Penulis : Redaksi

JAKARTA — Dalai Lama menyampaikan belas kasih dan doa untuk korban banjir bandang yang melanda wilayah Rasuwa, Nepal, dan Kyirong, Tibet, pada Rabu (26/8/2026). Bencana tersebut menyebabkan korban jiwa, orang hilang, serta kerusakan berat pada bangunan dan infrastruktur.

Pesan belas kasih tersebut disampaikan melalui laman resmi Kantor Dalai Lama pada 27 Agustus 2026. Dalam pesannya, Dalai Lama menyampaikan simpati kepada keluarga korban dan masyarakat yang terdampak.

Dalam pesan berjudul “Pesan Belas Kasih”, Dalai Lama menulis:

“Saya turut berduka cita atas bencana banjir dahsyat di wilayah Rasuwa, Nepal, dan Kyirong, Tibet, yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan kerusakan bangunan yang parah.”

Ia juga menyampaikan doa bagi mereka yang kehilangan nyawa serta belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan dan seluruh masyarakat yang terdampak.

“Saya berdoa untuk semua yang telah kehilangan nyawa, dan menyampaikan simpati serta belasungkawa terdalam saya kepada keluarga yang ditinggalkan dan semua yang terkena dampak tragedi ini.”

Dalai Lama turut menyinggung bahwa kawasan tersebut pernah mengalami bencana sebelumnya. Menurutnya, kondisi itu dapat menjadi gejala dari penyebab yang lebih mendasar, termasuk perubahan iklim atau faktor lainnya.

“Karena wilayah ini juga pernah mengalami bencana di masa lalu, ini tentu merupakan gejala dari penyebab mendasar yang lebih dalam – baik itu perubahan iklim atau faktor lainnya.”

Ia berharap langkah tindak lanjut dapat dilakukan untuk membantu mencegah bencana serupa kembali terjadi.

“Saya berharap tindakan tindak lanjut yang tepat akan diambil, di mana pun memungkinkan, untuk membantu memastikan bahwa bencana seperti itu tidak terulang kembali.”

Pesan tersebut ditutup dengan kalimat “Dengan doa-doaku, Dalai Lama” dan bertanggal 27 Agustus 2026.

Banjir Bandang Nepal-Tibet Dipicu Runtuhnya Gletser

Banjir bandang yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet terjadi setelah bagian gletser di Himalaya runtuh dan memicu aliran air, es, batu, serta material longsoran dalam jumlah besar.

Wilayah Rasuwa di Nepal menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah. Aliran banjir kemudian berdampak ke sejumlah kawasan di sepanjang lembah sungai, sementara di sisi Tibet, wilayah Gyirong juga terdampak material lumpur dan banjir.

Sebelumnya, pakar geofisika dari Earth Observatory di Universitas Columbia, Goran Ekstrom, mengatakan kepada ABC News bahwa longsoran di kawasan pegunungan dapat meluruhkan sebagian gletser dan menghasilkan peristiwa geofisika yang sangat besar.

Peristiwa tersebut sempat tercatat sebagai aktivitas seismik pada seismograf. Material batuan, es, dan air kemudian bergerak cepat menuju lembah sehingga menghasilkan banjir dengan daya rusak besar.

Kondisi geografis Himalaya membuat aliran air dan material longsoran dapat bergerak sangat cepat dari wilayah pegunungan menuju permukiman yang berada di lembah.

Perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor yang disoroti dalam pembahasan mengenai bencana di kawasan Himalaya. Pemanasan global dapat mempercepat pencairan gletser, meski penyebab langsung bencana ini dikaitkan dengan runtuhnya gletser dan material longsoran.

Korban dan Orang Hilang Terus Didata

Data korban terus berubah seiring proses pencarian dan penyelamatan berlangsung. Laporan terbaru menunjukkan jumlah korban jiwa dan orang hilang jauh lebih besar dibandingkan data awal setelah bencana terjadi.

Reuters melaporkan ratusan orang tewas dan lebih dari 1.000 orang masih hilang setelah banjir dahsyat menerjang kawasan Himalaya. Banyak wilayah terdampak mengalami kerusakan jalan dan infrastruktur sehingga proses pencarian korban menjadi lebih sulit.

Di antara orang yang belum ditemukan terdapat warga asing dan wisatawan yang sedang melakukan perjalanan menuju kawasan Tibet, termasuk mereka yang melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash.

Tim penyelamat terus melakukan pencarian menggunakan jalur darat dan helikopter. Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu tantangan utama karena sejumlah wilayah terdampak sulit dijangkau.

Bencana ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan banjir susulan akibat terbentuknya danau yang terbendung material longsoran di kawasan terdampak.

Pesan Dalai Lama menjadi bentuk dukungan moral bagi masyarakat yang terdampak bencana, sekaligus menyoroti pentingnya langkah pencegahan terhadap risiko bencana serupa di kawasan Himalaya.