Penulis : Redaksi

Nama Indra Nainggolan, S.Sos., M.SP. dalam beberapa tahun terakhir semakin akrab dalam ruang sosial dan politik Humbang Hasundutan. Putra Parlilitan ini kini duduk sebagai anggota DPRD Humbang Hasundutan periode 2024–2029 dari Partai Gerindra setelah memperoleh 2.241 suara di Daerah Pemilihan Humbang Hasundutan 3. Di internal partai, ia tercatat sebagai Bendahara DPC Gerindra Humbahas dan kini menjalankan peran sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Humbahas.

Namun bagi saya pribadi, perjalanan Indra menarik bukan semata karena jabatan politiknya. Jauh sebelum duduk di parlemen, ia telah bergerak dalam persoalan-persoalan sosial melalui Yayasan Satu Hati Membangun atau YASAM.

Hubungan Indra dengan YASAM dapat ditelusuri melalui dokumen resmi pemerintah. Izin penyelenggaraan pendidikan nonformal yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan pada 2018 mencatat Indra Nainggolan sebagai pemilik/penyelenggara YASAM untuk kegiatan taman bacaan dan belajar komputer gratis di Sionom Hudon Tonga, Parlilitan. Pemberitaan lain menyebutnya sebagai founder YASAM, sementara publikasi akademik mengenai kegiatan rehabilitasi sosial menyebut Indra bersama istrinya sebagai pimpinan yayasan.

Jejak itu kemudian berkembang. YASAM memiliki kegiatan pendidikan masyarakat melalui PKBM di Parlilitan. Data Kemendikdasmen mencatat PKBM Yayasan Satu Hati Membangun sebagai lembaga pendidikan masyarakat yang melayani Program Paket C. Di Medan, YASAM juga dikenal melalui pelayanan rehabilitasi sosial bagi orang dengan gangguan kesehatan mental serta korban penyalahgunaan NAPZA. Kajian akademik mencatat pelayanan berupa konseling, bimbingan spiritual, terapi musik hingga pengembangan keterampilan.

Ketika masuk ke ruang politik formal, isu sosial dan lingkungan juga tetap terlihat dalam aktivitas publiknya. Pada April 2025, misalnya, Indra secara terbuka meminta penghentian eksploitasi berlebihan terhadap kawasan hutan Parlilitan–Tarabintang karena risiko longsor, berkurangnya sumber mata air, dan kerusakan lingkungan. Sikap serupa sebelumnya muncul melalui gerakan penanaman pohon dan pembagian bibit durian, alpukat, meranti, mahoni hingga makadamia di sejumlah wilayah Humbahas.

Ia juga hadir dalam Musrenbang Kecamatan Parlilitan untuk penyusunan RKPD 2026, forum yang mempertemukan DPRD, pemerintah kecamatan, OPD, pemerintah desa dan masyarakat dalam merumuskan prioritas pembangunan. Pada Februari 2026, saat bertemu jajaran Polres Humbahas, Indra mendorong pendekatan keamanan dan ketertiban masyarakat yang tidak melepaskan kearifan lokal. Ia mencontohkan keberadaan Raja Huta di Parlilitan sebagai struktur sosial yang masih memiliki pengaruh di masyarakat.

Di sektor ekonomi masyarakat, pada 2025 Indra yang juga disebut sebagai Ketua Pemuda Tani Humbahas menandatangani kerja sama dengan Koperasi Holong do Ondolan dalam konteks rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis. Gagasannya sederhana tetapi relevan: kebutuhan pangan program nasional tersebut sedapat mungkin ikut menyerap hasil pertanian masyarakat Humbang Hasundutan.

Tentu rekam jejak seorang pejabat publik tidak cukup dinilai hanya dari kegiatan seremonial ataupun pemberitaan. Kerja di DPRD pada akhirnya harus diuji melalui keberpihakan anggaran, fungsi pengawasan, produk kebijakan serta seberapa konsisten aspirasi masyarakat diperjuangkan sampai menghasilkan perubahan.

Namun setidaknya perjalanan Indra memperlihatkan satu pola: aktivitas sosial telah hadir sebelum kursi politik diperoleh. Bagi saya yang mengenalnya sebagai seorang abang sekaligus senior, bagian itulah yang menarik untuk terus diperhatikan.

Humbang Hasundutan membutuhkan semakin banyak figur publik yang memahami bahwa politik bukan hanya urusan jabatan. Politik adalah tentang sejauh mana kekuasaan bisa bersentuhan dengan pendidikan, masalah sosial, lingkungan, pertanian, dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Perjalanan Indra Nainggolan masih panjang. Masyarakatlah yang pada akhirnya berhak menilai sejauh mana konsistensi, kapasitas dan kualitas kepemimpinannya berkembang dari waktu ke waktu.

Tentang Penulis

Wahyu Alwi Jorgi Pasaribu adalah lulusan Teknik Lingkungan Universitas Jambi, jurnalis PT Orasi Media Group, serta pengelola kanal budaya Hutapanuli dengan lebih dari 55 ribu pelanggan; ia juga memiliki pengalaman dalam organisasi mahasiswa, pelayanan pemuda Kristen, komunikasi lintas budaya dan kegiatan internasional. Jorgi pernah bekerja di Jerman, menjadi Top 3 Delegasi SejutaCita Future Leaders Japan, serta aktif pada berbagai kegiatan kepemudaan, sosial dan lingkungan.