Penulis : Redaksi

JAKARTA – Seniman Rusia Semyon Skrepetsky, yang dikenal melalui karya-karya karikatur satirnya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, tewas setelah ditembak oleh pelaku tak dikenal di Biala Podlaska, Polandia timur, pada Senin pagi.

Menurut keterangan otoritas Polandia, Skrepetsky yang memiliki nama asli Robert Kuzovkov ditembak tiga kali oleh seorang pria bersenjata pistol. Setelah korban terjatuh, pelaku disebut mendekati dan kembali melepaskan dua tembakan dari jarak dekat.

“Penyelidikan sedang dilakukan terkait pembunuhan warga negara Rusia berusia 44 tahun yang dikenal di media sebagai Semyon Skrepetsky,” kata juru bicara Kejaksaan Lublin, Marcin Kozak, kepada wartawan, Selasa (16/6), seperti dikutip AFP.

Dalam perkembangan penyelidikan, dua warga negara Belarus ditangkap di sekitar Konsulat Belarus di Biala Podlaska. Keduanya diamankan terkait kasus tersebut, meski polisi menyatakan pelaku utama penembakan masih dalam pencarian.

“Kami masih mencari pria yang melakukan kejahatan ini,” ujar juru bicara Kepolisian Lublin, Wakil Inspektur Andrzej Fijolek.

Ia menambahkan bahwa tim investigasi khusus telah dibentuk untuk menangani kasus tersebut.

Juru bicara Pemerintah Polandia, Adam Szlapka, menyebut insiden itu sebagai kasus yang “jelas serius”. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah Polandia sebelumnya sempat menawarkan perlindungan kepada korban, namun tawaran tersebut ditolak.

Setelah insiden penembakan, keluarga Skrepetsky dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Sementara itu, Kozak mengatakan belum ada tuntutan yang diajukan terhadap dua warga Belarus yang ditangkap. Keduanya masih berada dalam pengawasan kejaksaan dan kepolisian.

Siapa Semyon Skrepetsky?

Semyon Skrepetsky dikenal sebagai seniman yang kerap membuat karikatur bernada satir dan provokatif terhadap sejumlah tokoh politik Rusia.

Sasaran kritiknya tidak hanya Presiden Vladimir Putin, tetapi juga pemimpin Soviet Joseph Stalin, tokoh oposisi Alexei Navalny, hingga pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov.

Salah satu karya yang paling dikenal adalah interpretasi ulang ikon Ortodoks klasik yang menggambarkan Stalin menggendong Putin sebagai pengganti sosok Bunda Maria yang menggendong bayi Yesus.

Skrepetsky pindah ke Polandia pada 2021 karena khawatir menghadapi persekusi politik di Rusia. Selama berada di pengasingan, ia tetap aktif menghadiri berbagai kegiatan oposisi Rusia, meski pada saat yang sama juga terbuka mengkritik kelompok oposisi tersebut.

Polandia Khawatir Terjadi Eskalasi Baru

Kepala Biro Keamanan Nasional Polandia (BBN), Bartosz Grodecki, menilai kasus pembunuhan ini berpotensi menjadi indikasi meningkatnya aktivitas Rusia di luar negeri apabila motif politik dalam kasus tersebut terbukti.

“Jika sifat politis dari kejahatan ini dikonfirmasi, kita akan dihadapkan pada manifestasi baru dari eskalasi tindakan yang dilakukan Rusia di luar perbatasannya,” tulis Grodecki melalui akun X.

“Polandia tidak bisa menjadi ruang bagi tindakan semacam itu,” lanjutnya.

Kasus ini berpotensi memperburuk hubungan Polandia dan Rusia yang dalam beberapa waktu terakhir telah mengalami peningkatan ketegangan. Salah satunya terkait insiden jatuhnya drone di wilayah Polandia pada musim gugur lalu yang oleh Warsawa dikaitkan dengan Moskow.

Pembunuhan Skrepetsky juga menambah daftar kasus serangan terhadap individu yang menentang otoritas Rusia di luar negeri.

Pada 2006, mantan agen FSB Alexander Litvinenko meninggal dunia akibat keracunan polonium di Inggris. Kemudian pada 2018, mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya, Yulia Skripal, selamat dari serangan menggunakan zat saraf Novichok.

Kasus lain terjadi di Jerman pada 2019 ketika veteran separatis Chechnya, Zelimkhan Khangoshvili, ditembak mati oleh seorang warga negara Rusia, yang kemudian memicu ketegangan diplomatik antara Berlin dan Moskow.

Sementara itu, pada 2024, Lithuania menyatakan serangan menggunakan palu terhadap Leonid Volkov, mantan tangan kanan Alexei Navalny di Vilnius, “kemungkinan besar” diorganisir oleh Rusia.

Hingga kini, Moskow terus membantah keterlibatan dalam berbagai kasus serangan terhadap tokoh oposisi maupun pengkritik pemerintah Rusia di luar negeri.