Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi membuka kembali Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah, Jakarta Pusat, setelah rampung direvitalisasi.
Mengusung konsep infrastruktur inklusif, JPO yang dikenal sebagai jembatan penyeberangan pertama dan bersejarah di Ibu Kota ini kini hadir dengan wajah baru. Desainnya diperbarui agar lebih ramah bagi penyandang disabilitas serta memberikan pilihan akses yang lebih beragam bagi masyarakat.
“Hari ini kita melakukan revitalisasi agar JPO ini menjadi ramah terhadap disabilitas dan juga semua orang mempunyai pilihan,” ujar Pramono di JPO Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (2/3).
Revitalisasi ini dilakukan untuk memastikan kesetaraan akses ruang publik bagi seluruh warga. Selain itu, pembaruan tersebut juga bertujuan mengakomodasi kebutuhan pejalan kaki di kawasan pusat kota yang padat aktivitas.
Pramono menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan fasilitas pendukung yang terintegrasi agar masyarakat, khususnya kelompok rentan, memiliki alternatif penyeberangan yang aman dan nyaman.
“Apakah mau menggunakan lift ataukah menggunakan pelican cross yang tetap kita operasikan. Sehingga dengan demikian, masyarakat yang suka berjalan akan punya pilihan untuk menyeberang,” ujarnya.
“Tetapi bagi yang berkebutuhan khusus atau disabilitas bisa memanfaatkan ini dan sebagainya. Dan ini juga untuk publik bisa memanfaatkan,” sambung Pramono.
Selain menghadirkan lift khusus difabel di JPO, penataan kawasan juga mencakup area di bawah jembatan. Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Welfizon Yuza, menyampaikan bahwa trotoar di sekitar lokasi akan diperlebar hingga sekitar 2,6 meter.
“Ini tahap satu, tahap duanya nanti ultimate-nya setelah reinstatement pedestrian yang akan dilakukan MRT itu kira-kira di bulan Mei,” ujar Welfizon Yuza.
“Jadi di bulan Mei nanti akan ada pelebaran trotoar lebih kurang 2,6, sehingga nanti akses pedestriannya akan menjadi punya space yang lebih lega,” lanjutnya.
Perluasan trotoar tersebut diharapkan memberi ruang gerak lebih luas bagi pejalan kaki sekaligus memudahkan akses masyarakat yang ingin berkunjung ke kawasan Sarinah.
“Karena Sarinah ini kan heritage, sehingga dengan demikian pilihan orang untuk berbelanja atau pergi ke Sarinah akan menjadi semakin mudah,” kata Pramono.
Sebagai informasi, JPO Sarinah dibangun pada 1968 pada masa Gubernur Ali Sadikin dan tercatat sebagai JPO pertama di Jakarta.
Pada periode Gubernur Basuki Tjahaja Purnama antara 2016-2017, koridor pejalan kaki Sudirman–Thamrin sempat ditata dengan konsep ramah difabel.
Kemudian pada 2022, di era kepemimpinan Anies Baswedan, JPO tersebut dibongkar dan ditutup dengan pertimbangan estetika kota agar pandangan ke arah Patung Selamat Datang dan gedung-gedung bersejarah tidak terhalang.
Sebagai pengganti, pelican cross diterapkan karena dinilai lebih ramah bagi penyandang disabilitas, lansia, serta ibu hamil.

