Penulis : Redaksi

Jakarta — Vicky Prasetyo mengkritik artis dan influencer yang dinilai memilih diam terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Ia meminta figur publik memanfaatkan pengaruh di media sosial untuk menyuarakan dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan.

Kritik tersebut disampaikan Vicky melalui unggahan media sosial pada Jumat (16/10). Ia membandingkan ramainya konten selebritas mengenai tren viral dan gaya hidup mewah dengan minimnya perhatian terhadap persoalan karhutla.

“Teman-teman artis, influencer, akun-akun media centang biru dan jutaan pengikut di media sosial. Giliran tren joget viral, isu selingkuh artis, atau pamer gaya hidup mewah, jari kalian paling lincah bikin konten,” ucap Vicky Prasetyo seperti diberitakan detikHot pada Sabtu (17/10).

“Tapi giliran hutan dibakar hidup-hidup, sampai langitnya menguning. Kenapa bibir kalian mendadak kelu dan akun kalian bisu?” sambungnya.

Vicky tidak menyebut secara spesifik nama selebritas yang menjadi sasaran kritiknya. Namun, ia menekankan bahwa figur publik dengan jutaan pengikut memiliki pengaruh untuk membentuk opini masyarakat dan mendorong pengambil kebijakan merespons persoalan lingkungan.

“Kalian itu bukan sekedar penonton biasa. Kalian itu rumah algoritma. Satu unggahan kalian bisa mengirim opini publik. Satu suara kalian bisa menekan pengambil kebijakan. Jangan cuma memanfaatkan rakyat buat panen viewers dan endorsement,” sentil Vicky Prasetyo.

Ia juga menyoroti sikap figur publik yang dinilainya memilih menjaga citra daripada menyuarakan persoalan yang dihadapi masyarakat akibat kabut asap.

“Tapi giliran rakyat kecil sekarang, kekurangan oksigen, kalian pura-pura netral demi menjaga citra. Nyali kalian di mana? Pakai pengaruh itu untuk bersuara selamatkan hutan. Atau akui saja, kalau jutaan followers kalian cuma dipakai untuk menjilat para penguasa,” ujarnya.

Vicky Soroti Dampak Karhutla terhadap Masyarakat dan Satwa

Selain mengkritik sikap sejumlah figur publik, Vicky menyoroti dampak kebakaran hutan terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi dan lansia yang berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

“Buka mata kalian. Di sana bayi-bayi dan lansia sedang bertarung nyawa. Tenggorokannya terbakar dan paru-parunya diracuni meski bernapas di rumah sendiri,” ungkap Vicky menggebu-gebu.

Ia juga menyinggung dampak kebakaran terhadap satwa yang kehilangan habitat akibat hutan terbakar.

“Hutan kita hangus di jarah korporasi. Satwa mati terpanggang, tidak ada area aman untuk mereka berlari. Dan kalian cuma duduk manis nonton dari balik layar smartphone,” tutur Vicky Prasetyo.

Unggahan tersebut ramai mendapat komentar dari pengguna media sosial, termasuk akun-akun terverifikasi yang memiliki banyak pengikut. Sejumlah pengguna menyatakan dukungan terhadap desakan Vicky agar artis dan influencer ikut menyoroti persoalan karhutla.

Chacha Frederica Ikut Kritik Influencer yang Diam

Presenter Chacha Frederica juga menyampaikan kritik terhadap selebritas dan influencer yang dinilainya tetap berfokus pada konten kecantikan, fesyen, dan hiburan ketika karhutla masih menjadi persoalan.

“Saya enggak bisu, saya berisik, sampai capek sama influencer yang diam dan cuma menampilkan konten kecantikan, fesyen, dan kelucuan anaknya saja biar dapat komen ‘gemas banget, gemas banget.'” tulisnya.

Chacha turut menyinggung dugaan bahwa sebagian figur publik memilih tidak bersuara demi menjaga hubungan dengan merek atau kepentingan komersial.

“Sok netral demi brand. Ini sudah bukan tentang brand atau ekonomi, ini tentang hak dasar hidup manusia, ini tentang kemanusiaan.”

“Saya yang gemas lihatnya, keadaan begini kok masih bisa jual konten begituan,” sambung presenter dengan 1,9 juta pengikut di Instagram itu.

Ia juga menyinggung persoalan lain yang menurutnya belum mendapat perhatian berkelanjutan.

“Belum lagi urusan Aceh, NTT juga belum tuntas betul. Enggak ada yang membangun lagi isu-isu tentang itu. Ya Rabb, dunia ini gampang banget diframingnya. Subhanallah.”

Kabut Asap Karhutla Terdeteksi di Sejumlah Wilayah Indonesia

Di tengah kritik yang disampaikan para figur publik tersebut, kabut asap akibat karhutla masih terpantau di berbagai wilayah Indonesia.

Berdasarkan pemantauan BMKG melalui citra satelit Himawari pada Senin (19/10) pukul 08.00 WIB, indikasi sebaran asap bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.

Kabut asap terpantau di sejumlah wilayah Sumatra, meliputi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Asap juga terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Di kawasan timur Indonesia, sebaran asap terlihat di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 5.499 titik panas (hotspot) dan 247 titik api (firespot) pada enam provinsi prioritas penanganan karhutla di Indonesia. Data tersebut berdasarkan Dashboard Informasi Penanganan Karhutla per Minggu (18/10).

Angka titik panas dan titik api tersebut merujuk pada enam provinsi prioritas, bukan keseluruhan wilayah Indonesia.

Kualitas Udara Jambi Masuk Kategori Berbahaya

Dampak kabut asap juga tercermin dari kondisi kualitas udara di sejumlah daerah. Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin (19/10) pukul 08.00 WIB, empat daerah di Indonesia tercatat memiliki kualitas udara dalam kategori berbahaya atau hitam.

Keempat daerah tersebut adalah Pangkalan Bun dan Palangkaraya di Kalimantan Tengah, serta Muaro Jambi dan Kota Jambi di Provinsi Jambi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap kebakaran dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Kritik Vicky Prasetyo dan Chacha Frederica pun muncul di tengah persoalan karhutla yang masih berlangsung. Keduanya menyoroti peran figur publik dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan perhatian masyarakat terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan.