Pidato saya berjudul “Cerdas Menggunakan yang Cerdas”.
Teman-teman, kalau beberapa tahun lalu kita bertanya kepada Google, sekarang kita bertanya kepada AI. Kalau dulu tugas sekolah dikerjakan berjam-jam, sekarang beberapa menit saja sudah bisa dibantu teknologi. Bahkan ada yang bercanda, “yang capek sekarang bukan otak, tapi jari karena kebanyakan mengetik prompt.”
Namun di balik semua kemudahan itu, ada satu pertanyaan penting: apakah kita semakin berkembang, atau hanya semakin bergantung?
Kita hidup di masa yang luar biasa. AI mampu membuat tulisan, gambar, musik, bahkan membantu pekerjaan yang dulu membutuhkan banyak orang. Teknologi ini membuka peluang yang sangat besar. Tetapi seperti pisau yang bisa digunakan untuk memasak atau melukai, AI juga bergantung pada siapa yang menggunakannya.
Karena itu, tantangan terbesar generasi kita bukanlah melawan AI, melainkan menjaga keseimbangan di tengah kemajuan AI.
Kita harus seimbang antara memanfaatkan teknologi dan tetap berpikir kritis. Jangan sampai semua jawaban dicari dari AI, sementara rasa ingin tahu kita justru menghilang.
Kita harus seimbang antara kecepatan dan kebijaksanaan. Di zaman yang serba instan, tidak semua hal harus diselesaikan dengan tergesa-gesa. Karakter, pengalaman, dan kedewasaan tetap membutuhkan proses.
Kita juga harus seimbang antara dunia digital dan dunia nyata. Jangan sampai kita punya ribuan teman di media sosial, tetapi kehilangan kemampuan untuk mendengar, berbicara, dan peduli kepada orang-orang di sekitar kita.
