Penulis : Redaksi

JAKARTA – Mesir mengungkap peran diplomatik yang dijalankannya setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan menjadi kerangka untuk mengakhiri konflik antara kedua negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Yasser Hasan Farag Elshemy, kepada awak media sebelum pembukaan peringatan Revolusi Mesir 1952 ke-74 di Jakarta, Rabu (23/6).

Menurut Elshemy, Mesir telah terlibat sejak hari pertama konflik dan membuka jalur komunikasi dengan Iran untuk mendukung proses diplomasi.

“Mesir telah aktif terlibat sejak hari pertama konflik. Kami berhasil membuka jalur komunikasi rahasia dengan pihak Iran untuk memfasilitasi pertukaran informasi penting,” kata Elshemy di Westin Hotel.

Ia menjelaskan, Mesir juga terus berpartisipasi dalam berbagai jalur negosiasi bersama sejumlah negara mitra.

“Kami secara konsisten hadir di semua jalur negosiasi bersama mitra kami di Qatar dan Turki, serta dengan Pakistan, Amerika Serikat, dan Iran,” ujarnya.

Elshemy menambahkan, Mesir berkomitmen mempertahankan peran diplomatik aktif selama masa negosiasi 60 hari sebagaimana diatur dalam nota kesepahaman yang telah disepakati AS dan Iran.

MoU tersebut mencakup periode negosiasi selama 60 hari yang ditujukan untuk mengakhiri perang.

Negosiasi lanjutan setelah penandatanganan MoU berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada pekan lalu. Beberapa hasil perundingan mencakup pembentukan komite kerja yang bertugas memantau pelaksanaan nota kesepahaman, termasuk pembahasan mengenai isu nuklir.

Mesir Tegaskan Dukungan kepada Negara-Negara Teluk

Dalam kesempatan yang sama, Elshemy juga menegaskan posisi Mesir terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Ia mengatakan sejak awal perang, Mesir secara konsisten memberikan dukungan politik dan militer kepada negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

“Saya ingin menekankan poin penting: meskipun kami memahami logika strategis Iran, kami berdiri teguh di belakang saudara-saudara kami di negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk),” ucap Elshemy.

Menurutnya, keamanan negara-negara GCC merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kepentingan keamanan nasional Mesir.

“Keamanan nasional GCC merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keamanan nasional Mesir sendiri.”

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Operasi tersebut memicu penutupan Selat Hormuz sebagai respons dari Teheran hingga konflik berlangsung selama berbulan-bulan dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.