Jakarta – Saat terjadi hujan abu vulkanik, warga diimbau untuk lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan. Namun, jika terpaksa harus berkegiatan di luar, penggunaan masker dan pakaian yang tepat diperlukan untuk mengurangi paparan.
Selain mata dan saluran pernapasan, kulit juga perlu dilindungi agar tidak mudah mengalami iritasi.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Arini Astasari Widodo memberikan rekomendasi jenis pakaian yang dapat membantu melindungi kulit selama terjadi penyebaran abu vulkanik.
“Gunakan pakaian yang dapat meminimalkan permukaan kulit yang terbuka, seperti baju lengan panjang, celana panjang, sepatu tertutup,” kata Arini di Jakarta, Senin (7/9), dilansir Antara.
Menurut Arini, pakaian tertutup sebaiknya tetap digunakan selama abu vulkanik masih menyebar. Perlindungan tersebut menjadi semakin penting bagi warga yang harus berada di luar ruangan untuk membersihkan abu vulkanik.
Anjuran tersebut sejalan dengan rekomendasi Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), yang menyarankan penggunaan pakaian lengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi paparan abu pada kulit.
Arini juga mengingatkan warga agar melindungi mata dan saluran pernapasan. Penggunaan topi atau sarung tangan dapat membantu memberikan perlindungan tambahan, sementara masker dengan filtrasi baik dan pelindung mata juga dianjurkan.
“Sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan abu sedang cukup berat,” Arini menambahkan.
Jangan Lupa Gunakan Tabir Surya
Dokter yang juga anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) tersebut mengatakan penggunaan tabir surya tetap penting.
Keberadaan awan atau abu di atmosfer tidak berarti radiasi ultraviolet sepenuhnya hilang.
Arini menyarankan tabir surya dioleskan pada kulit yang sudah bersih dan kering. Setelah itu, tunggu hingga produk membentuk lapisan dengan baik sebelum keluar rumah.
Ia merekomendasikan tabir surya minimal SPF 30 dengan perlindungan broad-spectrum. Tekstur produk juga sebaiknya nyaman dan tidak terlalu lengket di kulit.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pemakaian ulang tabir surya.
“Yang penting, jangan mengoleskan ulang sunscreen dengan cara menggosoknya di atas kulit yang sudah dipenuhi abu, karena abu dapat ikut bergesekan dengan kulit,” ucap Arini.
Jika kulit sudah banyak terkena abu, Arini menyarankan untuk membilas atau membersihkannya secara lembut terlebih dahulu. Setelah tubuh dikeringkan, tabir surya dapat kembali diaplikasikan.
Lebih Baik Beraktivitas di Dalam Ruangan
Jika hujan abu vulkanik cukup tebal, penggunaan pakaian tertutup, topi, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan dapat menjadi perlindungan yang lebih baik dibandingkan hanya menambah lapisan tabir surya.
Saat berada di dalam rumah, warga juga perlu memastikan pintu dan jendela tertutup rapat untuk meminimalkan abu vulkanik masuk ke dalam ruangan.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, serta orang dengan eksim atau kulit sangat sensitif.
Jika setelah terkena abu vulkanik muncul kemerahan berat, pembengkakan, rasa terbakar yang kuat, luka atau lepuh, maupun keluhan yang tidak membaik setelah dibersihkan, warga disarankan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Tentunya kesehatan kulit hanya salah satu aspek. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sehingga masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah,” tutur Arini.
Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi
Hingga Selasa (8/9) pagi, erupsi kembali terjadi di Gunung Anak Krakatau. Gunung berapi yang berada di perairan Selat Sunda tersebut mengalami tiga kali erupsi hingga pukul 07.49 WIB.
Erupsi telah terjadi sejak dini hari, yakni pada pukul 05.08 WIB.
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
