Penulis : Redaksi

Investasi Besar, Efektivitas Dipertanyakan

Besarnya alokasi dana untuk penguatan sistem IT kini menjadi perhatian publik. Selain Rp25 miliar untuk penguatan sistem, bank juga diketahui mengeluarkan anggaran besar untuk pengadaan software, infrastruktur, serta biaya pemeliharaan tahunan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa sistem dengan investasi besar tetap tidak mampu mencegah insiden berskala besar?

Sejumlah pihak menilai kemungkinan adanya celah dalam implementasi sistem, lemahnya pengawasan, atau ketidaksiapan menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.

Penelusuran Dana Disorot, Peran Bank Dipertanyakan

Dalam perkembangan kasus, PPATK dan OJK disebut turut membantu menelusuri aliran dana yang diduga terkait dengan insiden ini.

Namun, keterlibatan kedua lembaga tersebut justru memunculkan pertanyaan baru. Dalam praktik perbankan, fungsi pemantauan transaksi dan penghentian aliran dana mencurigakan seharusnya menjadi tanggung jawab utama pihak bank sebagai garis pertahanan pertama.

Pengamat menilai, jika aliran dana sempat berpindah dan menyebar sebelum berhasil diidentifikasi, hal itu dapat mengindikasikan keterlambatan atau belum optimalnya sistem deteksi dini dan respons internal bank.

“Peran PPATK dan OJK memang penting dalam aspek analisis dan pengawasan. Namun secara operasional, bank seharusnya menjadi pihak yang paling awal mendeteksi dan menghentikan transaksi mencurigakan,” ujar salah satu sumber yang mengikuti perkembangan kasus ini.