Penulis : Redaksi

JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendorong pengembangan industri maintenance, repair, and overhaul (MRO) sebagai salah satu mesin baru penciptaan lapangan kerja berupah tinggi di Indonesia. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung transformasi industri di tengah tekanan terhadap sektor padat karya dan meningkatnya otomatisasi.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri MRO karena didukung jumlah armada transportasi dan alat produksi yang terus bertambah.

“Ini potensi yang luar biasa untuk industri MRO. Cuma industri ini belum optimal di Indonesia,” ujar Bob Azam dalam Konferensi Pers Pra-Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Apindo ke-35, Selasa (28/7).

Potensi Pasar MRO Dinilai Sangat Besar

Bob menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki sekitar 600 pesawat komersial, 2.000 pesawat kecil, 15 hingga 20 juta kendaraan roda empat, 150 juta sepeda motor, serta sekitar 30 ribu kapal barang dan kapal nelayan.

Besarnya jumlah armada tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi industri MRO untuk berkembang, mengingat seluruh aset tersebut membutuhkan perawatan, perbaikan, dan overhaul secara berkala.

MRO Buka Peluang Pekerjaan Bernilai Tambah Tinggi

Menurut Bob, pengembangan industri MRO dapat mengubah struktur ketenagakerjaan dari pekerjaan dengan nilai tambah rendah menuju profesi yang membutuhkan keahlian lebih tinggi.

Posisi seperti teknisi, engineer, supervisor, hingga tenaga ahli lainnya diproyeksikan akan semakin dibutuhkan seiring berkembangnya industri tersebut.

“Dengan adanya industri MRO ini sebenarnya terjadi shifting, pekerja dari pekerjaan seperti operator pabrik menjadi pekerjaan yang value-nya lebih tinggi, seperti teknisi, engineer, supervisor, dan lain sebagainya,” jelas Bob.

Ia menambahkan, transformasi tersebut juga menjadi jawaban atas tantangan industri manufaktur yang kini semakin banyak mengadopsi teknologi dan otomatisasi.

Apindo Soroti Pentingnya Pendanaan dan Pengembangan SDM

Meski memiliki prospek besar, Bob mengakui pengembangan industri MRO membutuhkan investasi dan pembiayaan yang tidak sedikit.

Karena itu, Apindo mendorong agar pembahasan Undang-Undang Ketenagakerjaan 2026 turut memperhatikan pembangunan ekosistem ketenagakerjaan yang mendukung pendanaan serta peningkatan kompetensi tenaga kerja.

“Kita berharap ada transformasi ketenagakerjaan dan ini tentunya membutuhkan fundraising yang tidak sedikit. Dalam pembahasan undang-undang kita juga bahas bagaimana membangun ekosistem ketenagakerjaan termasuk fundraising-nya,” terangnya.

Apindo Susun Strategi Mitigasi PHK

Selain fokus pada pengembangan industri MRO, Apindo juga tengah menyusun strategi bersama pemerintah dan serikat pekerja untuk mengantisipasi meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bob mengatakan tekanan terhadap ketenagakerjaan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami berbagai negara seperti Singapura dan China, seiring perlambatan ekonomi global dan meningkatnya tingkat pengangguran.

Menurutnya, Apindo bersama pemerintah saat ini sedang merumuskan sekitar 10 langkah mitigasi PHK yang berfokus pada upaya pencegahan sejak dini.

“PHK itu memang kita tangani sejak awalnya di hulunya, bukan di hilirnya. Itu yang sekarang sedang kita kolaborasikan dengan pemerintah,” pungkas Bob.