Penulis : Redaksi

Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian menjadi produk inovatif. Dalam dua tahun penguatan program Academia, Business, and Government (ABG), BPOM telah menerbitkan 25 Nomor Izin Edar (NIE) bagi produk hasil hilirisasi inovasi perguruan tinggi.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, kolaborasi tersebut bertujuan menjembatani hasil riset akademisi agar tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi juga berkembang menjadi produk yang aman, bermutu, memiliki nilai ekonomi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurut Taruna, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas, sumber daya manusia unggul, serta ribuan hasil penelitian dari berbagai perguruan tinggi. Namun, potensi tersebut membutuhkan ekosistem hilirisasi yang kuat agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing global.

Ia menilai salah satu tantangan inovasi nasional adalah kesenjangan antara hasil penelitian, kesiapan industri, kebutuhan pasar, pembiayaan, dan pemenuhan persyaratan regulasi.

“Perguruan tinggi memiliki kekuatan riset dan inovasi, dunia usaha mempunyai kemampuan investasi serta produksi, sementara pemerintah hadir memastikan kebijakan dan regulasi mampu mendukung percepatan hilirisasi tanpa mengabaikan keamanan, khasiat, manfaat, dan mutu produk,” ujar Taruna Ikrar dalam acara Gebyar ACB di Tangerang, Kamis (5/11).

Taruna menjelaskan, BPOM kini tidak hanya terlibat pada tahap akhir penerbitan izin edar. Lembaga tersebut juga memberikan pendampingan sejak perencanaan riset, pengembangan produk, pengujian, kesiapan fasilitas produksi, hingga pemenuhan persyaratan registrasi.

Pendekatan ini merupakan bagian dari transformasi BPOM sebagai regulatory enabler. Artinya, regulator tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga memfasilitasi inovasi dan pertumbuhan industri nasional dengan tetap mengutamakan perlindungan kesehatan masyarakat.

BPOM Dorong Hilirisasi Melalui Program BRIDGE

Untuk mempercepat pengembangan inovasi berbasis sumber daya alam Indonesia, BPOM menjalankan program BRIDGE atau Bersinergi Dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar.

Melalui program tersebut, BPOM telah menjaring 24 penelitian yang melibatkan 18 lembaga penelitian. Hasil penelitian tersebut didorong menuju proses hilirisasi menjadi produk obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan.

Program BRIDGE juga menjadi sarana mempertemukan inovator dari perguruan tinggi dengan mitra industri, investor, serta jaringan pemasaran. Dengan demikian, hasil penelitian memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan menjadi produk yang dapat memasuki pasar nasional maupun internasional.

Selain itu, BPOM telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 190 perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia.

Kemitraan tersebut diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, meningkatkan kualitas riset, mendorong transfer teknologi, memperluas literasi keamanan obat dan makanan, serta mendukung pengawasan hingga ke pelosok negeri.

“BPOM tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar inovasi yang lahir dari perguruan tinggi mampu berkembang menjadi kekuatan industri nasional dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Taruna.

Kolaborasi ABG Dukung Asta Cita Pemerintah

Taruna Ikrar menyampaikan bahwa penguatan kolaborasi ABG merupakan bagian dari kontribusi BPOM dalam mendukung dua tahun pelaksanaan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Pada Asta Cita kedua, BPOM berkontribusi memperkuat kemandirian bangsa dalam sektor obat dan pangan. Sementara itu, melalui Asta Cita ketiga, BPOM mendorong kewirausahaan, pertumbuhan industri kreatif, peningkatan produktivitas, serta perluasan akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pada Asta Cita keempat dan kelima, peran BPOM diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, pengembangan sains dan teknologi, serta percepatan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Adapun dukungan terhadap Asta Cita keenam diwujudkan melalui program Desa Pangan Aman, penguatan usaha lokal, serta pendampingan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) agar mampu berkembang dengan tetap memenuhi standar keamanan dan mutu.

BPOM Perkuat Transformasi Digital Layanan

Selain kolaborasi riset dan industri, Taruna juga menekankan pentingnya transformasi digital layanan BPOM untuk menciptakan sistem regulasi yang lebih cepat, transparan, terintegrasi, dan berbasis risiko.

Menurutnya, percepatan pelayanan harus berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan sebelum dan selama produk beredar. Upaya tersebut mencakup ketertelusuran produk, pemantauan efek samping, pengawasan digital, serta penindakan terhadap pelanggaran.

Dengan pendekatan tersebut, kemudahan berusaha diharapkan tetap sejalan dengan tanggung jawab negara dalam melindungi masyarakat dari produk obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan.

Taruna optimistis penguatan sinergi ABG dapat menjadi salah satu fondasi dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Besar harapan kami kolaborasi ABG dapat terus menghasilkan inovasi yang bermanfaat nyata, meningkatkan daya saing produk Indonesia, memperkuat kemandirian nasional, dan menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkas Taruna.