Penulis : Redaksi

Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat penyelesaian Observatorium Nasional Gunung Timau di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fasilitas ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengamatan antariksa paling maju di Asia.

Observatorium tersebut nantinya akan dilengkapi teleskop terbesar di Asia Tenggara dan berada di kawasan khatulistiwa yang dinilai strategis untuk pengamatan luar angkasa.

“Kami ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, karena akan menjadi fasilitas strategis bagi penguatan riset antariksa Indonesia,” ujar Kepala BRIN Arif Satria dalam keterangannya, Kamis (7/5).

“Sekaligus mendukung pengembangan spaceport nasional di Biak Papua,” lanjutnya.

Arif berharap observatorium dapat segera beroperasi penuh guna memperkuat kolaborasi riset internasional. Ia menyebut progres pembangunan teleskop saat ini telah mencapai sekitar 95 persen.

Selain pembangunan teleskop, BRIN juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem riset melalui penambahan tenaga peneliti baru, revitalisasi gedung magnetometer, serta peningkatan fasilitas penunjang bagi para peneliti.

“Tidak hanya membangun teleskop, kami juga perlu memperkuat ekosistem risetnya. Penambahan peneliti dan revitalisasi gedung magnetometer menjadi bagian penting untuk mendukung operasional observatorium secara optimal,” tuturnya.

Dalam kunjungannya ke lokasi, Arif juga meminta Pemerintah Kabupaten Kupang untuk memperbaiki akses jalan menuju kawasan Observatorium Nasional Gunung Timau.

“Observatorium ini memiliki peran strategis bagi riset antariksa Indonesia. Karena itu, akses jalannya juga harus diperkuat agar kawasan ini tidak terisolasi,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Research Fellow Pusat Riset Antariksa BRIN Andre Pandie menegaskan pentingnya keberadaan observatorium yang selaras dengan pengembangan spaceport nasional di Biak.

“Observatorium ini nantinya diharapkan menjadi fasilitas pendukung utama dalam operasional dan pengembangan aktivitas antariksa nasional,” kata Andre.

Andre menambahkan, teleskop di Observatorium Timau disebut sebagai teleskop terbesar di Asia Tenggara. Menurutnya, saat ini hanya ada dua teleskop dengan spesifikasi serupa di dunia, yakni di Jepang dan Indonesia.

“Posisi kita yang strategis di khatulistiwa juga menjadi spot yang ideal untuk pengamatan luar angkasa. Karena itu sudah ada kerja sama internasional, dan akan ada kerja sama berikutnya yang menunggu bila teleskop ini sudah beroperasi,” pungkasnya.