Oleh: Pengamat Medsos
Indonesia tidak pernah benar-benar jauh dari kemungkinan bencana. Kita hidup di atas bentangan geologi yang aktif, berada dalam lingkaran Ring of Fire, dikelilingi pertemuan lempeng tektonik, gunung api, serta sejumlah zona megathrust yang menyimpan energi besar.
Belakangan,isu mengenai aktivitas tektonik dan keberadaan 14 zona megathrust kembali ramai diperbincangkan. Seiring itu pula, kecemasan publik tumbuh.
Pertanyaannya, apakah kita harus takut?
Jawabannya: tidak perlu hidup dalam ketakutan, tetapi kita wajib hidup dalam kesiapsiagaan.
Informasi mengenai potensi gempa sering kali disalahpahami sebagai ramalan bahwa bencana akan segera terjadi. Padahal, para ahli geologi dan kebencanaan tidak sedang membunyikan alarm kepanikan.
Mereka justru mengingatkan satu hal yang jauh lebih penting: Indonesia adalah wilayah dengan risiko kebencanaan yang nyata, sehingga masyarakat harus memiliki pengetahuan dan kesiapan.
Di sinilah persoalan kita sering muncul.Kita cenderung baru berbicara tentang mitigasi setelah bencana datang.
Ketika bumi berguncang, ketika tsunami menerjang, atau ketika gunung api memuntahkan materialnya, perhatian publik mendadak tertuju pada keselamatan. Namun setelah keadaan kembali tenang, kesadaran itu perlahan menghilang. Padahal,mitigasi tidak seharusnya menunggu bencana.
Kita mungkin tidak mampu menghentikan pergerakan lempeng bumi. Kita juga tidak dapat menentukan kapan gempa akan terjadi. Alam memiliki mekanismenya sendiri, yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia. Namun, manusia masih memiliki ruang untuk menentukan bagaimana ia akan menghadapi risiko.
Di situlah pentingnya kesiapsiagaan.
Hal-hal sederhana dapat menjadi pembeda antara kepanikan dan keselamatan. Mengenali jalur evakuasi di rumah, sekolah, kantor, maupun lingkungan tempat tinggal adalah langkah awal. Menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan, air, dan perlengkapan darurat bukanlah tindakan berlebihan. Melakukan simulasi bersama keluarga pun bukan sekadar formalitas.
Kita juga perlu memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Prinsip drop, cover, and hold on—merunduk, berlindung, dan berpegangan—harus menjadi pengetahuan dasar, bukan istilah asing yang baru dicari ketika keadaan sudah darurat.
Lebih dari itu, masyarakat perlu belajar membedakan informasi ilmiah dan informasi yang memicu kepanikan.
Di era media sosial, satu unggahan dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Informasi mengenai gempa, megathrust, atau tsunami sering dibumbui dengan judul dramatis. Ketakutan kemudian menjadi komoditas. Padahal, informasi kebencanaan seharusnya memperkuat kesiapan masyarakat, bukan melemahkan ketenangan mereka.
Kita membutuhkan literasi kebencanaan yang matang: kemampuan untuk memahami risiko tanpa menjadi panik, menerima kenyataan tanpa menyerah, serta bersiap tanpa harus hidup dalam kecemasan. Sebab, hidup di wilayah rawan bencana bukan berarti hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap hari. Justru sebaliknya.
Kesadaran bahwa kita hidup di wilayah dengan aktivitas geologi tinggi seharusnya membentuk masyarakat yang lebih tangguh.
Sekolah harus menjadikan pendidikan kebencanaan sebagai bagian dari pembelajaran nyata.
Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan jalur evakuasi, sistem peringatan, serta infrastruktur keselamatan benar-benar berfungsi.
Keluarga pun harus memiliki rencana sederhana: apa yang dilakukan ketika gempa terjadi, ke mana harus berkumpul, dan siapa yang harus dihubungi.
Bencana memang tidak selalu dapat dicegah.
Namun, dampaknya dapat dikurangi.
Inilah perbedaan penting antara pasrah dan siap.
Pasrah berarti menunggu sesuatu terjadi tanpa melakukan apa-apa. Sementara siap berarti menyadari risiko, mempersiapkan diri, dan bertindak berdasarkan pengetahuan. Dalam menghadapi ancaman gempa, kesiapsiagaan adalah bentuk paling rasional dari keberanian.
Karena itu, ketika isu megathrust kembali menjadi pembicaraan, kita seharusnya tidak hanya bertanya, “Kapan gempa besar akan terjadi?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apakah kita sudah siap jika suatu hari itu benar-benar terjadi?”
Barangkali, di situlah pekerjaan rumah terbesar kita sebagai bangsa. Indonesia akan tetap berada di kawasan Ring of Fire.
Lempeng bumi akan terus bergerak. Gunung api akan tetap menjadi bagian dari lanskap negeri ini. Kita tidak bisa mengubah kenyataan geografis tersebut. Tetapi kita bisa mengubah cara kita meresponsnya.
Kecemasan tidak akan menghentikan gempa. Kepanikan tidak akan menyelamatkan siapa pun. Namun pengetahuan, kesiapan, dan kepedulian dapat mengurangi risiko.
Maka, jangan biarkan informasi tentang potensi bencana hanya menjadi bahan percakapan sesaat atau sumber ketakutan di media sosial.
Jadikan ia sebagai pengingat.
Bahwa menjadi masyarakat yang tinggal di negeri rawan bencana berarti memiliki tanggung jawab untuk belajar.
Belajar mengenali risiko.
Belajar merespons keadaan darurat.
Belajar melindungi keluarga.
Dan, yang terpenting, belajar tetap tenang.
Sebab masyarakat yang tangguh bukanlah masyarakat yang tidak pernah takut.
Masyarakat yang tangguh adalah mereka yang mampu mengubah rasa takut menjadi kesiapan, dan kecemasan menjadi tindakan nyata.
