Jakarta — Pakistan memaparkan langkah yang ditempuh untuk menghadapi persoalan keamanan di wilayah perbatasannya sekaligus tetap berupaya berperan dalam mendorong perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Zahid Hafeez Chaudhri kepada awak media di Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta, Jumat (26/6).
“Saya pikir hal-hal ini saling bertentangan. Sebenarnya tidak sepenuhnya demikian, maksud saya, ya, kita punya perbatasan yang panjang dengan Afghanistan, di mana itu adalah perbatasan yang damai. Tetapi tentu saja, kita punya kepentingan yang nyata dalam perdamaian di Iran,” kata Zahid.
Pakistan Soroti Keamanan di Perbatasan Afghanistan
Menurut Zahid, salah satu perhatian utama pemerintah Pakistan adalah kondisi di perbatasan dengan Afghanistan.
Ia menyebut kelompok Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) kerap melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan Pakistan. Islamabad, kata dia, menuduh Taliban Afghanistan melindungi kelompok tersebut, meski tuduhan itu telah dibantah.
“Kekhawatiran utama kami saat ini adalah bahwa tanah Afghanistan tidak boleh digunakan untuk melawan negara lain, khususnya Pakistan,” katanya.
Zahid menuturkan sebagian besar insiden teror di Pakistan berasal dari Afghanistan, baik dalam bentuk pendanaan maupun perencanaan serangan yang berdampak pada keamanan nasional.
“Pakistan sangat menderita akibat insiden teroris di negara kami. Jadi setiap kejadian teroris di Pakistan yang disponsori oleh pihak luar, khususnya Afganistan, akan ditanggapi dengan kekuatan penuh negara Pakistan,” ujarnya.
Meski demikian, Pakistan tetap menginginkan situasi yang damai dan stabil di Afghanistan karena kondisi keamanan di negara tetangga dinilai memiliki dampak langsung terhadap Pakistan.
Dorong Perdamaian di Timur Tengah
Selain isu keamanan perbatasan, Zahid mengatakan Pakistan ingin terus berkontribusi dalam upaya menciptakan perdamaian di Asia Barat atau Timur Tengah.
Menurutnya, berakhirnya konflik akan membawa dampak positif terhadap stabilitas kawasan, termasuk di sektor ekonomi, pangan, dan energi.
“Dan kita percaya bahwa berakhirnya perang, ini penting untuk mengamankan perdamaian di kawasan ini, Ini penting untuk stabilitas ekonomi kawasan, untuk ketahanan pangan kawasan, tidak hanya kawasan, tetapi seluruh dunia, keamanan energi kawasan dan sekitarnya,” ucap Zahid.
Ia kemudian mencontohkan pembukaan Strait of Hormuz sebagai salah satu hasil dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang menurutnya dimediasi oleh Pakistan.
Selat Hormuz sebelumnya menjadi perhatian dunia setelah ditutup sebagai respons Iran terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia, terutama menuju negara-negara di Asia.
Zahid juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati penandatanganan nota kesepahaman (MoU), kemudian melanjutkan negosiasi langsung di Burgenstok, Swiss.
MoU tersebut mencakup penghentian pertempuran di seluruh front, pencairan aset Iran yang dibekukan Amerika Serikat, pembukaan Selat Hormuz, serta pembahasan mengenai masa depan program nuklir Iran.
Melalui negosiasi tersebut, kedua negara juga sepakat membentuk komite kerja yang akan memantau isu nuklir serta proses pencairan aset Iran senilai US$12 miliar.
