JAKARTA – Pola pengasuhan yang diterapkan orang tua sering kali dipengaruhi oleh pengalaman yang mereka alami sejak kecil. Dalam beberapa kondisi, pengalaman tersebut dapat membentuk kebiasaan yang kurang sehat dan tanpa disadari diteruskan kepada anak.
Karena itu, memahami cara memutus rantai toxic parenting menjadi langkah penting agar pola pengasuhan yang tidak sehat tidak terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Toxic parenting merupakan pola asuh yang ditandai dengan perilaku yang dapat mengganggu perkembangan emosional maupun psikologis anak. Dengan kesadaran serta komitmen untuk berubah, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Dikutip dari The Foundation for Post-Traumatic Healing and Complex Trauma Research, berikut lima cara memutus rantai toxic parenting yang dapat diterapkan.
1. Mengenali Perilaku Toxic dalam Pengasuhan
Langkah pertama adalah menyadari adanya pola perilaku yang tidak sehat dalam pengasuhan.
Orang tua perlu mengevaluasi apakah selama ini sering mengkritik anak secara berlebihan, terlalu mengontrol, menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi anak, atau mengabaikan perasaan mereka.
Kesadaran diri menjadi fondasi utama karena perubahan tidak dapat dimulai tanpa mengakui adanya masalah.
2. Menghormati Batasan dan Kemandirian Anak
Setiap anak memiliki hak untuk berkembang sesuai tahapan usianya.
Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sederhana, belajar dari kesalahan, serta membangun rasa percaya diri.
Menghormati privasi anak juga menjadi bagian penting dalam pengasuhan yang sehat. Sikap yang terlalu mengatur atau selalu mencampuri urusan anak berisiko menghambat perkembangan kemandirian mereka.
3. Membangun Komunikasi yang Terbuka
Komunikasi yang baik membantu anak merasa dihargai dan didengarkan.
Orang tua dapat melatih diri untuk mendengarkan tanpa langsung menghakimi maupun memotong pembicaraan anak. Saat anak menyampaikan perasaan atau masalahnya, respons yang penuh empati dapat memperkuat hubungan emosional sekaligus membuat anak merasa aman untuk bercerita.
4. Mengelola Emosi dan Luka Masa Lalu
Banyak pola toxic parenting berakar dari pengalaman masa kecil yang belum terselesaikan.
Orang tua yang pernah mengalami kritik berlebihan, kekerasan verbal, atau pengabaian berpotensi mengulang pola yang sama kepada anak mereka.
Karena itu, mengenali pemicu emosi pribadi menjadi salah satu langkah penting. Dengan memahami sumber kemarahan, kekecewaan, maupun trauma masa lalu, orang tua dapat merespons anak dengan lebih tenang dan bijaksana.
5. Mencari Bantuan Profesional Jika Diperlukan
Apabila orang tua merasa kesulitan mengubah pola pengasuhan atau masih bergumul dengan trauma masa lalu, bantuan profesional dapat menjadi pilihan.
Psikolog maupun konselor keluarga dapat membantu mengidentifikasi akar persoalan sekaligus memberikan strategi pengasuhan yang lebih sehat.
Mencari bantuan bukanlah tanda kegagalan sebagai orang tua, melainkan bentuk tanggung jawab untuk menghadirkan lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang anak.
Melalui langkah-langkah tersebut, orang tua dapat memutus rantai toxic parenting dan membangun lingkungan keluarga yang lebih aman, suportif, serta mendukung perkembangan emosional dan psikologis anak secara optimal.
