Jakarta – Nama Jenderal Ahmad Yani menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Tepat 104 tahun sejak kelahirannya, kembali dikenang sebuah kisah yang menunjukkan besarnya kepercayaan Presiden Soekarno kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut.
Pada September 1965, Ahmad Yani yang saat itu tengah bermain golf menerima panggilan mendadak dari Presiden Soekarno untuk segera datang ke Istana Negara.
Tanpa sempat berganti pakaian, Ahmad Yani langsung memenuhi panggilan tersebut. Setibanya di Istana, Soekarno mengungkap alasan dirinya meminta sang jenderal datang secara mendadak.
Menurut penuturan Ahmad Yani kepada Menteri Pengairan Dasar Kanisius Haryasudirja Sasraningrat, Soekarno mengaku baru saja memperoleh wangsit saat tidur siang. Dalam pertemuan itu, Presiden pertama Republik Indonesia tersebut menyampaikan bahwa Ahmad Yani harus bersiap menggantikannya apabila suatu saat dirinya tidak lagi dapat menjalankan tugas sebagai kepala negara.
“Yani, saya baru tidur siang dan dalam tidur saya menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa, yaitu kalau ada apa-apa dengan saya, sehingga saya tidak dapat menjalankan tugas kepresidenan, ataupun saya mati, maka kau harus menggantikan saya menjadi Presiden Republik Indonesia.”
Kisah tersebut tercatat dalam buku Haryasudirja: Tokoh Pejuang Kemerdekaan, Pembangunan dan Pendidikan (2005).
Mendengar pernyataan tersebut, Ahmad Yani mengaku terkejut. Ia menilai masih banyak tokoh nasional yang lebih senior dan memiliki posisi politik lebih kuat untuk menjadi penerus Soekarno.
Bahkan dari kalangan militer, Ahmad Yani menilai sosok yang lebih layak saat itu adalah Jenderal A.H. Nasution yang memiliki senioritas lebih tinggi.
Meski demikian, Soekarno tetap pada pendiriannya. Menurutnya, petunjuk yang diterimanya mengarah kepada Ahmad Yani sebagai sosok yang harus melanjutkan kepemimpinan nasional jika dirinya berhalangan.
Jenderal yang Dekat dengan Soekarno
Ahmad Yani dikenal sebagai salah satu perwira yang memiliki hubungan dekat dengan Soekarno. Kedekatan itu semakin kuat setelah ia dipercaya menjabat sebagai KSAD pada tahun 1962.
Dalam buku Militer dan Politik di Indonesia (1999), Harold Crouch menyebut Soekarno menaruh kepercayaan besar kepada Ahmad Yani karena dianggap memiliki karakter yang lebih fleksibel dibanding sejumlah jenderal lainnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh ajudan Presiden Soekarno, Maulwi Saelan, dalam buku Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno (2015). Dalam catatannya, Maulwi menyebut Ahmad Yani sebagai salah satu jenderal yang paling disayangi oleh Bung Karno.
Kedekatan tersebut membuat Soekarno sangat terpukul ketika mendengar kabar penculikan dan kematian Ahmad Yani dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).
“Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang paling disayanginya,” tulis Maulwi Saelan.
Harapan yang Tak Pernah Terwujud
Peristiwa G30S menjadi titik balik yang mengubah arah sejarah Indonesia. Ahmad Yani gugur dalam peristiwa tersebut sebelum harapan Soekarno untuk melihatnya menjadi penerus kepemimpinan nasional sempat terwujud.
Setelah pergolakan politik yang terjadi pasca-G30S, kepemimpinan Indonesia akhirnya beralih kepada Jenderal Soeharto yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia kedua.
Kisah pertemuan antara Soekarno dan Ahmad Yani itu hingga kini tetap menjadi salah satu cerita menarik dalam sejarah politik Indonesia, sekaligus menggambarkan besarnya kepercayaan yang pernah diberikan Bung Karno kepada salah satu jenderal terbaik yang dimiliki bangsa ini.
