JAKARTA – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Agus Suryonugroho, melakukan audiensi dengan Gubernur Bali I Wayan Koster di Kantor Gubernur Bali, Kamis (5/3). Pertemuan tersebut membahas kesiapan pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 yang berdekatan dengan dua momentum keagamaan besar, yakni Idulfitri dan Hari Raya Nyepi.
Agus menjelaskan bahwa Operasi Ketupat merupakan operasi kemanusiaan yang tidak hanya berfokus pada pengaturan lalu lintas, tetapi juga memastikan keamanan masyarakat selama periode mudik dan perayaan hari besar.
“Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Jadi bukan hanya di bidang lalu lintas, bukan hanya mengamankan arus mudik dan arus balik, tetapi negara hadir dalam rangka mengamankan momentum sosial masyarakat,” kata Agus dalam keterangannya, Jumat (6/3).
Ia menerangkan, pengamanan dalam Operasi Ketupat mencakup beberapa klaster penting, seperti jalur tol, jalan arteri, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, hingga kawasan wisata.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah jalur penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang. Menurut Agus, pengaturan jadwal penyeberangan telah disiapkan untuk menyesuaikan dengan pelaksanaan Nyepi di Bali.
“Penyeberangan Gilimanuk sudah diatur jam berapa dibuka dan jam berapa ditutup, termasuk dari Ketapang ke Gilimanuk. Kami juga sudah mendapat laporan dari Dirlantas Polda Bali,” ujarnya.
Selain jalur transportasi, kawasan wisata di Bali juga menjadi fokus pengamanan karena pulau tersebut merupakan salah satu tujuan utama wisata masyarakat saat libur Lebaran.
Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menyatakan Pemerintah Provinsi Bali siap mendukung penuh program pengamanan yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia karena berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat.
Koster juga menanggapi isu yang sempat berkembang di media sosial terkait dugaan benturan antara Nyepi dan Idulfitri. Ia menegaskan bahwa kedua perayaan tersebut sebenarnya tidak berlangsung pada waktu yang sama.
“Tidak berhimpit sebenarnya. Nyepi pada 19 Maret, kemudian Ngembak Geni tanggal 20 pagi. Sore harinya baru malam takbiran, karena Idulfitri diperkirakan tanggal 21. Jadi tidak beririsan sebenarnya,” kata Koster.
Menurutnya, pemerintah daerah bersama tokoh agama di Bali telah menyepakati pengaturan kegiatan keagamaan melalui surat edaran bersama yang melibatkan seluruh majelis umat beragama, termasuk Majelis Ulama Indonesia.
“Kami sudah membuat surat edaran bersama dengan semua majelis umat beragama di Bali, terutama dengan Majelis Ulama Indonesia. Jadi semuanya sudah klir dan tidak ada masalah,” ujar Koster.

