Yogyakarta — Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyebut fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tidak terjadi secara tiba-tiba.
Dwikorita menduga masyarakat setempat tidak menyadari fase awal pergerakan tanah tersebut. Berdasarkan kondisi di lapangan, ia memperkirakan gejala tanah gerak telah berlangsung sejak sekitar satu tahun terakhir.
“Itu biasanya mestinya tidak mendadak seperti itu. Itu gerakannya tuh ada awalnya, awalnya tuh nggak ketara, cuma rayapan retakan kecil. Tapi kalau bertahun-tahun menjadi parah seperti itu,” kata Dwikorita saat dihubungi, Selasa (10/2).
Ia menambahkan bahwa fenomena tanah gerak umumnya membutuhkan waktu cukup panjang sebelum mencapai kondisi parah seperti yang terjadi saat ini.
“Jadi dugaan saya itu sebelumnya sudah pernah, mungkin pada nggak tahu ya, atau terabaikan ya. Kok sampai parah, jadi itu nggak ujug-ujug begitu tuh nggak. Biasanya tuh perlu waktu beberapa tahun bisa seperti itu. Minimal setahun lebih lah,” sambungnya.
Dwikorita menjelaskan, secara umum terdapat empat tipe pergerakan tanah. Namun, berdasarkan karakteristik yang muncul di Desa Padasari, ia menilai peristiwa tersebut termasuk dalam kategori rayapan tanah.
“Yang anda sebut tanah bergerak (di Tegal) itu sebenarnya rayapan tanah,” tegasnya.
Rayapan tanah memiliki ciri pergerakan yang sangat lambat dan dapat terjadi pada lereng landai, bahkan di area yang relatif datar. Kondisi ini berbeda dengan longsor yang umumnya terjadi di lereng curam dengan kecepatan tinggi dan risiko fatalitas besar.
Menurutnya, meski rayapan tanah tidak langsung memicu korban jiwa, dampaknya tetap berbahaya karena merusak infrastruktur secara perlahan.
“Yang bahaya itu kalau merusak rumah, rumahnya bisa terpotong turun sebagian dan rumahnya bisa ambruk. Nah, ambruknya rumah itu yang bisa membunuh. Jadi bukan karena rayapan. Jadi yang di Tegal itu tipenya rayapan karena pergerakannya lambat,” jelas pakar geologi yang juga mantan Rektor Universitas Gadjah Mada itu.
Dwikorita menuturkan, faktor utama pemicu rayapan tanah di wilayah tersebut adalah karakter geologi berupa lempung biru (blue clay) yang mengandung mineral montmorillonite. Jenis lempung ini sangat sensitif terhadap air, mudah mengembang saat basah dan mengeras saat kering.
Formasi geologi serupa, kata dia, tidak hanya ditemukan di Tegal, tetapi juga meluas hingga wilayah Grobogan dan Ngawi, Jawa Timur.
“Itu jenis lempung yang apabila kena air bisa mengembang, volumenya berkembang bisa sampai delapan kali lipat dari volume awal. Bahasa Jawanya itu jadi mlenyok (melunak) ya. Jadi seperti pasta gigi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tanah di atas lapisan lempung biru akan ikut bergerak ketika lempung tersebut jenuh air.
“Yang bergerak itu lapisan lempung di bawahnya, nah tanahnya itu tumpukan yang ada di atasnya sehingga tanah itu ikut bergerak merayap,” jelas Dwikorita.
Selain faktor geologi, tingginya curah hujan belakangan juga dinilai mempercepat kejenuhan lempung biru sehingga membuat tanah menjadi labil. Keberadaan bangunan dan infrastruktur di atas tanah tersebut turut memperparah kondisi.
“Beban bangunan, beban di atas tanah itu juga memperparah kondisi itu untuk bergerak,” tutupnya.
Fenomena tanah bergerak di Desa Padasari terjadi sejak pekan lalu dan telah merusak ratusan rumah warga serta berbagai fasilitas publik. Pemerintah setempat memutuskan melakukan relokasi warga demi alasan keselamatan.
Kepala Desa Padasari, Mashuri, menyebut pergerakan tanah masih terus berlangsung sejak Senin (2/2) hingga Senin (8/2). Data sementara mencatat sebanyak 464 rumah terdampak, dengan rincian 205 rusak berat, 174 rusak sedang, dan 85 rusak ringan.
Selain itu, kerusakan juga meliputi fasilitas sosial, tempat ibadah, sekolah, kantor pemerintahan, serta infrastruktur jalan, bendung irigasi, dan jembatan desa.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, masih aktif hingga Senin (9/2). Jumlah pengungsi dilaporkan terus bertambah dan telah melampaui 2.000 jiwa.

