JAKARTA – Pernah dibuat bingung oleh seseorang yang mengatakan, “Enggak apa-apa,” tetapi sikapnya justru menunjukkan hal sebaliknya? Atau punya rekan kerja yang terlihat setuju di depan, tetapi diam-diam menunda pekerjaan yang sudah diminta?
Perilaku seperti itu dikenal sebagai sikap pasif-agresif. Menurut Verywell Mind, pasif-agresif merupakan perilaku yang tampak biasa, netral, atau bahkan sopan, tetapi sebenarnya menyimpan agresi secara terselubung.
Situasi tersebut dapat membuat orang lain merasa lelah, kesal, hingga merasa disalahkan tanpa mengetahui penyebabnya secara jelas. Karena itu, mengenali tanda-tanda perilaku pasif-agresif dapat membantu seseorang merespons situasi dengan lebih tenang.
Lantas, apa saja tanda orang pasif-agresif?
1. Memberi Pujian Terselubung
Menurut Time, pujian dari orang pasif-agresif sering terdengar seperti komentar manis, tetapi sebenarnya memiliki nada merendahkan.
Misalnya, seorang rekan kerja memuji potongan rambut baru dengan mengatakan, “Wah, rambutmu bagus, aku dulu juga pernah potong model itu waktu kuliah.”
Kalimat tersebut sekilas terdengar seperti apresiasi. Namun, komentar itu dapat menyelipkan kesan bahwa model rambut yang dipilih sudah tidak lagi mengikuti tren.
2. Menyisipkan Disclaimer Sebelum Berpendapat
Cara lain mengenali perilaku pasif-agresif adalah memperhatikan kalimat yang diawali dengan pembelaan diri, kemudian diikuti komentar yang menyakitkan.
Contohnya, “Aku nggak mau terkesan jahat, tapi…” atau “Aku bukan mau menghakimi, tapi…”
Setelah kata “tapi”, biasanya muncul ucapan yang dapat terasa menusuk. Pola tersebut membuat agresi seolah-olah dibungkus sebagai bentuk kejujuran atau kepedulian.
3. Melakukan Sabotase Diam-Diam
Orang pasif-agresif terkadang menunjukkan penolakan melalui tindakan yang dilakukan secara tidak langsung.
Contohnya, sengaja tidak memberi tahu teman mengenai tenggat waktu pengumpulan tugas kuliah atau membatalkan janji untuk menghadiri acara penting. Ketika ditanya, alasannya bisa berupa lupa atau sibuk sehingga tidak sempat memberi kabar lebih awal.
Perilaku serupa juga dapat muncul dalam bentuk menunda sesuatu, terutama jika hal tersebut berkaitan dengan orang lain.
Menurut Your Tango, penundaan dapat menjadi salah satu cara menunjukkan penolakan tanpa mengatakannya secara langsung. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat merusak kepercayaan dan hubungan kerja.
4. Suka Mengeluh Dipasangkan Tidak Adil
Alih-alih menyampaikan keinginan atau keberatan secara terbuka, orang pasif-agresif dapat memosisikan dirinya sebagai korban.
Mereka merasa orang lain terlalu menuntut, terlalu keras, atau tidak memahami dirinya. Dengan cara tersebut, mereka dapat menghindari tanggung jawab untuk menyampaikan sikap atau kemarahan yang sebenarnya dirasakan.
5. Tidak Memberikan Jawaban Tegas
Orang pasif-agresif cenderung memberikan jawaban yang membingungkan atau tidak tegas. Mereka bisa mengatakan “terserah”, “lihat nanti”, atau “iya mungkin” tanpa menunjukkan niat yang jelas.
Akibatnya, orang lain harus menebak-nebak maksud sebenarnya hingga akhirnya merasa frustrasi.
Ketika ditanya kembali, mereka bahkan dapat membalikkan keadaan dan membuat orang lain merasa sebagai pihak yang salah memahami situasi.
6. Suka Ghosting
Ghosting, atau sengaja tidak merespons orang lain, juga dapat menjadi bentuk perilaku pasif-agresif.
Ketika tidak menyukai seseorang atau sedang merasa kesal, seseorang dapat memilih untuk diam, menghindar, atau menghilang tanpa memberikan penjelasan.
7. Hitung-Hitungan Jasa dan Kesalahan
Orang pasif-agresif dapat menyimpan daftar mengenai berbagai hal yang pernah dilakukan untuk orang lain. Mereka juga mengingat hal-hal yang dianggap telah merugikan dirinya.
Pada waktu tertentu, jasa tersebut maupun kesalahan orang lain dapat kembali diungkit untuk menyudutkan pihak lain.
Kenali Polanya, Bukan Sekadar Satu Perilaku
Mengenali tanda-tanda pasif-agresif dapat membantu seseorang menjaga batas dan merespons situasi dengan lebih tepat.
Namun, tidak setiap orang yang diam, menunda pekerjaan, atau memberikan jawaban singkat dapat langsung disebut pasif-agresif. Pola perilaku yang berulang menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika tindakan tersebut terus menimbulkan masalah dalam komunikasi atau hubungan dengan orang lain.
