Muaro Jambi – Polemik pelaksanaan sistem Pemira di Unja masih menjadi topik hangat di kalangan mahasiswa selama hampir dua pekan, pasalnya, pelaksanaan yang selama dua dekade dilakoni melalui sistem demokrasi (one man one vote), kini justru mendapat ancaman serius dengan adanya wacana pelaksanaan secara kongres.
Wacana tak lazim yang baru perdana muncul ini, diduga merupakan hasil skandal politik birokrasi yang melibatkan beberapa petinggi.
Menurut salah satu mahasiswa yang menjadi bagian dari gerakan “Save Demokrasi Unja”, skandal politik yang sedang dilakoni petinggi kampus saat ini menjadi catatan kelam yang menodai sejarah demokrasi di Universitas Jambi (Unja).
Ia juga menyebutkan, wacana kongres yang tengah dipaksa merupakan bentuk pembodohan terhadap daya nalar dan kritis mahasiswa.
“Kami sebagai mahasiswa yang waras tentu menolak pelaksanaan Pemira dengan sistem kongres, yang terang-terangan mencerminkan sistem oligarki,” sebut Harsa.
Harsa meyakini, pelaksanaan kongres pada Pemira hanya sekedar rekayasa politik yang lahir dari skandal busuk birokrasi.

