Sejumlah perusahaan raksasa di bidang kecerdasan buatan (AI) segera melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Mereka saling mengamati langkah satu sama lain. IPO ini akan menjadi ujian terhadap valuasi fantastis yang selama ini melekat pada perusahaan-perusahaan AI tersebut.
Pertengahan Mei lalu, perusahaan pembuat cip AI, Cerebras, melakukan penawaran saham perdana (IPO). Mereka disebut meraih sukses besar dengan mengangkat kapitalisasi pasarnya mendekati 100 miliar dolar AS. Sejumlah perusahaan raksasa AI lainnya juga dikabarkan tengah menyiapkan IPO. Publik pun menunggu apakah valuasi perusahaan AI yang terus melonjak benar-benar teruji atau sekadar pepesan kosong.
Saham Cerebras melonjak 68 persen pada debutnya di Nasdaq. Lonjakan ini mengakhiri perjalanan luar biasa perusahaan yang sempat menarik pengajuan IPO tujuh bulan sebelumnya. Saat itu, mereka memilih mengumpulkan modal melalui pendanaan swasta.
Menurut Forbes, pada Februari lalu Cerebras memiliki valuasi sebesar 23,1 miliar dolar AS. Kini perusahaan tersebut menikmati gelombang baru permintaan cip AI yang juga turut mengangkat saham Intel, Advanced Micro Devices (AMD), dan Micron.
Langkah Cerebras kemudian memunculkan spekulasi bahwa perusahaan AI lain akan mengikuti jejak serupa. Berbagai rumor beredar dan sejumlah kalangan menyebut beberapa perusahaan besar tengah bersiap melantai di bursa melalui IPO.
Sejumlah pihak bahkan telah memperingatkan kemungkinan munculnya gelembung ekonomi (bubble) di sektor AI akibat valuasi yang dianggap tidak realistis.
Laman Yahoo Finance menyebutkan bahwa OpenAI, perusahaan yang memimpin pengembangan AI generatif, dilaporkan tengah mempersiapkan IPO. Aksi korporasi tersebut berpotensi memberikan valuasi mendekati satu triliun dolar AS dan menjadikannya salah satu IPO teknologi terbesar dalam sejarah.
Perusahaan ini menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari 20 miliar dolar AS dengan laju pertumbuhan pendapatan tiga digit per tahun. Saat ini mereka memiliki sekitar 810 juta pengguna aktif bulanan dan satu juta pelanggan korporasi.
OpenAI baru saja menutup putaran pendanaan yang meningkatkan valuasinya menjadi 730 miliar dolar AS dengan dukungan dari Amazon, SoftBank, Nvidia, dan Microsoft. Perusahaan tersebut menargetkan pencatatan saham publik paling cepat pada kuartal IV tahun 2026.
IPO juga dikabarkan akan dilakukan oleh Anthropic. Perusahaan yang dikenal sebagai laboratorium AI yang berfokus pada aspek keamanan ini didukung oleh Google dan sebelumnya diperkirakan memiliki valuasi sekitar 380 miliar dolar AS. Namun, berdasarkan pendanaan terbaru, valuasi Anthropic disebut-sebut telah melampaui OpenAI dan mencapai 965 miliar dolar AS.
Anthropic beberapa hari lalu juga dipilih oleh Vatikan untuk menjadi bagian dari kampanye keselamatan AI. Untuk pertama kalinya, Vatikan menjalin aliansi dengan korporasi dalam pengembangan AI.
Sejumlah kalangan memperkirakan Anthropic tengah menjajaki pencatatan saham publik pada periode yang sama, yakni kuartal IV tahun ini. Namun, OpenAI dan Anthropic hanyalah permulaan.
Di samping keduanya, pasar tentu menunggu mega IPO dari gabungan SpaceX–xAI milik Elon Musk. Musk telah membangun struktur perusahaan yang dianggap paling berani dalam teknologi modern. Pada Februari lalu, ia menggabungkan SpaceX—perusahaan kedirgantaraannya—dengan xAI, perusahaan AI yang terhubung dengan platform media sosial X, untuk menciptakan konglomerat bernilai triliunan dolar AS.
Konglomerasi tersebut menggabungkan penyedia peluncuran orbital terkemuka di dunia, laboratorium AI terdepan, serta platform media sosial global dalam satu entitas bisnis.
Entitas gabungan itu awalnya menargetkan IPO paling cepat pada Juni dengan valuasi yang menurut sejumlah sumber mencapai 1,5 triliun dolar AS. Spekulasi semakin menguat karena mereka diduga akan segera melantai di bursa dalam waktu dekat.
Valuasi Riil
Rencana IPO dan valuasi yang terkesan gila-gilaan membuat publik ingin memastikan bahwa nilai perusahaan tersebut benar-benar riil dan bukan sekadar angka di atas kertas. Valuasi yang ada kerap dinilai tidak rasional. Bahkan, tidak sedikit yang menduga semua itu hanyalah bentuk penggelembungan nilai tanpa didukung alasan bisnis yang memadai.
Publik pernah mengalami trauma terhadap kasus serupa. Beberapa tahun lalu, persoalan ini muncul pada perusahaan WeWork. Menjelang IPO, para analis mulai meragukan valuasi perusahaan tersebut. Mereka kemudian memberikan penilaian negatif sehingga valuasinya anjlok drastis. Hingga kini, perusahaan tersebut belum sepenuhnya bangkit.
Sejumlah kalangan kembali memperingatkan kemungkinan sektor AI membentuk gelembung ekonomi karena valuasi yang tidak realistis. Jika gelembung tersebut pecah, bukan hanya valuasi perusahaan yang jatuh, tetapi juga dapat mengganggu perekonomian secara lebih luas.
Dana investasi dalam jumlah besar telah mengalir ke perusahaan-perusahaan AI. Namun, dana tersebut dapat menguap dalam waktu singkat apabila ternyata valuasi riil perusahaan jauh berada di bawah angka yang selama ini digembar-gemborkan.
Akhir tahun lalu, Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, menyoroti kemungkinan terjadinya gelembung AI dalam sebuah wawancara dengan CNBC. Ia mencatat bahwa kontribusi produktivitas yang sangat positif dari perusahaan teknologi dapat diimbangi oleh ketidakpastian terkait aliran pendapatan masa depan di sektor tersebut.
“Kita harus sangat waspada terhadap risiko-risiko ini,” kata Bailey.
