Penulis : Redaksi

JAKARTA – Lalat menjadi salah satu serangga yang paling mengganggu ketika sedang makan. Meski sudah berusaha menjaga makanan tetap tertutup, terkadang lalat masih sempat hinggap pada makanan yang hendak disantap.

Lantas, apakah makanan yang sudah dihinggapi lalat masih aman dikonsumsi atau sebaiknya langsung dibuang?

Sebagian orang mungkin menganggap lalat hanya sebagai gangguan kecil. Terlebih jika serangga tersebut hanya hinggap selama beberapa detik sebelum kembali terbang.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa lalat dapat membawa berbagai mikroorganisme dari tempat-tempat yang sebelumnya mereka datangi.

Lalat rumah, misalnya, dapat berpindah dari sampah, kotoran hewan, hingga berbagai permukaan yang terkontaminasi sebelum kemudian mendarat pada makanan.

“Pada kenyataannya, lalat rumah dapat memindahkan kuman yang mereka ambil dari sampah, kotoran hewan, dan permukaan terkontaminasi lainnya melalui kaki dan tubuh mereka, dan mereka sering memuntahkan enzim pencernaan ke makanan,” kata pakar keamanan pangan Vanessa Coffman, dikutip dari Martha Stewart.

Apa yang Terjadi Saat Lalat Hinggap di Makanan?

Bukan hanya kaki dan tubuhnya yang berpotensi membawa kontaminan. Cara lalat makan juga menjadi alasan mengapa serangga ini dapat mencemari makanan.

Ahli entomologi Marcus Griswold menggambarkan mulut lalat seperti spons dapur bekas yang dapat membawa berbagai kotoran dan bakteri.

Hal ini berkaitan dengan cara lalat mengonsumsi makanan. Lalat tidak memiliki gigi untuk mengunyah makanan seperti manusia.

“Mereka tidak memiliki gigi, jadi mereka memuntahkan enzim yang bertindak seperti asam untuk menguraikan makanan Anda,” kata Griswold.

Enzim tersebut membantu mencairkan makanan sehingga kemudian dapat dikonsumsi oleh lalat.

Beberapa jenis lalat, termasuk lalat hijau dan lalat biru, juga perlu mendapat perhatian karena dapat berpindah dari kotoran atau material organik yang membusuk ke makanan manusia.

Hinggap Sebentar Tetap Bisa Membawa Kontaminan

Meski lalat hanya hinggap sebentar, kemungkinan terjadinya perpindahan mikroorganisme tetap ada.

Pakar keamanan pangan Mark McShane menjelaskan lalat merupakan pemakan yang cepat. Ketika mendarat, bagian mulutnya dapat segera bersentuhan dengan makanan.

Pada saat yang sama, mikroorganisme yang menempel pada tubuh atau kaki lalat juga berpotensi berpindah ke permukaan makanan.

Namun, tingkat risiko tidak selalu sama dalam setiap kondisi. Lamanya lalat berada di makanan, jumlah lalat, jenis makanan, kondisi lingkungan, serta cara penyimpanan makanan dapat memengaruhi risiko kontaminasi.

Kapan Makanan Sebaiknya Dibuang?

Para ahli menyarankan lebih berhati-hati apabila lalat telah berulang kali hinggap atau berada cukup lama pada makanan.

Makanan sebaiknya tidak dikonsumsi apabila terlihat adanya kotoran, telur lalat, belatung, atau tanda-tanda kontaminasi lainnya.

Kehati-hatian juga penting untuk makanan yang akan dikonsumsi kelompok yang lebih rentan terhadap penyakit akibat makanan, seperti anak kecil, lanjut usia, ibu hamil, maupun orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Untuk mengurangi risiko, makanan sebaiknya selalu disimpan dalam wadah tertutup dan tidak dibiarkan terlalu lama dalam kondisi terbuka.

Menjaga kebersihan meja makan, dapur, tempat sampah, serta area penyimpanan makanan juga dapat membantu mencegah datangnya lalat.

Jadi, makanan yang hanya dihinggapi lalat dalam waktu sangat singkat tidak otomatis menyebabkan seseorang sakit. Namun, karena lalat berpotensi membawa mikroorganisme penyebab penyakit, prinsip kehati-hatian tetap perlu diterapkan, terutama jika lalat hinggap berulang kali atau terdapat tanda kontaminasi pada makanan.