Penulis : Redaksi

Jakarta — Beragam pola diet kini dikenal luas, salah satunya diet Mediterania. Pola makan ini disebut mampu menurunkan risiko stroke hingga 25 persen berdasarkan penelitian yang berlangsung selama 21 tahun.

Dalam studi yang dipimpin oleh peneliti dari Amerika Serikat dan Yunani, diet Mediterania dikaitkan dengan penurunan risiko stroke secara keseluruhan, termasuk stroke iskemik dan stroke hemoragik.

Stroke iskemik merupakan jenis yang paling umum terjadi, yaitu saat aliran darah ke bagian otak terhambat. Sementara itu, stroke hemoragik terjadi akibat pendarahan di otak.

“Temuan kami mendukung makin banyaknya bukti bahwa diet sehat sangat penting untuk pencegahan stroke,” ujar Sophia Wang, penulis utama penelitian, seperti dikutip dari The Guardian.

Mengenal Diet Mediterania
Mengutip Cleveland Clinic, diet Mediterania merupakan pola makan yang menitikberatkan pada konsumsi makanan nabati dan lemak sehat. Pola ini mendorong konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, serta biji-bijian, dengan minyak zaitun ekstra virgin sebagai sumber lemak utama.

Dalam pola makan ini, konsumsi daging tetap diperbolehkan, namun lebih dianjurkan memilih ikan dan daging unggas dibandingkan daging merah. Selain itu, makanan dan minuman manis serta mentega dianjurkan untuk dibatasi.

Disebut sebagai diet Mediterania karena pola ini berasal dari kebiasaan makan masyarakat di wilayah tersebut pada pertengahan abad ke-20. Sejumlah penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan pola makan ini dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner.

Hasil Studi Selama Dua Dekade
Penelitian ini melibatkan 105.614 perempuan di California dengan usia rata-rata 53 tahun yang tidak memiliki riwayat stroke di awal studi.

Para peserta dinilai menggunakan skor nol hingga sembilan berdasarkan tingkat kepatuhan terhadap diet Mediterania. Hasilnya, sekitar 30 persen peserta berada di kelompok dengan skor tertinggi (enam hingga sembilan), sementara 13 persen berada di kelompok terendah (nol hingga dua). Sisanya berada di tingkat menengah.

Seluruh peserta dipantau selama rata-rata 21 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok dengan skor tertinggi memiliki risiko 18 persen lebih rendah mengalami stroke dibandingkan kelompok dengan skor terendah.

Selain itu, kelompok tersebut juga memiliki kemungkinan 16 persen lebih rendah mengalami stroke iskemik dan hingga 25 persen lebih rendah mengalami stroke hemoragik.

Analisis penelitian ini telah mempertimbangkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi risiko stroke, seperti kebiasaan merokok, aktivitas fisik, serta tekanan darah tinggi.

“Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan, jadi sangat menggembirakan untuk berpikir bahwa memperbaiki pola makan kita dapat mengurangi risiko terkena penyakit yang menghancurkan ini,” kata Wang.

Potensi Pencegahan Stroke Hemoragik
Wang menyebutkan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengonfirmasi temuan tersebut, termasuk memahami mekanisme diet Mediterania dalam menurunkan risiko stroke.

Studi ini juga memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan perempuan dan bergantung pada laporan pola makan dari peserta.

Meski demikian, hasil penelitian ini dinilai menarik karena juga mencakup stroke hemoragik, yang selama ini relatif jarang diteliti.

Juliet Bouverie, kepala eksekutif Stroke Association, menyebut temuan ini sebagai potensi penting dalam upaya pencegahan stroke.

“Stroke hemoragik, meskipun lebih jarang terjadi, jauh lebih parah, jadi sangat melegakan bahwa penelitian ini memberikan pencerahan pada subtipe yang penting tetapi kurang diteliti ini,” ujarnya.