Jakarta — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa uji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti LPG 3 kilogram (kg) masih dalam tahap pengembangan.
Menurut Bahlil, langkah ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menekan impor LPG yang saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.
“CNG ini untuk 3 kg masih kita melakukan exercise dan uji-coba terhadap tabungnya,” ujar Bahlil saat ditemui di kantornya, Rabu (6/5).
Ia menjelaskan, inisiatif tersebut juga bertujuan untuk mengurangi beban subsidi energi yang saat ini berada di kisaran Rp80 triliun hingga Rp87 triliun per tahun.
Besaran anggaran tersebut berlaku dalam kondisi normal, dan berpotensi meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia akibat situasi geopolitik global.
Karena itu, pemerintah berupaya mencari alternatif energi berbasis sumber daya alam dalam negeri guna meningkatkan efisiensi.
“Nah, tidak ada cara lain, dalam rangka membangun efisiensi adalah kita mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG, kira-kira itu,” jelasnya.
Bahlil juga meminta masyarakat untuk menunggu hasil uji coba yang saat ini masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa jika program ini berhasil, dampaknya akan memberikan keuntungan besar bagi negara.
“Kapan ini selesai, nanti tunggu uji-coba daripada tabung 3 kg-nya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa penggunaan CNG sebagai bahan bakar sebenarnya bukan hal baru. Selama ini, CNG telah digunakan di sektor komersial seperti hotel dan restoran, meskipun dengan kapasitas tabung yang lebih besar, yakni 20 kg.
“Itu sudah dipakai di hotel dan restoran dan prudent, bagus, dan ini lebih efisien. Tapi kan rakyat kan tidak mungkin kita suruh yang berat-berat itu 20 kg. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kg-nya, ini lagi kita tes,” pungkasnya.
