Jakarta – Istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini resmi berganti menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Perubahan nomenklatur tersebut diumumkan melalui publikasi ilmiah dalam jurnal medis The Lancet pada 2026.
Perubahan nama ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi yang dialami pasien. Selama ini, PCOS sering diasosiasikan dengan keberadaan kista pada ovarium, padahal gangguan tersebut melibatkan berbagai sistem tubuh dan tidak selalu ditandai dengan adanya kista.
Berikut lima fakta penting mengenai perubahan PCOS menjadi PMOS:
1. PCOS Tidak Selalu Ditandai dengan Kista Ovarium
Selama bertahun-tahun, istilah PCOS menimbulkan anggapan bahwa setiap penderita pasti memiliki kista ovarium. Padahal, temuan pada pemeriksaan USG umumnya berupa kumpulan folikel kecil yang belum matang, bukan kista dalam pengertian medis yang umum.
Karena itu, istilah PMOS dinilai lebih tepat karena tidak hanya berfokus pada kondisi ovarium semata.
2. PMOS Melibatkan Banyak Sistem Tubuh
PMOS bukan sekadar gangguan reproduksi yang menyebabkan menstruasi tidak teratur atau kesulitan mendapatkan keturunan. Kondisi ini juga berkaitan dengan gangguan hormon, metabolisme tubuh, kesehatan kulit, berat badan, hingga kesehatan mental.
Perubahan hormonal yang terjadi dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan sehingga membutuhkan pendekatan penanganan yang lebih menyeluruh.
3. Banyak Kasus Berisiko Terlambat Terdiagnosis
Penggunaan istilah PCOS selama ini dinilai berpotensi membuat sebagian pasien terlambat memperoleh diagnosis. Tidak sedikit perempuan yang mengalami gejala khas seperti siklus haid tidak teratur, jerawat berat, rambut rontok, pertumbuhan rambut berlebih, resistensi insulin, hingga gangguan kesuburan tanpa ditemukan kista ovarium yang jelas.
Dengan penggunaan istilah PMOS, diharapkan proses identifikasi dan diagnosis dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
4. PMOS Dapat Menimbulkan Risiko Kesehatan Jangka Panjang
PMOS tidak hanya berdampak pada masa reproduksi, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Kondisi ini diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, sleep apnea, perlemakan hati, hingga berbagai gangguan kesehatan mental. Oleh sebab itu, pemantauan kesehatan metabolik menjadi bagian penting dalam penanganannya.
5. Perubahan Nama Didasarkan pada Konsensus Global
Pergantian nama PCOS menjadi PMOS bukan keputusan yang diambil secara sepihak. Proses penyusunannya melibatkan 56 organisasi akademik, klinis, serta kelompok pasien dari berbagai negara.
Lebih dari 14.300 responden turut berpartisipasi dalam proses yang berlangsung selama sekitar 14 tahun. Tujuan utamanya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat, mengurangi stigma, memperbaiki proses diagnosis, serta mendukung penanganan yang lebih tepat bagi pasien.
Dengan nama baru ini, masyarakat diharapkan memahami bahwa PMOS merupakan kondisi kompleks yang tidak hanya berkaitan dengan ovarium. Perempuan yang mengalami gejala seperti menstruasi tidak teratur, jerawat berat, rambut rontok, pertumbuhan rambut berlebih, perubahan berat badan, maupun tanda-tanda resistensi insulin disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
