Penulis : Redaksi

JAKARTA – Pemerintah Timor Leste menetapkan masa berkabung nasional selama sepekan setelah mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres meninggal dunia pada Senin (22/6).

Keputusan tersebut diumumkan melalui Resolusi Nomor 4/24 tertanggal 3 Juli sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada tokoh yang pernah memimpin Timor Leste pada periode 2017 hingga 2022.

Dalam dokumen resmi yang dipublikasikan pemerintah, masa berkabung berlaku secara nasional mulai pukul 15.00 pada 22 Juni hingga tengah malam 28 Juni.

“Masa berkabung nasional telah diumumkan di seluruh negeri, sebagai tanda duka cita atas meninggalnya Dr. Francisco Guterres Lú Olo, mantan Presiden Republik Demokratik Timor-Leste,” demikian bunyi Pasal 1 dalam resolusi tersebut.

Pemerintah juga meminta seluruh masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang selama masa berkabung berlangsung.

Francisco Guterres meninggal dunia di Prince Court Medical Center, Malaysia. Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai penyakit yang dideritanya.

Jose Ramos Horta Sampaikan Duka Mendalam

Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya mantan kepala negara tersebut.

Dalam pernyataan resmi, Horta menyebut kepergian Guterres sebagai kehilangan besar bagi bangsa Timor Leste.

“Saya menerima kabar ini dengan kesedihan yang mendalam dan menganggap kepergian Presiden Francisco Guterres Lu Olo sebagai kehilangan besar bagi bangsa,” kata Horta.

Sebelum meninggal dunia, Ramos Horta sempat menjenguk Guterres di rumah sakit di Malaysia. Namun, saat itu ia hanya menyampaikan bahwa kondisi mantan presiden tersebut berada dalam keadaan kritis.

Horta juga mengenang Guterres sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan Timor Leste.

Menurutnya, Guterres merupakan patriot besar, pemimpin utama gerakan pembebasan, pemimpin FRETILIN, dan sosok yang pernah menduduki berbagai jabatan tertinggi negara.

Jejak Perjuangan Francisco Guterres

Francisco Lu Olo Guterres lahir pada 7 September 1954 di Ossu. Perjalanan politiknya tidak terlepas dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Timor Leste.

Saat wilayah tersebut masih berada di bawah kolonialisme Portugis, Guterres telah terlibat dalam berbagai gerakan nasional.

Ia juga tetap aktif dalam kelompok perjuangan ketika Timor Leste mendeklarasikan kemerdekaan pada 1975.

Setelah referendum kemerdekaan pada 1999, Guterres terpilih menjadi wakil di Majelis Konstituen. Ia kemudian dipercaya menjadi Presiden pertama Parlemen Nasional Timor Leste.

Karier politiknya terus berlanjut hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Timor Leste pada 2017.

Guterres menjabat sebagai kepala negara hingga 2022 dan menjadi salah satu figur penting dalam perjalanan demokrasi negara tersebut.

Wafatnya Francisco Guterres menandai berakhirnya perjalanan salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah politik dan perjuangan kemerdekaan Timor Leste.