Mereka juga mendesak transparansi dalam proses penegakan aturan agar tidak ada kesan pembiaran terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pihak tertentu.
“Kami menuntut Dinas PUPR untuk menjalankan fungsinya dengan benar. Jika regulasi sudah jelas dilanggar, seharusnya ada tindakan nyata, bukan hanya janji,” ujar Dandi selaku koordinator aksi.
Namun, setelah aksi berakhir, kericuhan tiba-tiba pecah di halaman Kantor PUPR Kota Jambi. Ketegangan muncul saat seorang pegawai PUPR yang tidak disebutkan namanya bertindak arogan terhadap massa aksi yang sedang duduk.
Menurut saksi mata, pegawai tersebut dengan nada tinggi dan kasar menuduh massa aksi rasis tanpa alasan yang jelas. Sikap pegawai ini memicu protes keras dari para peserta aksi.
“Kami sudah selesai aksi, tiba-tiba datang menuduh kami rasis tanpa alasan,” ujarnya.
Keributan semakin memanas, dan pihak kepolisian segera turun tangan untuk menenangkan situasi. Oknum pegawai PUPR yang terlibat langsung diamankan dan dibawa ke dalam kantor untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

