Jambi – Kisruh kasus dugaan penipuan proyek Irigasi (Tanggul) yang melibatkan PT. Karya Perdana Rifani dan PT. Wijaya Karya (WIKA) berlanjut. Persoalan ini mencuat setelah Rohmadi melaporkan Ritas M selaku Direktur Utama PT. Karya Perdana Rifani diduga melakukan tindak pidana penipuan dalam pekerjaan proyek Irigasi (Tunggul). Dalam kontrak kerja sama proyek, disebutkan PT. Karya Perdana Rifani dan PT. Wijaya Karya (WIKA) .
Lebih lanjut, untuk mendapatkan pernyataan resmi dan pemberitaan yang berimbang dari pihak perusahaan PT. WIKA, redaksi berupaya mengunjungi kantor pelayanan WIKA yang berada di Kota Jambi, Kamis 11 Juni 2026.
Namun, kondisi kantor layanan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terkemuka di Indonesia tersebut tampak sepi tidak ada aktivitas pekerjaan. Bahkan menurut keterangan salah seorang yang mengaku sebagai sopir rental, dikantor WIKA tidak ada karyawan sama sekali.


PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi, EPC (Engineering, Procurement, Construction), dan investasi.
Awalnya Arif sempat mempertanyakan maksud kedatangan awak media kekantor tersebut, setelah mendapat kan penjelasan, Arif meminta ditunggu diluar sambil melangkah masuk kedalam kantor, selang beberapa waktu kemudian, ia mengatakan tidak ada staff atau karyawan dikantor.
Saat diwawancarai, Arif yang mengaku sebagai sopir tersebut mengatakan, dikantor sudah tidak ada aktivitas semenjak Februari 2026 karena pekerjaan proyek sudah selesai.
Sikapnya dingin tidak bersahabat. Meski demikian, dirinya beberapa kali menanyakan “lokasi proyek yang dimana yang mau dipertanyakan?”
“Yang ada hanya anak magang,” kata Arif.
Disatu sisi dirinya mengaku bukanlah pihak yang berwenang untuk menjawab pertanyaan dari media. Disisi lain, Arif beberapa kali mempertanyakan, “lokasi proyek nya yang dimana?”.
Mendapati sikap yang tidak kooperatif, awak media bergegas pamit serta meminta untuk mengisi buku tamu sebagai bukti kehadiran.
Alih – alih mempersilahkan mengisi buku tamu, Arif mengaku tidak ada mengetahui. Disinggung siapa yang bertanggung jawab dikantor, dirinya juga mengaku tidak tahu apa-apa.
Timbul pertanyaan, bagaimana mungkin selevel BUMN Wijaya Karya (WIKA) tidak memiliki manajemen standar official yang pada umumnya ada security, ada resepsionis, humas hingga struktur lengkap layaknya sebuah kantor?
Apakah memang tidak ada staff kantor atau memang ada hal yang sembunyikan? Sampai berita ini diterbitkan, pihak WIKA tidak ada yang bisa dikonfirmasi sama sekali. (Garuda)
