Penulis : Redaksi

Jakarta – Film horor fiksi ilmiah Backrooms (2026) garapan Kane Parsons menjadi perbincangan luas berkat konsep psikologisnya yang kompleks dan ending terbuka yang memicu berbagai teori di kalangan penonton.

Di balik teror makhluk misterius dan lorong-lorong tanpa akhir, film ini menyimpan pertanyaan besar mengenai ingatan, trauma, dan identitas manusia. Lalu, apa makna ending Backrooms (2026)?

Akhir Cerita Backrooms (2026)

Konflik mencapai puncaknya ketika Mary memasuki The Backrooms untuk mencari Clark yang menghilang. Namun setelah bertemu, Clark justru menyerang dan menyekapnya.

Saat sadar, Mary mengetahui Clark telah lama bertahan hidup di The Backrooms dan menjalin hubungan dengan tiga makhluk aneh yang dikenal sebagai Still Life. Dalam kondisi terikat, Mary dipaksa melanjutkan sesi terapi bersama Clark.

Percakapan keduanya menjadi titik balik cerita. Mary menilai akar masalah Clark bukan berasal dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri yang terus terjebak dalam kekecewaan dan keluhan masa lalu.

Ucapan itu membuat Clark tersadar. Ia kemudian membebaskan Mary. Namun sesaat setelah itu, muncul monster bernama Lifeform dalam wujud yang menyerupai versi mengerikan Clark. Upaya Clark menenangkan makhluk tersebut berakhir tragis ketika ia dibunuh.

Mary kemudian menjadi target berikutnya. Ia dikejar Lifeform hingga terpojok di sebuah ruangan berisi tabung gas bocor. Dalam upaya bertahan hidup, Mary menyerang monster tersebut, tetapi akhirnya kehilangan kesadaran akibat gas yang memenuhi ruangan.

Ketika terbangun, Mary mendapati dirinya berada di fasilitas penelitian milik Async. Di sana, ia bertemu ilmuwan bernama Phil yang menjelaskan bahwa perusahaan tersebut awalnya mengembangkan teknologi MRI sebelum menemukan fenomena The Backrooms.

Phil mengungkapkan teori bahwa The Backrooms bekerja layaknya ruang gema bagi ingatan manusia. Tempat itu mereplikasi kenangan, tetapi tidak pernah mampu membentuknya secara sempurna. Karena itulah berbagai lokasi dan sosok di dalam The Backrooms tampak familiar sekaligus ganjil.

Menjelang akhir film, penonton diperlihatkan montase kenangan Mary sejak masa kecil hingga masa dewasanya. Adegan terakhir menampilkan sosok menyerupai Mary dalam bentuk tidak sempurna yang duduk sendirian di dalam The Backrooms.

Interpretasi Ending Backrooms (2026)

Ending film ini sengaja dibuat terbuka sehingga memunculkan berbagai penafsiran.

Salah satu interpretasi menyebut Mary telah menghabiskan cukup waktu di The Backrooms hingga tempat tersebut menyerap memorinya dan menciptakan salinan dirinya. Sosok yang terlihat pada adegan terakhir diyakini merupakan versi “abadi” Mary yang akan terus berada di sana.

Dalam sudut pandang ini, Backrooms bukan sekadar film monster, melainkan kisah tentang bagaimana trauma dan kenangan buruk dapat menjadi penjara psikologis bagi seseorang.

Clark digambarkan terperangkap oleh kegagalan karier dan perceraian yang dialaminya. Sementara Mary juga membawa luka emosional dari masa kecilnya. The Backrooms kemudian menjadi representasi fisik dari beban psikologis tersebut.

Interpretasi lain melihat The Backrooms sebagai manifestasi alam bawah sadar kolektif yang terus berkembang. Ruang tersebut menyerap pengalaman manusia dan mengubahnya menjadi lingkungan liminal yang asing, sekaligus menciptakan makhluk-makhluk yang merupakan reproduksi tidak sempurna dari individu yang pernah memasukinya.

Dalam teori ini, monster dan Still Life bukan ciptaan The Backrooms semata, melainkan hasil rekonstruksi ingatan yang cacat terhadap manusia yang pernah berada di dalamnya.

Apakah Mary Selamat?

Film tidak memberikan jawaban pasti mengenai nasib Mary.

Penonton hanya mengetahui bahwa ia berhasil keluar dari area utama The Backrooms dan tiba di fasilitas penelitian Async. Namun keberadaan versi dirinya dalam bentuk Still Life memunculkan pertanyaan baru: apakah Mary benar-benar telah bebas, atau sebagian dirinya tetap terperangkap di dalam ruang tersebut?

Ketidakjelasan itulah yang menjadi salah satu elemen horor utama film ini.

Respons Kane Parsons

Menariknya, Kane Parsons memilih tidak memberikan penjelasan definitif mengenai makna ending film tersebut.

Ia mengaku sengaja membiarkan penonton membangun interpretasi masing-masing tanpa dipengaruhi oleh pandangan sang kreator.

Menurut Parsons, menjelaskan secara rinci makna sebuah karya sering kali mengurangi pengalaman penonton dalam menafsirkan cerita.

Meski demikian, ia memberikan satu kepastian terkait berbagai teori yang berkembang.

“Itu bukan mimpi.”

Pernyataan singkat tersebut menjadi satu-satunya petunjuk resmi yang diberikan Parsons mengenai misteri besar di balik Backrooms (2026).