Penulis : Redaksi

Jakarta — Pabrikan elektronik asal Jepang Sharp mengungkap kenaikan harga chip memori global mulai berdampak terhadap harga televisi yang mereka produksi.

Andry Adi Utomo, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, mengatakan produk Sharp yang paling terdampak kondisi tersebut adalah televisi berukuran kecil.

Salah satu contohnya adalah televisi berukuran 32 inci. Saat ini, harga produk tersebut hampir mencapai Rp3 juta, sedangkan sebelumnya sempat berada di bawah Rp2 juta.

“Sekarang main di televisi inci kecil susah. Karena saya lihat, chip memori itu harganya mahal. Satu memori dipakai di inch kecil sama dengan satu memori dipakai di inch gede karena memori itu untuk simpan aplikasi Android ya. Nah, ini kan rugi kalau kita pasang di televisi inch kecil,” kata Andry dalam acara kampanye “Every Customer Matters” di Jakarta, Rabu (9/9).

Harga TV Diperkirakan Naik Lagi

Menurut Andry, kenaikan harga televisi akibat kondisi tersebut diperkirakan berada di kisaran 3-8 persen. Ia memprediksi tekanan harga masih akan berlanjut hingga Oktober 2026.

“Kita akan naik harga lagi untuk TV yang kesekian belas kali di bulan Oktober 2026,” tegasnya.

Meski demikian, Andry belum dapat memastikan dampak kenaikan harga tersebut terhadap penjualan televisi berukuran kecil.

Ia mengatakan penjualan televisi Sharp sempat mengalami peningkatan saat momentum Piala Dunia 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam melihat pasar televisi ke depan.

Sharp Fokus Kembangkan TV Layar Besar

Di tengah kenaikan harga chip memori, Sharp kini juga berfokus memasarkan televisi dengan ukuran layar besar. Kontribusi segmen tersebut terhadap total pasar televisi Sharp saat ini masih relatif kecil.

Dari total pasar TV Sharp sekitar 18 persen, segmen televisi berukuran besar menyumbang sekitar 5-8 persen. Perusahaan melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan pasar televisi layar besar.

“Sebenarnya, kontribusi televisi berukuran ini masih kecil ya. Total pasar televisi itu baru sekitar 18 persen. Jadi dibilang dari yang 18 persen itu mungkin kontribusi televisi besar baru sekitar 5-8 persen,” imbuh Andry.

Menurut Andry, persaingan di segmen televisi layar besar tidak bisa hanya mengandalkan harga. Karena itu, Sharp mencoba menawarkan nilai tambah yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Salah satunya melalui layanan pemasangan produk dan penanganan kendala setelah pembelian.

Sharp menghadirkan Platinum Service sebagai layanan khusus bagi konsumen yang membeli TV premium Aquos XLED dan SuperSize TV. Layanan tersebut tersedia khusus untuk wilayah Jabodetabek, Medan, Surabaya dan Denpasar.

Melalui layanan ini, Sharp memastikan proses instalasi televisi berukuran besar dapat berlangsung dengan cepat.

Andry tetap optimistis terhadap peluang pertumbuhan pasar televisi layar besar. Ia menargetkan kontribusi segmen tersebut dapat meningkat menjadi 16 persen hingga 20 persen.

Sementara itu, kontribusi total pasar televisi Sharp ditargetkan mencapai sekitar 25 persen.

“Kita mau TV ini punya kontribusi total di-share itu 25 persen. Jadi semua produk 25, 25, 25, 25 gitu. Sekarang baru 18 persen,” tutup Andry.

Pengiriman TV Global Tumbuh

Riset Omdia menunjukkan pengiriman televisi global tumbuh sekitar 3,6 persen secara year-on-year (YoY) menjadi 48,8 juta unit pada kuartal II 2026.

Pertumbuhan tersebut didukung momentum Piala Dunia 2026 dan waktu pelaksanaan Amazon Prime Day.

Omdia menemukan keterbatasan pasokan memori hanya berdampak terhadap volume pengiriman TV pada kuartal II 2026. Salah satu alasannya karena sejumlah merek masih mempromosikan lini produk lama dan memanfaatkan persediaan memori berbiaya lebih rendah yang sudah tersedia.

Namun, pasokan memori diperkirakan masih terbatas sementara harganya terus meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga televisi sepanjang tahun ini.

Omdia juga memperkirakan produsen akan semakin beralih dari televisi beresolusi rendah ke model 4K. Perubahan tersebut terjadi karena produk memori berkapasitas rendah menghadapi kendala pasokan yang sangat ketat.