Jakarta — Anak yang sulit duduk tenang dan mempertahankan perhatian saat belajar tidak selalu berarti malas atau tidak mau mendengarkan. Rutinitas sehari-hari di rumah juga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk fokus, mulai dari pola tidur hingga lingkungan saat belajar.
Ada sejumlah kebiasaan yang tanpa disadari dapat membuat anak lebih sulit mempertahankan perhatian. Berikut beberapa di antaranya, dirangkum dari berbagai sumber.
1. Tidur Terlalu Sedikit
Jam tidur sering kali menjadi hal yang dikorbankan ketika aktivitas anak sedang padat. Padahal, kurang tidur dapat memengaruhi kemampuan otak dalam mempertahankan perhatian.
Studi yang dipublikasikan dalam Sleep Medicine Reviews menunjukkan bahwa kehilangan waktu tidur pada anak dan remaja berkaitan dengan penurunan sejumlah fungsi kognitif, termasuk perhatian dan fungsi eksekutif.
Anak yang tidur terlalu sedikit bukan hanya berisiko mengantuk pada pagi hari. Kemampuan berkonsentrasi dan mengikuti aktivitas yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama juga dapat ikut terganggu.
2. Bermain Gawai Menjelang Tidur
Bukan hanya durasi penggunaan gawai yang perlu diperhatikan, tetapi juga waktunya. Penggunaan perangkat dengan layar menjelang atau saat waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur anak.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa penggunaan perangkat media portabel pada waktu tidur berkaitan dengan durasi tidur yang lebih pendek, kualitas tidur yang lebih buruk, dan rasa kantuk pada siang hari.
Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada keesokan harinya.
3. Terlalu Banyak Screen Time
Selain penggunaan gawai sebelum tidur, durasi screen time secara keseluruhan juga perlu diperhatikan.
Studi yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics menemukan adanya hubungan antara durasi screen time yang lebih tinggi pada usia 24 dan 36 bulan dengan hasil perkembangan yang lebih rendah pada usia berikutnya.
Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap anak yang banyak menggunakan layar pasti mengalami masalah konsentrasi. Hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas yang tergantikan oleh penggunaan layar.
Waktu yang terlalu banyak di depan layar dapat mengurangi kesempatan anak untuk tidur, bergerak, bermain, atau berinteraksi secara langsung dengan orang lain.
4. Jarang Bergerak dan Terlalu Banyak Duduk
Anak memang membutuhkan waktu untuk duduk dan belajar. Namun, tubuh juga membutuhkan aktivitas fisik.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara aktivitas fisik dan kebugaran dengan sejumlah aspek fungsi kognitif serta prestasi akademik.
Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga terstruktur. Bermain di luar rumah, berlari, bersepeda, atau melakukan aktivitas lain yang membuat anak aktif bergerak juga dapat menjadi bagian dari rutinitas.
Sebaliknya, terlalu banyak duduk dan minim bergerak dapat mengurangi kesempatan anak memperoleh manfaat aktivitas fisik bagi fungsi kognitif.
5. Sering Melewatkan Sarapan
Belum lapar sering menjadi alasan anak melewatkan sarapan sebelum berangkat sekolah. Padahal, makan pada pagi hari juga dapat berkaitan dengan fungsi kognitif anak.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience mempelajari hubungan sarapan dengan fungsi kognitif, perilaku, dan performa akademik anak serta remaja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarapan dapat memberikan manfaat pada aspek tertentu dari fungsi kognitif dan perilaku. Namun, efeknya tidak selalu sama pada setiap anak dan dapat dipengaruhi oleh usia serta jenis makanan yang dikonsumsi.
Melewatkan satu kali sarapan memang tidak otomatis membuat anak kehilangan kemampuan untuk fokus. Namun, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak menjadi rutinitas, terutama jika menyebabkan kebutuhan nutrisi anak secara keseluruhan tidak terpenuhi.
6. Belajar di Tengah Banyak Distraksi
Anak yang mengerjakan tugas ketika televisi menyala, mainan berserakan di sekitarnya, atau notifikasi gawai terus bermunculan mungkin terlihat seperti tidak fokus.
Padahal, lingkungan yang dipenuhi berbagai stimulus dapat membuat perhatian lebih mudah terpecah.
Paparan televisi di latar belakang, misalnya, dapat mengganggu kualitas dan pola bermain anak. Hal serupa dapat terjadi ketika anak belajar dalam lingkungan dengan terlalu banyak gangguan.
Televisi yang terus menyala, notifikasi gawai, maupun benda-benda yang menarik perhatian dapat membuat anak lebih sulit mempertahankan fokus pada satu aktivitas.
Namun, sulit fokus tidak otomatis berarti anak malas, tidak disiplin, atau sengaja tidak mau mendengarkan.
Kemampuan perhatian anak dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain kebiasaan sehari-hari, kondisi seperti stres, kecemasan, masalah tidur, gangguan penglihatan atau pendengaran, hingga ADHD juga dapat berperan.
Karena itu, orang tua sebaiknya memperhatikan pola perilaku anak secara keseluruhan. Jika kesulitan berkonsentrasi berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas belajar maupun kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional dapat dipertimbangkan.
