Jakarta – Meta Platforms resmi mengajukan gugatan hukum pada Kamis (26/2) terhadap sejumlah individu dan perusahaan di Brasil dan China yang diduga menggunakan teknologi deepfake untuk menipu pengguna.
Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut menargetkan empat pengiklan yang memalsukan identitas tokoh publik serta merek terkenal guna mempromosikan produk ilegal dan skema investasi bodong melalui platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Gugatan di Brasil
Di Brasil, Meta menggugat B&B Suplementos e Cosmeticos, Brites Academia de Treinamento, serta dua individu yang diduga menjalankan operasi penipuan produk kesehatan tanpa izin regulator. Modus yang digunakan adalah memanfaatkan wajah palsu dokter ternama untuk meyakinkan calon korban.
Bahkan, Brites dilaporkan menjual kursus yang mengajarkan taktik penipuan tersebut kepada pihak lain.
Salah satu tokoh yang namanya dicatut, ahli onkologi terkemuka Drauzio Varella, menilai langkah hukum Meta masih sangat minim. Ia menyebut platform tersebut seolah menjadi “mitra penipuan” karena dianggap turut meraup keuntungan dari penyebaran video ilegal yang menjangkau jutaan orang.
Kasus di China dan Vietnam
Sementara itu di China, Meta menggugat Shenzhen Yunzheng Technology atas dugaan menjalankan iklan “umpan selebriti” yang menyasar pengguna di AS dan Jepang untuk diarahkan ke grup investasi palsu.
Selain itu, perusahaan asal Vietnam, Ly Van Lam, juga digugat karena diduga menyebarkan iklan penipuan untuk tas mewah merek Longchamp.
Meta menegaskan, penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku kejahatan untuk meniru suara dan video tokoh publik membuat pesan penipuan daring semakin terlihat nyata dan berisiko bagi masyarakat global.

