Penulis : Redaksi

Bungo – Teater Bhavana mempertanyakan arah pemajuan kebudayaan di Kabupaten Bungo, Jambi. Kelompok teater tersebut menilai pemajuan kebudayaan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial pemerintah, tetapi harus mendorong komunitas seni memproduksi karya, membangun penonton, menciptakan pasar, dan bertahan secara mandiri.

Pandangan itu disampaikan produser Teater Bhavana, Ikhwan Fadhil, setelah kelompoknya mementaskan Domba-Domba Revolusi pada 28–30 Agustus 2026 di aula MAN 1 Bungo.

Ikhwan mengatakan, pertanyaan mengenai arah kebudayaan Bungo seharusnya tidak langsung diarahkan pada ke mana kebudayaan akan dibawa. Menurut dia, pemerintah dan pelaku seni perlu lebih dahulu melihat apa yang sudah tumbuh di tengah masyarakat.

“Kebudayaan kita enggak usah dibawa ke mana-mana. Yang dekat aja dulu. Yang dekat aja belum kelihatan,” ucap Ikhwan kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).

Pernyataan itu disampaikan setelah sekitar sebulan sebelumnya para seniman di Bungo diajak memikirkan arah pemajuan kebudayaan daerah. Dialog tersebut berlangsung seiring pergantian pejabat di bidang kebudayaan yang membuka ruang komunikasi dengan para pelaku seni.

Bagi Ikhwan, pemajuan kebudayaan tidak semestinya berhenti pada banyaknya acara yang diselenggarakan pemerintah atau seberapa sering seniman dilibatkan dalam agenda daerah.

“Kalau kita ngomongin pemajuan kebudayaan, bukan cuma sekadar seremonial,” ujarnya.

Teater Bhavana mencoba menunjukkan bentuk lain melalui produksi pertunjukan yang mereka jalankan secara mandiri. Selama sekitar tiga tahun, kelompok tersebut tidak hanya mengisi agenda pemerintah, tetapi juga memproduksi pertunjukan sendiri, menjual tiket, mencari ruang pertunjukan, dan membangun penonton.

Bhavana memang beberapa kali tampil dalam agenda pemerintah, seperti Bungo Expo, peringatan hari jadi daerah, dan festival yang membawa nama Bungo.

Namun, menurut Ikhwan, tampil dalam agenda pemerintah berbeda dengan memproduksi karya secara mandiri.

Kegiatan pemerintah, kata dia, dapat menjadi ruang bagi seniman untuk tampil. Namun, pemajuan kebudayaan seharusnya juga membuat komunitas memiliki kemampuan untuk bergerak tanpa selalu menunggu anggaran pemerintah.

“Bagaimana komunitas itu punya arah financial freedom yang bisa mereka olah sendiri, bukan hanya menunggu anggaran dari pemerintah baru jalan,” katanya.

Upaya tersebut dijalankan Bhavana dengan berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah persoalan ruang pertunjukan. Domba-Domba Revolusi dipentaskan di aula MAN 1 Bungo karena kelompok tersebut belum memiliki gedung pertunjukan sendiri.

Aula yang berada di bawah Kementerian Agama itu setidaknya memiliki panggung yang dinilai cukup representatif untuk pertunjukan drama. Bagi Bhavana, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk menghentikan produksi.

Meski demikian, keberadaan ruang pertunjukan tetap dianggap penting untuk membangun ekosistem kesenian di Bungo. Ikhwan mengatakan pihaknya pernah mendapat informasi bahwa Dinas Kebudayaan telah mengajukan proposal pembangunan gedung pertunjukan kepada Bupati Bungo.

Namun, hingga kini, ia belum mengetahui kelanjutan proposal tersebut.

“Kami sih dapat kabar proposal dari Dinas udah naik ke Bupati, belum tahu mau dibawa ke mana. Ya kami juga tidak memikirkannya sih, itu bukan urusan kami,” jawabnya.

Ikhwan menegaskan, dorongan terhadap pemerintah bukan berarti meminta perhatian hanya untuk Teater Bhavana.

Justru, menurut dia, semakin banyak komunitas seni yang mampu memproduksi pertunjukan akan semakin baik bagi perkembangan kesenian di Bungo.

Ia menilai ekosistem seni tidak akan tumbuh jika hanya satu kelompok yang aktif membuat pertunjukan. Masyarakat membutuhkan pilihan agar semakin banyak bentuk karya yang dapat mereka kenal dan nikmati.

“Kesimpulannya bukan seberapa banyak penonton Bhavana, tapi seberapa banyak orang yang sudah menonton teater,” ujarnya.

Menurut Ikhwan, ukuran keberhasilan pemajuan teater bukan hanya jumlah penonton dalam satu pertunjukan. Hal yang lebih penting adalah bertambahnya masyarakat yang mengenal teater dan memiliki pengalaman menikmati pertunjukan.

Ia mengibaratkannya seperti sebuah toko yang hanya menyediakan satu merek. Jika hanya ada satu pilihan, masyarakat tidak memiliki banyak alternatif. Begitu pula dengan teater. Semakin banyak kelompok yang memproduksi pertunjukan, semakin besar kesempatan masyarakat mengenal beragam karya.

Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya mengundang komunitas seni untuk mengisi acara. Pemerintah juga perlu mendorong komunitas membuat produksi sendiri, membangun pasar, dan mengembangkan penonton.

Persoalan penonton tersebut berkaitan pula dengan keterlibatan generasi muda. Dramaturg Teater Bhavana, Fadhil Dirgananda, mengatakan persoalan kebudayaan tidak cukup diukur dari jumlah pertunjukan atau penonton.

Menurut dia, yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat mengetahui, mengenal, dan terlibat dalam kesenian.

“Generasi muda sekarang sudah tidak peduli tentang kesenian sama kebudayaan,” kata Fadhil.

Namun, kondisi yang mereka temui saat pementasan Domba-Domba Revolusi justru memberikan gambaran berbeda. Dari perkiraan Bhavana, sekitar 75 persen penonton pertunjukan tersebut merupakan remaja. Sebanyak 15 persen berasal dari kalangan seniman dan 10 persen lainnya masyarakat umum.

Bagi Fadhil, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan generasi muda dan kesenian tidak sesederhana anggapan bahwa anak muda tidak tertarik pada kebudayaan.

Menurut dia, persoalannya juga terletak pada minimnya ruang yang memungkinkan masyarakat mengenal dan mengalami kesenian secara langsung.

Fadhil menilai seni selama ini lebih sering muncul ketika ada acara. Padahal, kesenian membutuhkan ruang yang lebih berkelanjutan agar masyarakat dapat mengenal, mengalami, sekaligus mempelajarinya.

“Ruang-ruang yang disediakan itu memang tidak ada,” jawabnya.

Kondisi tersebut, kata Fadhil, pada akhirnya bukan hanya persoalan jumlah penonton. Keberlangsungan komunitas seni juga dipertaruhkan ketika ruang berkesenian tidak tersedia.

“Kami ingin membangun satu buah ekosistem yang baru,” bebernya.

Ekosistem baru yang dimaksud bukan menghapus kebudayaan yang sudah ada. Tantangannya adalah menyesuaikan kesenian dengan perubahan zaman tanpa membuatnya kehilangan tempat di tengah masyarakat.

Salah satu upaya yang disiapkan Bhavana adalah memanfaatkan teknologi digital. Setelah pementasan Domba-Domba Revolusi, kelompok tersebut berencana merekam pertunjukan secara utuh dan mendistribusikannya melalui platform digital mereka sendiri.

Rekaman itu nantinya dapat dikembangkan dengan sistem berbayar atau berlangganan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Bhavana memperluas akses terhadap pertunjukan sekaligus membangun basis penonton di luar ruang pertunjukan.

“Kami tidak menolak teknologi. Justru lebih ke melebur,” jelas Ikhwan.

Bagi Bhavana, teknologi bukan pengganti pertunjukan langsung. Digitalisasi justru dipandang sebagai cara untuk menjembatani panggung dengan kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan perangkat digital.

Pertunjukan langsung tetap dianggap penting, terutama untuk memperkenalkan teater kepada generasi muda di Bungo. Fadhil menyebut panggung teater sebagai salah satu jembatan untuk kembali mendekatkan masyarakat dengan kesenian.

“Ini salah satu jembatan yang bisa dikatakan meskipun lapuk kayunya atau jembatannya memang gampang hancur, tetapi itu sesuatu yang harus kami bangun ulang,” ujar Fadhil.

Sementara itu, Domba-Domba Revolusi sendiri merupakan produksi yang telah lama direncanakan Bhavana. Naskah tersebut dipersiapkan sejak sekitar tiga tahun lalu dan awalnya diproyeksikan menjadi pertunjukan pertama kelompok tersebut.

Namun, Bhavana kemudian memilih mementaskan Puisi-Puisi Cinta karya W.S. Rendra sebagai produksi awal. Rencana pementasan Domba-Domba Revolusi pun tertunda hingga akhirnya diwujudkan sebagai produksi tunggal kedua.

Ikhwan menyebut ada semacam “utang mental” terhadap karya tersebut. Setelah tiga tahun, utang itu akhirnya dibayar melalui pementasan pada akhir Agustus lalu.

Dalam produksi tersebut, Ikhwan mengambil posisi sebagai produser. Peran itu tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan teknis pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari evaluasi terhadap tata kelola komunitas.

Menurut dia, Bhavana masih harus membenahi sejumlah persoalan manajerial agar kegiatan berkesenian tidak hanya bergantung pada semangat berkarya. Komunitas juga membutuhkan sistem yang memungkinkan produksi terus berjalan dan kelompok dapat bertahan dalam jangka panjang.

Produksi Domba-Domba Revolusi kemudian dijalankan dengan mekanisme yang diupayakan mandiri. Bhavana mencari tempat pertunjukan, memproduksi karya, menjual tiket, sekaligus membangun penonton.

Bagi mereka, proses tersebut merupakan gambaran kecil tentang pemajuan kebudayaan yang ingin dibangun.

Komunitas seni, menurut Bhavana, tidak semestinya hanya menjadi objek yang menunggu program pemerintah. Komunitas juga dapat menjadi pelaku yang menciptakan karya, mencari sumber pembiayaan, membangun pasar, mengembangkan penonton, dan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi.

Karena itu, ketika pemerintah meminta pelaku seni memikirkan arah kebudayaan Bungo, Bhavana justru mengembalikan pertanyaan tersebut kepada apa yang sudah ada.

Bagi mereka, pemajuan kebudayaan tidak selalu berarti membawa kebudayaan Bungo ke tempat yang baru. Pemajuan juga berarti memastikan komunitas yang sudah bekerja hari ini memiliki ruang untuk berkarya, penonton untuk menikmati karya, sumber pembiayaan untuk menjalankan produksi, serta ekosistem yang memungkinkan kesenian terus hidup.

Dengan begitu, ukuran pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada berapa banyak acara yang digelar pemerintah atau berapa banyak seniman yang tampil dalam sebuah panggung. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah masyarakat semakin dekat dengan kesenian, apakah komunitas semakin mampu memproduksi karya, dan apakah ruang bagi generasi muda untuk mengenal kebudayaan semakin terbuka.

Hingga berita ini diturunkan, wartawan belum terhubung dengan pemerintah setempat untuk mengonfirmasi kritik dan pandangan Teater Bhavana mengenai pemajuan kebudayaan dan kesenian di Kabupaten Bungo. (*)