Penulis : Redaksi

Jakarta — Jepang mulai kembali mengimpor minyak mentah dari Rusia guna memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap terjaga.

Langkah ini menjadi yang pertama sejak 2022, menyusul terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan Seoul Economic Daily, Sabtu (2/5).

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang melalui perusahaan penyulingan Taiyo Oil telah mengamankan pasokan minyak mentah dari proyek Sakhalin-2. Informasi ini disampaikan kantor berita Kyodo News pada Selasa (28/4).

Proyek Sakhalin-2 merupakan kerja sama pengembangan minyak dan gas alam di wilayah Timur Jauh Rusia. Minyak tersebut dikirim menggunakan kapal tanker dari Sakhalin pada akhir bulan lalu melalui kontrak spot, yakni skema transaksi dengan pengiriman dan pembayaran segera.

Pasokan minyak mentah itu diperkirakan tiba di kilang Taiyo Oil di Prefektur Ehime paling cepat pada Rabu malam.

Sebagai tambahan informasi, proyek Sakhalin-2 dipimpin oleh perusahaan energi milik negara Rusia, Gazprom, yang memproduksi gas alam cair (LNG) dan minyak mentah. Aktivitas penambangan terpusat di lapangan gas Lunskoye yang berada di lepas pantai timur laut Sakhalin.

Perusahaan asal Jepang, Mitsubishi Corporation dan Mitsui & Co., juga terlibat dalam proyek tersebut melalui kepemilikan saham.

Menurut Kyodo News, impor minyak mentah dari Rusia ini merupakan bagian dari strategi Jepang dalam mendiversifikasi sumber pasokan energi.

Sementara itu, kantor berita Rusia TASS melaporkan bahwa minyak tersebut diangkut menggunakan kapal tanker Voyager dan diperkirakan tiba di pelabuhan Kikuma, Pulau Shikoku pada Minggu (3/5). Selanjutnya, kapal berbendera Oman tersebut akan menyalurkan minyak ke kilang Taiyo Oil di wilayah yang sama.

Perwakilan Taiyo Oil menyebutkan bahwa jenis minyak yang diimpor adalah Sakhalin Blend dan proses tersebut dilakukan dengan koordinasi bersama pemerintah Jepang.

Di sisi lain, pemerintah Jepang juga mulai melepas cadangan minyak nasional tambahan dari pangkalan di Prefektur Ibaraki. Jumlah yang dilepaskan setara dengan kebutuhan konsumsi domestik selama 20 hari.

Sebanyak 10 pangkalan minyak di seluruh Jepang akan secara bertahap merilis total 5,8 juta kiloliter.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa negaranya menargetkan sekitar 60 persen kebutuhan minyak mentah pada Mei dapat dipenuhi melalui jalur yang tidak melewati Selat Hormuz.

Dalam Rapat Menteri terkait situasi di Timur Tengah pada 25 April, ia juga menyampaikan bahwa pasokan energi tidak hanya berasal dari Timur Tengah dan Amerika Serikat, tetapi juga dari Asia Tengah, Amerika Latin, serta kawasan Asia-Pasifik.

Kebijakan ini diambil setelah sebelumnya Jepang melepas cadangan minyak nasional setara 50 hari konsumsi untuk menjaga stabilitas pasokan energi, menyusul konflik yang terjadi di kawasan Asia Barat.