sekadar tempat berkomunikasi. Ia telah menjadi ruang untuk belajar, mencari hiburan, membangun pertemanan, menunjukkan identitas, bahkan mencari peluang ekonomi.
Teknologi memberikan manfaat besar. Tetapi pada saat yang sama, ruang digital membawa risiko berupa perundungan siber, konten yang tidak sesuai usia, tekanan sosial, penipuan, hingga eksploitasi daring.
Persoalan tersebut bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan remaja di daerah.
Peristiwa tawuran maut yang baru-baru ini terjadi di kawasan WTC Jambi menjadi pengingat keras bahwa pengaruh media sosial dapat bersinggungan langsung dengan perilaku berisiko di dunia nyata. Dalam peristiwa tersebut, satu remaja dilaporkan tewas dan 13 orang diamankan polisi. Pemicunya disebut berkaitan dengan tantangan yang beredar melalui media sosial.
Kasus tersebut tentu tidak boleh digeneralisasi sebagai gambaran seluruh perilaku remaja. Namun, peristiwa itu menunjukkan bagaimana sebuah tantangan atau ajakan di ruang digital dapat berujung pada konsekuensi yang sangat nyata ketika bertemu dengan tekanan kelompok, keberanian yang keliru, dan keputusan yang tidak diperhitungkan risikonya.
Di sinilah literasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan media sosial. Remaja juga perlu memahami bahwa ajakan, tantangan, unggahan, maupun percakapan di dunia maya dapat membawa konsekuensi di dunia nyata.
Kajian UNICEF tentang pengetahuan dan kebiasaan daring anak di Indonesia menunjukkan bahwa 42 persen anak pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman di internet. Sementara itu, hanya 37,5 persen yang pernah menerima informasi mengenai cara menjaga keamanan saat berada di ruang digital.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis berarti kemampuan melindungi diri di dunia digital.
Menurut saya, inilah salah satu tantangan terbesar generasi sekarang.
Kita sering sibuk mengajarkan anak cara menggunakan teknologi, tetapi belum selalu memberikan bekal yang sama kuat tentang kapan harus berhenti, apa yang tidak boleh dibagikan, siapa yang tidak boleh dipercaya, dan bagaimana menghadapi tekanan di ruang digital.
Literasi digital karena itu tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi.
Remaja perlu belajar berpikir sebelum mengunggah sesuatu, menjaga privasi, memilah informasi, memahami jejak digital, mengenali manipulasi, dan berani menolak konten maupun perilaku yang berpotensi merugikan.
Teknologi seharusnya memperluas kesempatan anak untuk belajar dan berkembang, bukan menjadi ruang yang perlahan mengambil alih kendali atas dirinya.
Hukuman Bukan Satu-Satunya Jawaban
Ketika terjadi perilaku menyimpang, respons pertama yang sering muncul adalah hukuman.
Dalam kondisi tertentu, tindakan tegas tentu diperlukan. Remaja harus memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Tetapi menurut saya, kita perlu membedakan antara memberikan konsekuensi dan sekadar menghukum.
Konsekuensi seharusnya membantu seorang remaja memahami kesalahannya. Hukuman yang hanya bertujuan membuat jera belum tentu membuat seseorang memahami mengapa perilakunya salah atau bagaimana memperbaikinya.
Data Pusiknas Bareskrim Polri menunjukkan bahwa sejak 1 Januari hingga 20 Februari 2025 terdapat 437 anak sebagai terlapor kasus pencurian, 460 anak dalam kasus penganiayaan dan pengeroyokan, 349 anak dalam kasus narkoba, serta tujuh anak dalam perkara perkelahian pelajar dan mahasiswa.
Angka tersebut harus dibaca secara hati-hati. Status terlapor tidak sama dengan terbukti bersalah dan data tersebut juga tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menggambarkan tingkat “kenakalan remaja” di Indonesia.
Namun, data itu tetap memberi pesan yang perlu diperhatikan: sebagian anak sudah bersentuhan dengan persoalan hukum.
Maka, penegakan aturan dan pembinaan seharusnya tidak dipertentangkan.
Konseling, pendidikan karakter, pembinaan disiplin, kegiatan ekstrakurikuler, pendampingan keluarga, dan komunikasi antara sekolah dengan orang tua dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Tujuannya bukan membenarkan kesalahan.
Tujuannya adalah memastikan bahwa satu kesalahan tidak berubah menjadi identitas seorang anak.
Narkotika Harus Dicegah Sejak Dini
Penyalahgunaan narkotika merupakan persoalan serius yang membutuhkan pencegahan sejak dini.
Survei Nasional Prevalensi Penyalahgunaan Narkotika 2025 yang dilakukan BNN bersama BRIN dan BPS mencatat prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 2,11 persen pada penduduk usia 15–64 tahun, atau sekitar 4,15 juta orang. Angka tersebut meningkat dari 1,73 persen pada 2023.
Angka tersebut tidak boleh disebut sebagai tingkat penyalahgunaan narkotika pada remaja karena cakupan surveinya adalah penduduk usia 15–64 tahun.
BNN juga menyebut prevalensi pada kelompok usia 15–24 tahun meningkat dari 1,81 persen menjadi 2,53 persen.
Data ini menunjukkan mengapa pencegahan tidak seharusnya menunggu sampai seorang anak terlibat.
Edukasi mengenai narkotika harus dimulai sebelum rasa ingin tahu berubah menjadi keputusan yang berisiko.
Dan pencegahan tidak cukup dilakukan melalui slogan “jauhi narkoba”.
Remaja perlu memahami risiko, memiliki lingkungan pergaulan yang sehat, mempunyai ruang untuk berkembang, serta memiliki orang dewasa yang dapat dipercaya ketika mereka menghadapi tekanan atau persoalan.
Remaja Membutuhkan Ruang untuk Berkembang
Remaja memiliki energi, kreativitas, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk diakui.
Pertanyaannya bukan hanya bagaimana membatasi semua itu, tetapi ke mana energi tersebut diarahkan.
Jika ruang yang sehat tidak tersedia, remaja akan mencari ruangnya sendiri.
Di sinilah keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang tidak kecil.
Remaja membutuhkan pilihan.
Olahraga, seni, organisasi, komunitas, kegiatan sosial, kewirausahaan maupun kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang untuk menyalurkan energi sekaligus menemukan potensi.
Di sana mereka belajar bekerja sama, bertanggung jawab, menghadapi kegagalan, dan menghargai proses.
Menurut saya, kita terlalu sering mengatakan kepada remaja apa yang tidak boleh mereka lakukan.
Padahal, kita juga harus menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan.
Remaja tidak hanya membutuhkan larangan.
Mereka membutuhkan alasan untuk memilih sesuatu yang lebih baik.
Budaya sebagai Akar, Bukan Penghalang
Di tengah perubahan zaman, budaya dan kearifan lokal dapat menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter.
Indonesia memiliki kekayaan tradisi, bahasa, adat, dan nilai kehidupan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.
Kesopanan, gotong royong, kebersamaan, tanggung jawab, penghormatan terhadap orang lain, dan kepedulian terhadap sesama masih relevan di tengah perubahan zaman.
Namun, mengenalkan budaya tidak berarti memaksa remaja hidup seperti masa lalu.
Budaya seharusnya menjadi akar, bukan penghalang untuk tumbuh.
Remaja tetap perlu terbuka terhadap teknologi, perubahan sosial, dan perkembangan global. Tetapi keterbukaan itu sebaiknya tidak membuat mereka kehilangan pijakan.
Menurut saya, menjadi modern bukan berarti meninggalkan identitas.
Justru generasi yang kuat adalah generasi yang mampu mengambil manfaat dari perubahan tanpa kehilangan nilai yang menjadi pijakannya.
Nilai Agama sebagai Kompas Moral
Selain budaya, nilai agama dan kepercayaan juga dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter remaja.
Pendidikan agama idealnya tidak berhenti pada pengetahuan mengenai ajaran, tetapi tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Kejujuran, kasih sayang, pengendalian diri, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang relevan dalam kehidupan sosial.
Pendekatan ini tentu perlu menghormati keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia.
Nilai agama seharusnya bukan sekadar alat untuk menilai apakah seorang anak “baik” atau “buruk”.
Yang lebih penting adalah bagaimana nilai tersebut membantu seorang remaja membangun pengendalian diri, memahami konsekuensi tindakannya, menghormati orang lain, dan memiliki pegangan ketika menghadapi pilihan sulit.
Jangan Hanya Mengawasi, Dampingi
Pada akhirnya, persoalan perilaku remaja bukan semata-mata persoalan remaja.
Ada keluarga yang mungkin membutuhkan penguatan dalam pola pengasuhan. Ada lingkungan yang belum selalu sehat. Ada sekolah yang perlu terus memperkuat pembinaan. Ada ruang digital yang sulit dikendalikan.
Dan ada masyarakat yang terkadang lebih cepat menghakimi daripada memahami.
Laporan KPAI mencatat 2.057 pengaduan sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif menjadi kelompok kasus terbesar dengan 1.097 kasus.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perlindungan anak memiliki banyak dimensi.
Karena itu, membangun karakter remaja tidak bisa dibebankan kepada remaja itu sendiri.
Orang tua perlu hadir.
Sekolah perlu menjadi ruang yang aman untuk belajar dan tumbuh.
Masyarakat perlu menyediakan lingkungan yang sehat.
Pemerintah perlu memperkuat kebijakan, pendidikan, layanan perlindungan, serta fasilitas pembinaan.
Sementara itu, remaja tetap perlu diberi ruang untuk belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
Ada keseimbangan yang perlu dijaga di sini: jangan membenarkan kesalahan remaja, tetapi jangan pula menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menghapus kesempatan mereka memperbaiki diri.
Remaja tidak semestinya hanya dicap sebagai “anak nakal” ketika melakukan kesalahan.
Mereka sedang belajar menjadi dewasa.
Dan orang dewasa di sekitar mereka memiliki peran dalam memastikan proses belajar itu tidak berubah menjadi jalan menuju persoalan yang lebih besar.
Mencegah perilaku berisiko pada remaja bukan sekadar menghentikan sesuatu yang dianggap salah.
Yang lebih penting adalah membangun lingkungan yang membuat pilihan yang baik menjadi mungkin.
Sebab, membimbing remaja bukan hanya tentang mencegah mereka melakukan kesalahan.
Ini tentang membantu mereka mengenal diri, menemukan potensi, memiliki nilai yang kuat, dan tumbuh menjadi generasi yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.
