JAKARTA — Film terbaru sutradara pemenang Oscar, Alejandro G. Iñárritu, Digger, menuai beragam kritik tajam dari para kritikus film. Karya yang memadukan dark comedy dan satire tersebut dinilai sejumlah kritikus belum mampu menghadirkan cerita yang memuaskan.
Sejak tayang perdana pada 2 Oktober 2026, film yang dibintangi Tom Cruise itu mendapat respons kurang menggembirakan dari kritikus di laman agregator Rotten Tomatoes. Per Jumat (2/10), Digger memperoleh skor 54 persen dari 185 ulasan kritikus.
Digger digarap Iñárritu bersama pemenang Oscar lainnya, Alexander Dinelaris dan Nicolás Giacobone, serta Sabina Berman. Meski memiliki jajaran kreator dan pemeran ternama, film tersebut tetap mendapat sejumlah kritik terkait cerita dan eksekusinya.
Kritikus Soroti Cerita Digger
Stephanie Zacharek dari TIME Magazine menilai Digger lebih banyak berusaha meyakinkan penonton mengenai kehebatan film tersebut dibandingkan menyampaikan cerita.
“Iñárritu dan pemeran utamanya bukan sedang menceritakan sebuah kisah kepada kita; mereka justru terus-menerus berusaha meyakinkan penonton tentang kegeniusan film yang mereka buat,” tulis Zacharek.
“Ini adalah film yang sengaja dirancang untuk memburu penghargaan, dengan mengesankan seolah-olah sedang menggali kebenaran, padahal yang sebenarnya dilakukan hanyalah terus mengeruk,” sambungnya.
Kritik serupa datang dari Hannah Strong dari Little White Lies. Ia menyoroti perbedaan antara kekuatan visual dan narasi yang ditawarkan Digger.
“Digger lebih menarik secara visual ketimbang naratif. Film ini tampak begitu puas dengan pencapaiannya yang sebenarnya tidak banyak, layaknya seorang miliarder yang mengharapkan rasa terima kasih atas sumbangan amal yang dapat dikurangkan dari pajak,” tulis Hannah Strong.
Moira MacDonald dari Seattle Times turut menyoroti identitas Digger sebagai film satire politik. Menurutnya, perpaduan komedi gelap, satire politik, dan drama bencana ekologis justru membuat film tersebut melelahkan.
“Waktunya tepat untuk menghadirkan satire tentang perubahan iklim, tetapi sebuah satire seharusnya membuat kita sedikit tidak nyaman, sedikit lebih berpikir, dan sedikit berubah. Digger justru hanya membuat kita kelelahan,” tulis Moira MacDonald.
Sementara itu, Manohla Dargis dari The New York Times menilai perpaduan genre dan sejumlah adegan dalam Digger belum mampu membangun kekuatan emosional yang cukup.
“Terlepas dari adegan bola mata yang mencuat, kepala yang berputar, rahang yang menganga, serta beberapa adegan yang coba diarahkan Iñárritu dengan gaya manis ala Wes Anderson, hasil akhirnya sebagian besar tetap terasa hambar dan tidak mengundang tawa,” tulis Manohla Dargis.
Kritikus Wall Street Journal, Kyle Smith, juga memberikan penilaian negatif terhadap film tersebut. Kritiknya bahkan masuk dalam daftar top criticism di Rotten Tomatoes.
“Berani, orisinal, dan penting bukan tiga kata yang langsung terlintas ketika membicarakan Digger,” tulis Kyle Smith.
Tom Cruise Jadi Sosok Egois dan Manipulatif
Digger menampilkan Tom Cruise sebagai pemeran utama dengan karakter yang berbeda dari sejumlah peran sebelumnya.
Cruise memerankan Digger Rockwell, sosok egois dan manipulatif yang berada di tengah krisis besar dan berusaha meyakinkan dunia bahwa dirinya merupakan penyelamat umat manusia.
Dalam cerita, proyek eksplorasi minyak milik perusahaan Digger di wilayah Arktik memicu bencana ekologi global. Retakan besar pada lapisan es kemudian mengancam keselamatan umat manusia.
Alih-alih mengakui kesalahan atau bertanggung jawab atas musibah yang menelan korban, Digger justru memulai misi nekat dan absurd untuk memutarbalikkan fakta.
Film yang diberi label D17+ atau untuk penonton berusia di atas 17 tahun tersebut kini tayang di bioskop.
