Penulis : Redaksi

JakartaBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 34 desa di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terendam banjir akibat hujan berintensitas tinggi sejak Minggu (15/2) malam. Peristiwa ini menyebabkan ribuan warga terdampak.

Selain curah hujan tinggi, banjir juga dipicu kiriman air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, dan Sungai Tuntang yang mengakibatkan sungai meluap.

“Total sebanyak 5.214 kepala keluarga (KK) terdampak dan satu unit rumah dilaporkan rusak berat,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Senin (16/2).

Rincian Wilayah Terdampak

Berdasarkan data BPBD, di Kecamatan Kedungjati terdapat tujuh desa terdampak akibat luapan Sungai Tuntang dengan tinggi muka air 20–40 sentimeter. Desa Klitikan, Kedungjati, Wates, Jumo, Deras, Kalimaro, dan Padas sempat tergenang, meski kini air telah surut.

Di Kecamatan Tegowanu, banjir setinggi 20–100 sentimeter merendam Desa Tajemsari, Sukorejo, dan Kebonagung. Tanggul Sungai Cabean di Desa Tajemsari dilaporkan jebol, begitu juga tanggul Sungai Jratun di Dusun Mbaru, Desa Kebonagung. Kondisi genangan saat ini berangsur surut.

Sementara itu, di Kecamatan Gubug, Desa Penadaran terdampak di tiga dusun dengan ketinggian air 30–50 sentimeter dan kini telah surut. Kerja bakti peninggian tanggul Sungai Tuntang terus dilakukan untuk mencegah luapan susulan.

Di Kecamatan Purwodadi, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah. Di Kelurahan Purwodadi tercatat 584 KK terdampak yang tersebar di lingkungan Jajar, Kemasan, Jetis Barat, Jetis Selatan, Simpang Utara, dan Banaran.

“Di Kelurahan Kalongan, Perumahan Permata Hijau terdampak cukup signifikan dengan ketinggian air mencapai satu meter dan 1.180 KK terdampak. Sementara itu, Desa Karanganyar (Dusun Karangasem) dan Desa Ngraji masih tergenang dengan tinggi air 20–50 sentimeter,” tutur Muhari.

Banjir juga melanda Kecamatan Karangrayung di Desa Karangsono dan Desa Mojoagung. Tanggul Sungai Jajar Baru di Dusun Krasak dan Dusun Klampisan, Desa Mojoagung, jebol sepanjang masing-masing sekitar 15 meter sehingga air masuk ke permukiman warga. Saat ini genangan mulai surut dan tersisa di sejumlah ruas jalan desa.

Di Kecamatan Geyer, tiga rumah di Desa Bangsri sempat terendam setinggi 25 sentimeter dan kini telah surut.

Sedangkan di Kecamatan Toroh, sembilan desa terdampak, antara lain Desa Tambirejo, Katong, Sugihan, dan beberapa desa lainnya dengan ketinggian air 30–50 sentimeter. Kondisi berangsur membaik.

Di Kecamatan Pulokulon, Desa Karangharjo khususnya Dusun Legundi terdampak luapan Sungai Peganjing setinggi 50 sentimeter dan 30 warga melakukan evakuasi mandiri.

Sementara itu, di Kecamatan Penawangan sedikitnya enam desa terdampak, termasuk Desa Leyangan, Toko, Sedadi, Tunggu, Karangwader, dan Pengkol. Hingga siang hari, sebagian wilayah masih tergenang.

Ganggu Transportasi dan Status Siaga

Selain merendam permukiman, banjir juga mengganggu transportasi nasional. Perjalanan kereta api lintas utara rute Jakarta–Surabaya terkendala akibat rel terendam di Km 32 pada petak jalur antara Karangjati dan Gubug.

Hingga Senin (16/2) pukul 14.00 WIB, tinggi muka air di Bendung Sedadi tercatat pada elevasi 26,68 mdpl atau level siaga dan berangsur turun. Namun, Pos Menduran menunjukkan tren kenaikan debit air.

BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD dan unsur terkait dalam penanganan darurat, mulai dari evakuasi warga, distribusi logistik, pemantauan lapangan, hingga penguatan tanggul darurat di sejumlah titik.

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, potensi hujan berintensitas tinggi masih berlanjut dalam dua hari ke depan. Dengan kondisi tanggul jebol dan debit sungai yang fluktuatif, ancaman banjir susulan tetap perlu diwaspadai.

BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan, memantau informasi resmi pemerintah daerah, serta segera mengungsi ke tempat lebih aman jika debit air kembali meningkat.

“Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan darurat banjir di Grobogan,” pungkas Muhari.