Penulis : Redaksi

JAKARTA – Pemerintah Israel mencabut izin masuk sejumlah aktivis Yahudi asal Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam kegiatan pendampingan dan aksi protes untuk membela warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

Pencabutan izin tersebut dilaporkan oleh The Forward, media publikasi Yahudi AS, yang menyebut sejumlah aktivis menerima pemberitahuan melalui surat elektronik atau email.

Salah seorang aktivis, Sam Sherman, mengungkapkan bahwa ia menerima email pembatalan izin perjalanan ketika tengah mengikuti program sukarelawan selama tujuh pekan di kawasan Masafer Yatta, Tepi Barat. Program tersebut bertujuan mendampingi warga lokal Palestina di tengah kekerasan yang dilakukan pemukim Israel.

“Surat pembatalan itu diterima oleh saya dan beberapa rekan dalam kelompok kami hampir bersamaan, hanya berselisih beberapa menit,” ujar Sherman, seperti dilansir Anadolu.

Sherman mengatakan aparat militer, polisi, serta pemukim bersenjata sempat memfoto paspornya ketika terjadi konfrontasi di lapangan.

“Kami berada di sana pada dasarnya hanya untuk bersosialisasi dan mendampingi warga. Namun, kami diperlakukan seolah-olah keberadaan kami di sana adalah sebuah tindak kriminal,” tambahnya.

Menurut laporan The Forward, Sherman dan sejumlah aktivis Yahudi Amerika lainnya terlibat dalam kegiatan yang dikenal sebagai protective presence, yakni mendampingi warga Palestina di Tepi Barat.

Sherman menyebut para aktivis senior memberitahunya bahwa ia kemungkinan besar tidak akan diizinkan kembali memasuki wilayah Israel pada masa mendatang, kecuali jika memutuskan untuk pindah dan menetap secara permanen.

“Jika saya dianggap sebagai ‘jenis orang Yahudi yang salah’ bagi Israel,” ujar Sherman dengan nada sindiran, “ya sudah, baguslah.”

Hingga saat ini, otoritas Israel belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pencabutan izin masuk para aktivis Yahudi AS tersebut. Laporan The Forward juga menyebut sejumlah aktivis lainnya mengalami pencabutan otorisasi perjalanan elektronik mereka dalam dua tahun terakhir.

Aktivis Dampingi Warga Palestina di Masafer Yatta

Sam Sherman menerima pemberitahuan pencabutan izin ketika masih mengikuti program selama tujuh pekan di kawasan Masafer Yatta.

Dalam keterangannya, ia mengatakan dirinya tidak pernah ditangkap karena aktivitas tersebut. Ia menyebut beberapa kali dihentikan oleh tentara yang kemudian memfoto identitasnya sebelum dirinya diperbolehkan pergi.

Kawasan Masafer Yatta di selatan Tepi Barat menjadi salah satu wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami ketegangan antara warga Palestina, pemukim Israel, aktivis, dan aparat Israel.

Laporan Anadolu sebelumnya juga mencatat adanya penahanan aktivis asing ketika mereka mendokumentasikan serangan pemukim terhadap warga Palestina di wilayah selatan Tepi Barat.

Pencabutan Izin Terjadi di Tengah Kekerasan di Tepi Barat

Insiden pencabutan izin masuk tersebut terjadi di tengah laporan mengenai meningkatnya serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka di Tepi Barat.

Data resmi otoritas Palestina yang dikutip dalam laporan tersebut mencatat sedikitnya 3.488 serangan terhadap warga Palestina dan aset mereka sepanjang semester pertama 2026.

Bentuk serangan yang disebut meliputi penganiayaan fisik, perusakan properti, pembangunan pos pemukiman baru yang dinyatakan ilegal, hingga tindakan intimidasi yang menghalangi petani Palestina menggarap lahan pertanian mereka.

Dalam perkembangan lain di Masafer Yatta, laporan Anadolu pada Juli 2026 menyebut enam warga Palestina mengalami luka setelah diserang pemukim Israel di Umm al-Khair.

Sementara itu, pada Mei 2026, Anadolu melaporkan adanya pembangunan pos pemukiman baru di wilayah Umm al-Khair, Masafer Yatta, yang menurut pejabat Palestina membagi wilayah desa menjadi dua bagian dan menghambat akses jalan yang digunakan warga.

Hingga laporan mengenai pencabutan izin tersebut diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari otoritas Israel mengenai alasan pencabutan izin masuk para aktivis Yahudi AS tersebut.