Penulis : Redaksi

JAKARTA – Film terbaru garapan sutradara Christopher Nolan, The Odyssey, sukses mencuri perhatian penonton di berbagai negara. Antusiasme yang tinggi bahkan membuat tiket pemutaran di sejumlah bioskop IMAX habis terjual jauh sebelum hari penayangan.

Namun, di balik kesuksesan tersebut, film ini juga menuai kritik. Sejumlah penonton dan pengamat perfilman menilai pengalaman menonton The Odyssey menjadi terkesan eksklusif atau bahkan “elitis” karena hanya dapat dinikmati secara maksimal di segelintir bioskop yang memiliki teknologi IMAX 70mm.

Direkam Sepenuhnya dengan Kamera IMAX 70mm

Berdasarkan laporan AFP, Christopher Nolan menjadi sutradara pertama yang merekam seluruh film menggunakan kamera khusus IMAX 70mm beresolusi tinggi.

Teknologi tersebut dikembangkan bersama IMAX untuk menghasilkan kualitas gambar yang lebih tajam, detail, dan imersif dibandingkan sistem proyeksi bioskop konvensional.

Tingginya minat penonton membuat sejumlah bioskop IMAX menambah jadwal penayangan hingga larut malam karena tiket terjual habis berminggu-minggu sebelumnya.

Hanya 41 Bioskop di Dunia yang Bisa Menayangkan Format Asli

Meski dipuji dari sisi teknologi, format tersebut dinilai sulit diakses oleh sebagian besar penonton.

Saat ini, hanya 41 bioskop di seluruh dunia yang memiliki proyektor IMAX 70mm untuk menampilkan film sesuai format asli yang diinginkan Christopher Nolan. Lebih dari separuh bioskop tersebut berada di Amerika Serikat.

Indonesia termasuk negara yang belum memiliki proyektor IMAX 70mm. Seluruh studio IMAX di Indonesia masih menggunakan sistem proyeksi digital.

Kondisi serupa juga terjadi di India, sehingga banyak penonton di kedua negara tidak dapat menikmati pengalaman visual yang sepenuhnya sesuai dengan visi sang sutradara.

Kritik: Terlalu Eksklusif bagi Penonton

Jurnalis Harsh Tiwari dari media daring The Print menilai keputusan membuat film dengan format yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil penonton bukanlah pendekatan ideal.

“Membuat film dalam format yang tidak dapat dinikmati sebagian besar orang sebagaimana dimaksudkan pembuatnya bukanlah cara yang seharusnya dilakukan seorang sineas kelas dunia,” tulisnya.

Selain itu, karena film dioptimalkan untuk layar IMAX berukuran besar, sebagian besar penonton di bioskop reguler hanya menyaksikan versi yang telah dipotong (cropped), sehingga komposisi gambar tidak tampil sepenuhnya seperti yang dirancang Nolan.

Ramai Jadi Perbincangan di Media Sosial

Perdebatan mengenai format penayangan The Odyssey juga ramai di media sosial.

Salah satu pengguna platform X menyebut hanya sedikit orang yang benar-benar dapat menikmati visi asli Christopher Nolan.

“Ini tidak adil. Hanya segelintir orang yang bisa menikmati visi asli Christopher Nolan sebagaimana yang ia inginkan,” tulis akun @CinemaRythmes.

Sementara itu, di TikTok dan Instagram, sejumlah kreator membuat video satir dengan menonton The Odyssey melalui layar kecil atau sambil melakukan aktivitas lain sebagai sindiran terhadap pengalaman menonton yang disebut “sesuai keinginan Nolan”.

Nolan: Tantangan Itu Sepadan

Christopher Nolan mengakui proses produksi The Odyssey memang tidak mudah karena penggunaan teknologi tersebut.

Namun, menurutnya, tantangan tersebut sepadan dengan hasil akhir yang diperoleh.

“Film ini memang sulit dibuat. Dan memang seharusnya begitu. Ini adalah The Odyssey, jadi prosesnya memang harus penuh tantangan, dan itu tidak masalah,” ujar Nolan.