JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA ditutup melemah 1,68% ke level Rp 8.775 pada perdagangan Kamis (14/8/2025). Tercatat 122,93 juta saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi 27.926 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 1,08 triliun.
Pergerakan saham BBCA terpantau didominasi aksi distribusi. Broker Maybank Sekuritas mencatat net sell Rp 117,1 miliar, sementara UBS Sekuritas Indonesia membukukan net sell Rp 115,3 miliar. Investor asing juga tercatat melakukan net sell sebesar Rp 46,5 miliar.
Saham BCA terkoreksi setelah sebelumnya menguat pada tiga hari berturut-turut (11–13 Agustus 2025). Meski demikian, secara mingguan saham BBCA masih mencatat kenaikan 5,72%.
MNC Sekuritas menyebutkan saham BBCA yang terkoreksi 1,68% ke Rp 8.775 saat ini masih berada dalam tekanan jual.
“Kami perkirakan posisi BBCA saat ini berada pada bagian dari wave iv dari wave (a) dari wave [b],” tulis MNC Sekuritas dalam risetnya, Jumat (15/8/2025).
Broker tersebut merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham BBCA di kisaran harga Rp 8.625–8.725 dengan target harga Rp 9.025 dan Rp 9.200, serta stop loss di bawah Rp 8.450.
Pandangan Lo Kheng Hong: BCA Adalah ‘Wonderful Company’
Dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2023 bertajuk Seminar Utama: Investor sebagai Pemenang di Tahun Politik pada Oktober 2023 lalu, investor senior Lo Kheng Hong menyebut BCA sebagai wonderful company. Alasannya, selama 23 tahun terakhir, saham BBCA terus mencatat kenaikan.
Kinerja dan Proyeksi Harga Saham
BCA membukukan laba bersih Rp 14,9 triliun pada kuartal II-2025 atau tumbuh 6% secara tahunan (yoy) dan 5% secara kuartalan (qoq). Secara kumulatif, laba bersih semester I-2025 mencapai Rp 29 triliun, tumbuh 8% dibandingkan tahun lalu. Realisasi tersebut sejalan dengan ekspektasi konsensus, yakni sekitar 50% dari estimasi laba 2025.
Stockbit Sekuritas mencatat, kinerja BCA pada 2Q25 dan 1H25 relatif stabil dibandingkan 1Q25, dengan fokus pada kualitas kredit.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas menilai pertumbuhan laba BBCA sebesar 8% yoy pada semester I-2025 disertai return on equity (ROE) stabil di 23%. Manajemen BCA juga menyesuaikan proyeksi biaya kredit menjadi 0,3%–0,5% (sebelumnya 0,3%) sebagai langkah antisipasi.
“Momentum pertumbuhan kredit tetap solid seiring upaya bank mencapai komposisi aset optimal, sementara rasio NPL dan tren LAR terus membaik meskipun ada volatilitas makro,” tulis Mandiri Sekuritas dalam Investor Digest, Kamis (31/7/2025).
Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 11.000.