Penulis : Redaksi

Jakarta — Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele ternyata dapat meningkatkan risiko munculnya infeksi saluran kemih (ISK). Mulai dari menahan buang air kecil hingga pilihan pakaian dalam, berbagai hal sederhana ini bisa berdampak pada kesehatan saluran kemih.

Perempuan secara anatomi memang lebih rentan terhadap ISK karena memiliki uretra yang lebih pendek, sehingga bakteri lebih mudah mencapai kandung kemih.

Namun di luar faktor anatomi tersebut, ada sejumlah kebiasaan dan kondisi kesehatan tertentu yang dapat memperbesar peluang terjadinya ISK. Kondisi ini umumnya ditandai dengan rasa perih saat buang air kecil, nyeri, serta dorongan untuk berkemih yang terus-menerus.

Melansir berbagai sumber, berikut tujuh kebiasaan yang berpotensi memicu ISK.

1. Menahan Buang Air Kecil

Mengutip Everyday Health, kebiasaan menunda buang air kecil saat sibuk bekerja atau bepergian dapat membuat urine tertahan terlalu lama di kandung kemih. Kondisi ini menyebabkan urine “terjebak” dan memberi kesempatan bakteri berkembang biak.

Profesor kebidanan dan kandungan, Jill Maura Rabin, menjelaskan bahwa sisa urine yang tidak dikeluarkan sepenuhnya dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Mengosongkan kandung kemih secara tuntas membantu mengurangi risiko penumpukan bakteri yang bisa memicu peradangan atau infeksi.

2. Rutin Bersepeda

Bersepeda, baik sebagai olahraga maupun sarana transportasi, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko ISK pada perempuan. Sebuah studi menemukan bahwa perempuan yang rutin bersepeda lebih sering melaporkan riwayat ISK dibandingkan mereka yang tidak.

Thomas Gaither, peneliti utama studi tersebut, menyebut salah satu teorinya adalah tekanan pada area genital saat bersepeda yang dapat mempermudah kontaminasi bakteri ke uretra.

3. Konsumsi Obat Tertentu

Beberapa jenis obat seperti antihistamin, dekongestan, antipsikotik, dan obat antikolinergik dapat menyebabkan retensi urine atau kesulitan mengosongkan kandung kemih. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko ISK.

Meski demikian, Rabin menegaskan pasien tidak perlu menghentikan konsumsi obat tanpa konsultasi medis. Meningkatkan asupan cairan dan memastikan kandung kemih benar-benar kosong setiap kali buang air kecil tetap menjadi langkah penting.

4. Cara Membersihkan yang Keliru

Cara membasuh atau menyeka area genital setelah buang air besar juga berpengaruh. Menyeka dari belakang ke depan dapat memindahkan bakteri dari anus ke uretra.

Sebuah studi pada perempuan pramenopause yang rentan ISK menunjukkan bahwa kebiasaan menyeka dari belakang ke depan meningkatkan risiko ISK hingga 64 persen. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri E. coli yang hidup di usus.

Karena itu, menyeka dari depan ke belakang tetap menjadi prinsip dasar kebersihan untuk mencegah perpindahan bakteri.

5. Kurang Minum Air

Dikutip dari Science Alert, dehidrasi membuat urine menjadi lebih pekat dan dapat mengiritasi lapisan kandung kemih, sehingga meningkatkan risiko infeksi.

Konsumsi air enam hingga delapan gelas atau sekitar 1,5–2 liter per hari dianjurkan. Jika memiliki aktivitas fisik tinggi, jumlah tersebut bisa ditingkatkan sesuai kebutuhan.

6. Terlalu Banyak Kafein dan Alkohol

Konsumsi kafein dan alkohol berlebihan dapat mengiritasi kandung kemih dan bertindak sebagai diuretik ringan yang meningkatkan produksi urine.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi lebih dari 450 mg atau sekitar empat cangkir kafein per hari dapat memicu inkontinensia. Studi lain juga menemukan bahwa pria yang mengonsumsi enam hingga sepuluh minuman beralkohol per minggu lebih mungkin mengalami gejala saluran kemih bagian bawah.

7. Pakaian Dalam Terlalu Ketat

Penggunaan pakaian dalam yang terlalu ketat dapat memerangkap bakteri di area genital. Tekanan pada jaringan sensitif juga dapat meningkatkan risiko infeksi vagina dan ISK.

Jarak antara uretra, vagina, dan anus hanya beberapa sentimeter. Kondisi hangat dan lembap akibat pakaian dalam ketat dapat memudahkan bakteri berkembang.

ISK memang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan nyeri. Meski tidak semua faktor risiko dapat dikendalikan, sejumlah kebiasaan sederhana bisa membantu menurunkan risiko.

Mengosongkan kandung kemih secara tuntas, minum air putih yang cukup, menjaga kebersihan area genital dengan cara yang benar, serta memilih pakaian dalam yang nyaman dan tidak terlalu ketat merupakan langkah pencegahan yang dapat dilakukan sehari-hari.

Jika muncul gejala seperti rasa terbakar saat buang air kecil, nyeri di perut bagian bawah, atau dorongan berkemih yang terus-menerus, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting. Penanganan dini dapat mencegah infeksi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.