Penulis : Redaksi

Jakarta — Setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020, kini Suriah mulai membuka peluang dialog dengan negara tersebut.

Selama ini, Suriah belum memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel. Namun di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed Al Sharaa, pemerintah Suriah mulai mempertimbangkan negosiasi jangka panjang.

Sharaa menyatakan pihaknya membuka kemungkinan dialog terkait Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang masih diduduki Israel.

Sejak Sharaa berkuasa setelah kejatuhan Bashar Al Assad pada Desember 2024, Israel dilaporkan mengirim pasukan ke zona penyangga di wilayah tersebut yang diawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Suriah menyatakan keinginan untuk membangun kesepakatan baru terkait keamanan.
“Jika kita mencapai kesepakatan, kita bisa memasuki negosiasi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah Dataran Tinggi Golan,” ujar Sharaa dalam forum diplomatik di Antalya, Turki, dikutip AFP.

Ia juga menilai Israel telah melanggar perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974, sehingga diperlukan kesepakatan baru yang dapat menjamin keamanan kedua pihak.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al Shaibani mengungkapkan bahwa negosiasi telah berlangsung, meski belum mencakup isu Dataran Tinggi Golan secara menyeluruh.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pihaknya tidak berniat mengembalikan wilayah tersebut kepada Suriah.

Dataran Tinggi Golan sendiri direbut Israel dari Suriah dalam Perang Arab-Israel 1967 dan kemudian dicaplok.

Bagian dari Tren Normalisasi

Langkah Suriah ini dinilai menjadi bagian dari tren normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel, yang sebelumnya difasilitasi melalui kesepakatan Abraham Accords.

Selain UEA, Bahrain, dan Maroko, negara lain yang telah menjalin hubungan dengan Israel antara lain Mesir, Yordania, dan Sudan.