Jakarta — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama sejumlah pihak mengungkap keberadaan Sesar Cisadane yang berada di wilayah Jabodetabek. Temuan ini menunjukkan jejak aktivitas tektonik yang pernah membelah gunung dan berpotensi berdampak bagi wilayah sekitarnya.
Sesar Cisadane merupakan salah satu sesar yang mengapit Jakarta bersama Sesar Baribis dan Sesar Citarik. Sesar ini menyimpan catatan tektonik penting yang menunjukkan pergerakan kerak bumi di masa lalu.
Untuk menelusuri keberadaannya, Badan Geologi bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG), BPBD Kabupaten Bogor, serta PT Oseanland melakukan ekspedisi lapangan ke Gunung Nyungcung di Rumpin, Kabupaten Bogor. Lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta.
“Bukit dengan ketinggian 240 meter di atas permukaan laut ini merekam jejak Sesar Cisadane, nama yang mungkin masih asing di telinga warga Jabodetabek,” tulis Badan Geologi dalam video yang diunggah melalui akun Instagram resminya, Jumat (6/2).
Dalam penelitian tersebut, para peneliti memanfaatkan berbagai metode, mulai dari analisis data gaya berat, data seismik bawah permukaan, pengamatan geologi permukaan, hingga metode langitan menggunakan drone yang dilengkapi sensor LiDAR.
Kombinasi data VTOL LiDAR untuk cakupan area luas serta SLAM LiDAR untuk detail mikro memungkinkan interpretasi kondisi geologi yang lebih menyeluruh.
“Dari berbagai metode tersebut menunjukkan adanya sesar mendatar berarah relatif barat laut–tenggara. Karena posisinya mengikuti aliran Sungai Cisadane, maka patahan ini diberi nama Sesar Cisadane,” terang narator dalam video tersebut.
Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu digunakan sebagai acuan awal dalam penelusuran bukti keberadaan sesar ini. Wilayah sekitar Gunung Nyungcung diketahui tersusun atas beberapa jenis batuan, terutama batu pasir gampingan, yang mengindikasikan kawasan tersebut merupakan dasar laut yang terangkat.
Pengangkatan batuan tersebut serta kemunculan Gunung Nyungcung juga menjadi indikasi adanya sesar naik dengan pola Sesar Baribis yang berarah barat–timur. Pola ini sejajar dengan Gunung Panjang yang berada di sisi timur Gunung Nyungcung.
Kedua gunung tersebut disebut sama-sama tersusun dari batu pasir gampingan yang diterobos batuan beku.
“Artinya, di masa lalu, kedua gunung ini saling terhubung, hingga suatu masa keduanya terpisahkan oleh Sungai Cisadane. Terpisahnya kedua gunung ini menunjukkan adanya faktor tektonik, yaitu Sesar Cisadane,” jelas narator.
“Sesar ini diperkirakan memanjang dari Bogor hingga pesisir Tangerang, dan diduga potensi aktif, seperti terekam di penampang seismik,” tambahnya.
Ekspedisi kemudian dilanjutkan ke Gunung Panjang. Di lokasi ini, peneliti kembali menemukan indikasi bahwa wilayah tersebut dulunya merupakan laut dangkal yang terangkat akibat aktivitas tektonik. Hal itu diketahui dari temuan sampel batuan serta banyaknya fosil moluska.
“Ini menjadi bukti kalau jutaan tahun yang lalu, daerah ini merupakan laut dangkal. Dasar laut ini kemudian terangkat oleh faktor tektonik yaitu pola Sesar Baribis atau yang belakangan dikenal West Java Back Arch Thrust,” ujar narator.
Berdasarkan berbagai pengamatan, Gunung Panjang dan Gunung Nyungcung diperkirakan pernah saling terhubung sebelum akhirnya terpisah oleh Sungai Cisadane akibat aktivitas sesar mendatar atau geser berarah barat laut–tenggara yang kemudian dinamakan Sesar Cisadane.
“Jejak sesar tersebut terekam di puncak Gunung Panjang berupa rekahan memanjang berarah barat laut–tenggara. Jika ditarik ke arah barat laut, rekahan ini mengarah ke wilayah Tangerang Selatan dan diperkirakan memotong batuan berumur Kuarter,” ungkapnya.
Pada celah rekahan tersebut juga ditemukan mata air panas yang kemudian dimanfaatkan masyarakat sebagai pemandian. Bentang alam berupa kubah memanjang di atas sesar Gunung Panjang menjadi bukti visual keberadaan pola Sesar Cisadane.
Berdasarkan hasil pengamatan sementara, para peneliti menyimpulkan bahwa Sesar Cisadane berstatus berpotensi aktif.
Perlu Waspada, Namun Tidak Panik
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa Sesar Cisadane merupakan sesar tua yang terbentuk sekitar 5 juta tahun lalu.
“Sesar Cisadane memang ada, dengan arah umum barat laut–tenggara searah Sungai Cisadane,” kata Lana, dikutip Sabtu (7/2).
Menurutnya, keberadaan retakan memanjang di Gunung Panjang yang searah dengan alur Sungai Cisadane menjadi bukti tambahan keberadaan sesar tersebut.
Meski demikian, Lana menegaskan bahwa sesar ini belum tentu aktif. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lintasan sesar.
“Dengan adanya deretan rawa alami searah dengan retakan di Gunung Panjang, dan retakan tersebut memotong batuan Kuarter, keberadaan sesar tersebut perlu diwaspadai,” ujarnya.
Lana menekankan masyarakat tidak perlu panik. Warga diminta tetap tenang serta mengikuti arahan dan informasi resmi dari BPBD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab terkait gempa bumi maupun tsunami.
“Bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa untuk menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi,” kata Lana.

